PENYEDIAAN NAUPLII ARTEMIA

Kebutuhan Artemia sebagai pakan hidup bagi pasca larva udang merupakan persyaratan yang mutlak disediakan, karena sampai saat ini kedudukan Artemia belum dapat digantikan dengan yang lain. Cyst yang disediakan untuk pakan tersebut perlu ditetaskan terlebih dahulu. Adapun kualitas penetasan cyst dapat dilihat dari berbagai penilaian, yaitu :
- Hatching Efficiency (HE) yaitu banyaknya nauplii yang menetas dari 1 gram cyst Artemia.
- Hatching Percentage (H %) ialahjumlah nauplii yang menetas dibandingkan dengan jumlah cyst yang digunakan.
- T0 : Masa inkubasi yang diperlukan sampai terjadi penetasan nauplii yang pertama.
- T90 : Masa inkubasi yang diperlukan hingga mencapai 90 % penetasan.
















Gambar 8. Cyst Artemia
Gambar 9. nauplii artemia yang baru menetas

Dalam prakteknya, penyediaan pakan hidup Artemia harus melalui proses dekapsulasi terlebih dahulu, karena akan diperoleh beberapa keuntungan, yaitu :
- Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst sudah dihilangkan.
- Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
- Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit.
- Dapat langsung digunakan untuk makanan larva.
- mengurangi jumlah tenaga kerja.
Adapun langkah-langkah prosedur dekapsulasi adalah sebagai berikut :

1. Hidrasi cyst
2. Perlakuan dalam larutan hipokhlorit
3. Pencucian dan diaktivasi residu khiorin
4. Dapat digunakan secara langsung sebagai makanan atau didehidrasi untuk penyimpanan.
1. Hydrasi Cyst
Penghilangan lapisan khorion yang sempuma hanya dapat dilakukan jika cyst berbentuk bulat. Untuk mendapatkan keadaan itu, cyst harus dibiarkan menggembung dengan cara hidrasi. Umumnya hidrasi penuh dapat tercapai setelah 1 - 2 jam dengan air tawar atau air laut (maksimal 35 permil) pada suhu 25°C.

2. Perlakuan dalam Larutan Hipokhlorit
Untuk perlakuan dekapsulasi, dapat digunakan larutan NaOCI atau Ca (OCl)2 yang lebih dikenal dengan kaporit. Jika NaOCI yang digunakan, maka Natrium dan OCl terionisasi dalam larutan dan terbentuk HOCl dalam air, sedangkan jika Ca (OCl)2 yang digunakan akan dihasilkan 2 ion OCl untuk setiap molekul hipokhlorit. Dapat dikatakan bahwa OCl berperan dalam khorion, tetapi hal ini masih belum pasti. Aktivitas dan konsentrasi maksimal adalah pada PH 10, dibandingkan pada PH rendah. 0,5 gram bahan aktifdan 14 ml larutan dekapsulasi diperlukan untuk dekapsulasi 1 gram cyst. Di banyak negara, Ca (OCl)2, lebih murah sebagai sumber khiorin aktifdaripada Na Ocl2 Ca (OCl)2 merupakan produk yang lebih stabil daripada Na OCl dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Aktivitas Ca (OCl)2 biasanya tepat seperti yang dinyatakan dalam label dari produk komersial (umumnya 70 % bahan aktif). Aktivitas larutan Na OCl dapat ditentukan dengan mengukur indeks refraktif pada refraktometer. Nilainya adalah :

