Outlook Perikanan 2012: Industrialisasi perikanan budidaya

Sunday, February 19, 2012

Pengembangan komoditas perikanan budidaya unggulan menjadi produk-produk bernilai tambah yang berorientasi pasar.

Beberapatahun terakhir, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telahmenempatkan sub sektor perikanan budidaya sebagai primadona pembangunanperikanan nasional. Hal ini tidak terlepas dari besarnya potensiperikanan budidaya yang belum digali dan dimanfaatkan secara optimal.
Disisilain akuakultur Indonesia saat ini juga membutuhkan sentuhanindustrialisasi dalam berbagai aspek. Industrialisasi yang dimaksudmeliputi dukungan kebijakan, infrastruktur, permodalan, teknologi, darihulu sampai hilir. Konsep ini dibahas lebih mendalam dalam acaraseminar Outlook Perikanan yang bertema “Industrialisai Perikanan:Peluang dan Tantangan Bagi Usaha Budidaya” di di Hotel Menara PeninsulaJakarta (18/1).
Seminar yang diadakan untuk yang keempat kalinya inimenghadirkan Men KP (Menteri Kelautan dan Perikanan) Sharif CicipSutardjo sebagai keynote speaker sekaligus membuka seminar. Acaratahunan ini terselenggara atas kerjasama TROBOS dengan AsosiasiProdusen Pakan Indonesia (GPMT).

Dalamsambutannya Cicip mengemukakan, konsep Industrialisasi kelautan danperikanan sendiri merupakan sebuah proses perubahan sistem produksihulu dan hilir. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah,produktivitas, dan skala produksi sumberdaya kelautan dan perikanan,melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasiantara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistemusaha dan investasi, Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), serta SDM(Sumber Daya Manusia) untuk kesejahteraan rakyat.


Catatan kinerja 2011
Berdasarkandata KKP, produksi perikanan budidaya menunjukkan grafik positif berupakenaikan signifikan, dari produksi sebesar 4,78 juta ton pada 2010meningkat menjadi 6,97 juta ton pada 2011. Dalam presentasinya, KetutSugama Direktur Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan pada 2012perikanan budidaya diharapkan menyumbang lebih dari 50 % pencapaiantarget nasional.

MenurutKetut, pencapaian produksi paling besar yaitu untuk budidaya ikankerapu yang mencapai 12,4 ribu ton atau 138 % dari target 9 ribu tonpada 2011. Secara umum komoditas perikanan budidaya (seperti rumputlaut, ikan patin, lele, mas, nila, dan gurami) produksinya lebih tinggidari 2010. Hanya untuk komoditas udang (vannamei dan windu) terlihatangka produksi yang lebih rendah yaitu pada 2010 mencapai 375 ribu ton,sementara sampai Oktober 2011 hanya 259 ribu ton. Ketut optimismenargetkan angka produksi budidaya di 2012 akan mencapai 9,4 juta ton.
Menyorotikinerja perikanan 2011, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI)Rokhmin Dahuri yang hadir sebagai pembicara menuturkan, saat ini masihsekitar 805 tambak rakyat d ikawasan pantura dalam keadaan mangkrak diPantura (Pantai Utara Jawa). “Revitalisasi tambak udang jangan hanyatambak modern saja tetapi juga tugas pemerintah juga merevitalisasitambak rakyat,” tegasnya. Tidak hanya itu, pengelolaan, pengolahaanproduk perikanan juga harus diimbangi degan ilmu pengetahuan danteknologi yang modern.
Rokhminmengutarakan, total potensi produksi akuakultur Indonesia sebesar 57,7juta ton/tahun dan produksi 5,4 juta ton (9%). Dengan potensi produksiakuakultur terbesar di dunia dan permintaan terhadap berbagai jenisproduk akuakultur yang terus meningkat, lanjut Rokhmin, mestinyaperikanan budidaya bisa menjadi primemover (penghela) yang mampumenciptakan pertumbuhan ekonomi berkualitas secara berkelanjutan untukmewujudkan Indonesia yang maju, adil-makmur, dan mandiri.
Sementaradari kacamata pelaku budidaya udang, Ketua Shrimp Club Banyuwangi HardiPitoyo mengungkapkan, total produksi udang 2011 untuk tambak semiintensif dan intensif dalam grup SCI sekitar 116.800 ton. “Konsistensipemerintah dalam melakukan larangan impor berdampak pada meningkatnyagairah petani tambak dalam meningkatkan produksi dan melakukanrevitalisalisasi tambaknya secara alamiah,” kata Hardi.
Hardiberharap untuk 2012 budidaya udang nasional dapat mempertahankankemandirian produksi. “Dengan kata lain no import,” tegas Hardi. Iamenambahkan, pada 2011 di pasar Amerika Serikat, ekspor udang Indonesiasudah diperingkat 2. “Pencapaian itu merupakan murni hasil produksisendiri dengan upaya yg lebih serius rasanya akan mudah jadi produsenudang nomor 1 dunia,” kata Hardi.
Laludari sisi pelaku pengolahan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahandan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I) Thomas Darmawan mengatakan,kapasitas pengolahan udang (UPU) turun sejak 2009 karena produksi udangturun. “Terjadi rasionalisasi di industri pengolahan udang/ikan bilapasokan bahan baku mahal, tidak lancar dan stabil sehingga yangkekurangan bahan baku lebih baik tidak beroperasi sementara atau tutupsama sekali, belum lagi utilitas kapasitas industri pengolahanudang/ikan masih kurang dari 40 % dengan utilitas bahan baku turunterus dari 59,33 % (2009) dan 57 % (2010),” jelasnya.
Darisisi peluang pasar, Direktur Jenderal Pengolahan, Pemasaran HasilPerikanan (P2HP) Viktor Nikijuluw melaporkan peluang pasar domestikuntuk ikan sangat tinggi. Hampir 40 % ikan laut (fillet kakap, cucut,udang, layur, tongkol, layang, kembung, lemuru, tenggiri) dan 60 % ikanair tawar (gurami, mujair, patin, lele, nila, mas, udang, dan lainnya)dipasarkan ke Hotel (0,15 juta ton/th), Katering – Jasaboga (1,5 jutaton/th – rutin dan 0.44 juta ton/th – pesta ) dan Restoran (1 jutaton/th). Sedangkan seperti ikan selar, kembung, lele, mujair/nila,kekerangan dan mas lebih banyak di warung dan resto (10 juta ton/th).
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Februari 2012 (www.trobos.com)