Y = 3000 X- 4003
Y = Aktivitas Na OCl dalam gram per liter
X = Indeks refraktif.
Dengan Na OCl, 0, 15 gram NaOH teknis (0,33 ml, 40 % larutan) harus ditambahkan dalam tiap gram cyst untuk meningkatkan PH larutan dekapsulasi sampai sekitar 10. Jika yang digunakan Ca(OCl)2 maka 0,67 gram Na2CO3 atau 0,4 gram CaO harus dibuat dengan air laut 35 permil. Untuk Ca (OCl)2, yang digunakan adalah cairannya saja, dengan cara mencampurkannya dengan air laut, volume telah ditentukan dan diaerasi kuat selama sekitar 10 menit. Selanjutnya aerasi dimatikan dan suspensi dibiarkan mengendap serta cairan yang mengandung larutan Ca (OCl)2, dapat digunakan untuk dekapsulasi.
Setelah pemindahan cyst dalam larutan dekapsulasi, maka harus dipertahankan dalam keadaan suspensi dengan aerasi secara kontinu. Dalam beberapa menit mulai terjadi reaksi oksidasi eksotermik dan tumbuh busa. Sejalan dengan larutnya khorion, terjadi perubahan warna cyst, yaitu dari coklat tua ke abu-abu, kemudian oranye. Selama dekapsulasi, temperatur harus diperiksa secara teratur dan es harus ditambahkan untuk mencegah peningkatan temperatur di atas 40°C. Jika cyst dipertahankan dalam larutan dekapsulasi, akan membunuh embrio. Oleh karena itu, cyst harus dipindahkan segera dari larutan setelah proses selesai. Penyelesaian proses dapat dilakukan dengan pengamatan secara periodik setelah adanya perubahan warna dari cyst yang didekapsulasi.

3. Pencucian dan Diaktivasi Residu Khiorin
Selama perlakuan, larutan dekapsulasi bereaksi terhadap khorion cyst. Akibat reaksi tersebut, terbentuk beberapa senyawa organokhiorin yang melekat pada cyst hasil dekapsulasi yang dapat mengurangi kualitas dan kegunaan cyst yang didekapsulasi. Oleh karena itu, setelah pencucian dapat ditambahkan 1 % Na2S203, sebanyak 0,5 ml/gram cyst sehingga membentuk persenyawaan yang larut dengan persenyawaan organokhlorin. Dengan demikian dapat menghilangkan sisa-sisa larutan dekapsulasi pada cyst tersebut.

4. Penggunaan Langsung Cyst atau Dehidrasi untuk Penyimpanan
Cyst hasil dekapsulasi dapat diberikan langsung kepada predator jika diperlukan. Cyst ini dapat disimpan untuk beberapa hari dalam refrigerator pada suhu 0 - 4°C. Karena dapat tenggelam dalam air tawar maupun air laut, maka waktu digunakan langsung sebagai pakan predator, diperlukan aerasi dan sirkulasi cukup untuk mempertahankan cyst dalam suspensi. Untuk penyimpanan cyst hasil dekapsulasi, dehidrasi hams dilakukan setelah selesai prosedur diaktivasi dan pencucian. Untuk itu, cyst harus dipertahankan dalam larutan jenuh Nad (± 330 gram/liter). Setelah sekitar 3 jam, larutan garam harus diganti untuk mengefektifkan dehidrasi. Jika didehidrasi, cyst dekapsulasi akan menjadi seperti biji kopi dan tenggelam walaupun dalam larutan garam jenuh. Cyst dekapsulasi yang terhidrasi ini harus ditiriskan dan dengan menggunakan saringan 120 mikron, dipindahkan ke dalam wadah plastik, ditambahkan larutan garam dan disimpan dalam refrigerator atau freezer.
Penyimpanan cyst dekapsulasi dalam larutan garam mempunyai keterbatasan. Selama 6 bulan pertama setelah dekapsulasi, cyst masih dapat mempertahankan daya tetas maksimalnya, sekalipunj ika disimpan pada temperatur 20°C.Untukperiode yang lebih lama, kelangsungan hidup cyst tampaknya menurun. Penurunan daya tetas cyst dekapsulasi yang disimpan dalam larutan garam mungkin disebabkan oleh kandungan aimya yang relatif tinggi (sekitar 20 %). Penyimpanan untuk waktu yang lama dari cyst dekapsulasi kering (kandungan air di bawah 5%) memungkinkan jika disimpan dalam keadaan kering dalam media yang bebas oksigen (wadah diisi nitrogen atau hampa udara).

sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna