Tampilkan postingan dengan label Burung Pemangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Pemangsa. Tampilkan semua postingan

Elang-Alap Bahu-Coklat ( Accipiter buergersi )

Berukuran besar (48 cm). Tubuh bagian atas kehitaman dengan tanda pada mentel, tubuh bagian bawah putih bercoret hitam tebal. Ekor bagian bawah memiliki minimal delapan palang putih. Iris dan tungkai kuning, sera kuning hijau. Remaja: seluruh tubuhnya merah-karat coklat terang, kepala dan dada bercoret tebal, tenggorokan putih. Di ekor terdapat palang hitam dan putih tipis.

Suara :
Nada tinggi, besar, kencang, sengau dan menyambung naik (1/detik).

Penyebaran global :
Papua dan Papua Nugini.



Penyebaran lokal :
Di Papua, tercatat: Jajaran pegunungan tengah, Huon, dan jajaran pesisir utara. Umumnya di tempat yang lebih rendah dari daerah Elang-alap Meyer.



Kebiasaan :
Menghuni hutan perbukitan, dan berburu burung. Bertengger pada pohon di puncak perbukitan atau di puncak lembah, terbang untuk menyerang mangsa yang posisinya jauh dari tempat bertengger. Juga mencari mangsa dengan soaring di udara.

Makanan:
Burung kecil

Elang-Alap Doria( Accipiter doriae )

Pemangsa yang sangat tidak mencolok di hutan bagian dalam. Ekor sangat panjang dan bundar, dengan 10-12 palang hitam. Sayap bagian dalam ketika terbang terlihat jelas berpalang hitam dan tubuh bagian atas coklat abu-abu. Tubuh bagian bawah keputih-putihan bercoret. Muka bertopeng hitam dan iris mata gelap.


Suara :
Ketika dikerumuni burung-burung kecil akan menyuarakan suara desisan menciut-ciut yang menurun dan panjang, kemudian lemah dan menurun.

Penyebaran global :
Endemik Papua termasuk Papua Nugini

Penyebaran lokal :
Terpencar di daerah utama P. Papua smpai pada ketinggian 1400 m.



Kebiasaan :
Menghuni hutan hujan tropis. Bertengger tenang di bawah kanopi pohon, menanti burung yang menjadi mangsanya. Terbang di bawah kanopi dengan kepakan sayap lambat. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan bertengger di dahan pohon yang tersembunyi, terutama di dekat lokasi beraktivitas dan mencari makan burung yang menadi mangsanya.

Makanan:
Terutama memakan burung.

Elang-Alap China ( Accipiter soloensis )

Berukuran sedang (33 cm) tubuh bagian bawah berwarna sangat pucat. Warna dewasa, tubuh bagian atas abu-abu biru dengan ujung putih yang jarang pada bulu punggung dan garis-garis melintang samar pada bulu ekor terluar. Tubuh bagian bawah putih terdapat sapuan merah karat yang samar pada dada dan sisi tubuh dengan sedikit garis abu-abu pada paha.
Sayap bawahnya sangat khas seluruhnya terlihat putih kecuali ujung bulu primer yang hitam. Remaja tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah putih terdapat garis-garis gelap pada ekor, coretan pada tenggorokan serta garis-garis pada dada dan paha.
Paruh abu-abu dengan ujung hitam ,sera dan kaki jingga, iris merah atau coklat.

Penyebaran global:
Berbiak di Asia timur laut dan Cina. Mengembara pada musim dingin ke selatan sampai Asia tenggara, Filipina, Indonesia, dan Papua.

Penyebaran lokal dan status:
Pada musim dingin tidak jarang terdapat di seluruh sunda besar, subkawasan Sulawesi (Sulawesi, Talisei, Muna, dan Butung). Sampai ketinggian 900 m. Sampai di Jawa pada bulan September-November. Migran yang langka di kelompok pulau Papua barat.
Kebiasaan:
Mengunjungi daerah terbuka sampai pada ketinggian 900 mdpl pada musim dingin di seluruh Sunda Besar. Setiap Oktober melewati Puncak (Bogor) dan Bali Barat dalam jumlah besar. Biasanya berburu di tenggeran, tetapi kadang-kadang terbang melingkar di atas, dan menerkam mangsanya dari tanah.

Makanan:
Kodok, belalang, kadal, dan burung kecil.
Perkembangbiakan:Mulai bersarang untuk berbiak bulan Juni. Bersarang di percabangan utama pohon 8-12 m dari permukaan tanah. Sarang tersusun atas ranting, batang, dan daun yang masih hijau yang terus diperbaiki selama masa berbiak. Umumnya bertelur 3-4 butir, anakan mulai belajar terbang umur 22 hari.

Elang-Alap Nippon ( Accipiter gularis )

Berukuran kecil 27 cm), sangat mirip elang-alap besra dan Elang-alap jambul, tetapi terlihat lebih kecil dan gesit. Jantan dewasa: tubuh bagian atas abu-abu, ekor abu-abu dengan beberapa garis melingkar gelap, dada dan perut merah karat pucat dengan setrip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Betina: tubuh bagian atas coklat (bukan abu-abu), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris-garis cokalt melintang rapat. Dada remaja: lebih banyak coretan daripada garis-garis melintang dan lebih merah karat.
Iris kuning samapi merah, paruh biru abu-abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning-hijau.


Suara:
Pekikan keras (kadang-kadang).

Penyebaran global:
Berbiak di Palearktik Asia timur, pada musim dingin menyebar ke selatan sampi Sunda Besar.

Penyebaran lokal :
Pengunjung pada musim dingin di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Setiap bulan Oktober, dalam jumlah besar melewati Puncak (Bogor) dan Bali Barat. Cukup umum di daerah terbuka di dataran rendah.

Kebiasaan:Berburu di sepanjang pinggir hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Biasanya berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang-kadang terbang berputar-putar untuk mengamati tanah di bawahnya dengan cara terbang “kepak-kepak-luncur” yang khas. Menyerang dengan agresif pendatang yang mendekati sarang.Makanan:Terutama memakan burung-burung kecil keluarga passerine dan sesekali memakan burung berukuran sedang seperti burung merpati. Juga memakan tikus, kelelawar, reptil, dan serangga.

Perkembangbiakan:
Biasanya mulai berbiak pada bula Juni di Siberia selatan, sedangkan di Jepang dan Cina lebih awal lagi. Sarang berukuran kecil, disusun dari ranting dan daun. Telur umumnya 2-5 butir, dengan waktu pengeraman 25-28 hari.
Berukuran sedang (38-48 cm). Warna bulu tubuh mirip dengan Elang-alap Kelabu. Perbedaannya di struktur tubuh: sayap yang lebih membulat, ekor lebih panjang, dengan kaki yang relatif lebih lemah.
Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, tarsus telanjang, kaki abu-abu.


Suara :
Belum ada informasi tersedia

Penyebaran global :
Endemik Maluku


Penyebaran lokal :
Endemik Kepulauan Maluku Utara termasuk: Morotai, Halmahera, Bacan, dan mungkin Ternate.

Kebiasaan :
Hidup di hutan bagian dalam sampai ketinggian 1300 m, kadang masih dapat ditemukan di hutan sekunder. Bertengger di dahan yang tersembunyi, dan kemudian menyerang secara cepat dan tiba-tiba mangsa yang berada dalam jangkauan.
Makanan:
Memangsa reptil, burung dan mamalia kecil, serta serangga.

Elang-Alap Kelabu ( Accipiter novaehollandiae )

Berukuran besar (41-50 cm). Memiliki dua fase bulu: fase putih yang khas dan fase abu-abu yang mirip dengan Elang-alap Coklat tetapi tidak memiliki kerah merah-karat. Sera jingga kuning, tubuh bagian bawah merah-karat polos. Remaja: tubuh bagian bawah keputih-putihan atau bungalan ber-strip dan berpalang tebal.


Suara :
Serangkaian nada yang terdiri dari delapan sampai sepuluh nada samar, lambat, tinggi, nada lemah, maninggi atau menurun.

Penyebaran global :
Indonesia Timur, Kep. Bismarck, Kep. Solomon, dan Australia.
Penyebaran lokal :
Di Nusa Tenggara, Maluku dan seluruh kawasan Papua. Dari ketinggian 500 – 1450 m di habitat yang terganggu.



Kebiasaan :
Elang-alap yang umum di tepi hutan di sebagian besar kawasan Papua. Bertengger di pepohonan yang teduh, menyusuri tepi hutan di puncak kanopi, jarang terbang tinggi. Terkadang melakukan gaya terbang berguling-guling mirip dengan Elang-alap Jambul.

Makanan:
Burung, mamalia kecil, reptil, katak, dan antropoda.


Perkembangbiakan:
Musim berbiak Mei-November di Australia utara. Sarang tersusun atas ranting dan dijalin dengan dedaunan. Terletak 15 m di atas permukaan tanah, biasanya di puncak tajuk pohon. Telur 2-4 butir, dengan waktu pengeraman 31-34 hari. Anakan belajar terbang meninggalkan sarang pada umur 30-42 hari.




Elang-Rawa Timur ( Circus spilonotus )

Berukuran sedang (50 cm). Berwarna gelap. Jantan: mirip Elang-rawa Tangling jantan, tetapi dada hitam dan terdapat coretan putih tebal di atas tenggorokan. Betina: penutup ekor atas coklat; bulu utama coklat tua; mahkota, tengkuk, tenggorokan, dan sisi depan sayap kuning tua; mahkota dan tengkuk bercoret coklat tua, ekor bergaris; bercak keputihan pada pangkal bulu primer berbintik tebal dan gelap jika dilihat dari bawah. Pada beberapa burung, kepala kuning tua seluruhnya dan terdapat bercak kuning tua pada dada. Remaja: seperti betina tetapi berwarna lebih gelap, mahkota dan tengkuk kuning tua.
Iris kuning (jantan) atau coklat muda (betina), paruh abu-abu, kaki kuning.


Suara :
Biasanya diam.

Penyebaran global :
Berbiak di Asia timur. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan menuju Asia Tenggara dan Filipina. Terdapat populasi penetap di Papua.

Penyebaran lokal :
Pengunjung musim dingin yang tidak umum ke Sumatra dan Kalimantan bagian utara.



Kebiasaan :
Mengunjungi daerah terbuka, terutama rawa rumput atau gelagah. Saat berburu, meluncur anggun dan rendah di atas vegetasi. Terkadang melayang diam sambil mengepakkan sayapnya. Gaya terbang lebih berat dibanding Elang-rawa Tangling.

Makanan:
Pemburu oportunis yang memangsa burung air dan keluarga burung passerine (telur, anakan, burung dewasa). Terkadang juga memakan tikus, tupai, katak, dan ikan.


Perkembangbiakan:
Mulai bersarang dan mengerami telur pertengahan Mei sampai awal Juni. Bersarang di permukaan tanah rawa, terutama di formasi tifa. Telur 3-7 butir, dengan interval 1-3 hari. Waktu pengeraman 33-48 hari, anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang 35-40 hari.

Rajawali Papua ( Harpyopsis novaeguineae )

Berukuran besar (76-89 cm). Sayap pendeklebar dengan tubuh bagian bawah pucat tanpa coret. Ekor bagian bawah berpalang, ujung ekor melebar dan menonjol. Iris mata besar dan gelap.

Suara :
Anda “uumpph!” Atau “okh!” stakato rendah yang tidak tetap, bernada cegukan seperti suara busur yang dilepaskan dari panah; kadang disertai dengan “buk” yang diulang-ulang, seperti suara ayam tetapi lebih kuat dan rendah. Pada senja hari sering terdengar suara bersahutan dan sambung-menyambung seperti suara Bubut Pini, tetapi lebih berirama dalam rangkaian nada yang menurun.

Penyebaran global :
Endemik Papua termasuk Papua Nugini.

Penyebaran :
Seluruh daratan utama Papua sampai ketinggian 3200 m.

Kebiasaan :
Terbatas di hutan yang tidak terganggu. Terbang di batas atau di bawah kanopi, bertengger di hutan bagian dalam. Mendeteksi mangsa berupa mamalia besar berdasarkan suara yang kemudian ditangkap dari tanah atau di gali dengan cakarnya dari lubang pohon. Paling sering mendatangi bangkai atau sumber bau busuk lainnya.

Makanan:
Mamalia berukuran sedang seperti: possum, kuskus, walabi, kanguru pohon, anak anjing, babi dan tikus raksasa.
Doria's Hawk, Varirata NP, Papua New Guinea

Perkembangbiakan:
Musim berbiak dari akhir musim penghujan sampai sepanjang musim kemarau. Aktif bersarang April-Mei. Sarang berukuran besar dan diletakkan pada pohon yang tinggi (20 m), digunakan secara berulang-ulang.

Baza Jerdon ( Aviceda jerdoni )

Berukuran sedang (45 cm). Berwarna coklat dengan jambul hitam yang seringkali terangkat naik. Bagian atas coklat, bagian bawah putih dengan strip mesial hitam. Dada bercorak merah gelap, perut bergaris datar merah gelap. Ras Kalimantan: kepala dan sisi leher merah karat.
Perbedaan dengan Elang-alap Jambul: jambul jauh lebih panjang dan ujung sayap nyaris mencapai ujung ekor; dengan Elang gunung dan Elang Wallace remaja: ukuran lebih kecil, sayap relatif lebih panjang, tarsus tanpa bulu. Ciri ketika terbang adalah sayap lebar, sangat panjang, dan melebar di ujung, serta ekor terpotong lurus.
Iris merah kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu biru-pucat, kaki dan tungkai kuning.
Suara:
Seperti suara kucing mengeluh “pii wiioh”, nada kedua berangsur-angsur hilang, mirip suara Elang-ular bido.
Penyebaran global:
Himalaya, India, Cina selatan, Asia tenggara, dan Sulawesi. Pengembara di Semenanjung Malaysia.
Penyebaran lokal:
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Beberapa catatan dari Sumatra sebagai penetap dan pengunjung musim dingin. Penetap di beberapa tempat di Kalimantan.
Kebiasaan: Berburu dari atas cabang pohon, menyukai pinggir hutan dan hutan pantai.

Makanan:
Memakan artropoda, kadal, katak, ular, dan sesekali buah.

Elang Jawa ( Nisaetus bartelsi )


Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia . 
Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. 

Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis . Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor).
Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.

Elang Brontok ( Spizaetus cirrhatus )


Elang Brontok adalah sejenis burung pemangsa anggota suku Accipitridae. Dinamai demikian kemungkinan karena warnanya yang berbercak-bercak (pada bentuk yang berwarna terang). Namanya dalam bahasa Inggris adalah Changeable Hawk-eagle karena warnanya yang sangat bervariasi dan berubah-ubah, sedangkan nama ilmiahnya yalah Spizaetus cirrhatus.

Elang brontok berbiak di wilayah yang luas, mulai dari kawasan Asia selatan di India dan Sri Lanka, tepi tenggara Himalaya, terus ke timur dan selatan melintasi Asia Tenggara hingga ke Indonesia dan Filipina.
Burung elang yang berukuran sedang sampai besar, dengan panjang tubuh diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor sekitar 60-72 cm. Warnanya yang sangat berubah-ubah menyulitkan identifikasi, terutama di lapangan.
Bentuk yang normal berwarna coklat di sebelah atas, putih di sisi bawah tubuh dan ekor yang coklat kemerahan, dengan garis-garis hitam melintang pada sayap dan ekor yang nampak jelas ketika terbang. Terdapat coret-coret membujur berwarna hitam di leher dan bercak-bercak kecoklatan di dada. Ras-ras tertentu memiliki jambul panjang yang tersusun dari empat helai bulu di belakang kepalanya, sedangkan ras yang lainnya sama sekali atau nyaris tidak berjambul. Betina serupa dengan yang jantan, hanya bertubuh agak besar; burung yang muda dengan kepala yang berwarna lebih pucat dan pola warna yang lebih samar.
Sayap yang panjang, terbentang mendatar tatkala terbang, dengan ujung (susunan bulu primer) yang nampak membulat, dikombinasikan dengan ekor yang panjang dan pola warna di atas, membedakannya dengan jenis elang lainnya.
Terdapat pula bentuk yang gelap (hitam) dan yang lebih terang daripada bentuk normal. Bentuk yang gelap berwarna coklat gelap seluruhnya, dengan garis hitam pada ujung ekor yang cukup kontras dengan bagian lain dari ekor. Bentuk gelap ini ketika terbang hampir serupa dengan elang hitam(Ictinaetus malayensis), dengan sedikit perbedaan pada bentuk sayap.
Bunyi keras nyaring, berkepanjangan yiiip-yip-yip-yip-yip …yiip-yip-yip-yip; bernada meninggi kwip-kwip-kwip-kwii atau teriakan menembus klii-liiiuw.
Elang brontok hanya berpasangan di musim berbiak, dan di luar waktu-waktu tersebut sering ditemukan menjelajah sendirian di hutan-hutan terbuka,sabana dan padang rumput. Burung ini menyukai berburu di tempat terbuka dan menyerang mangsanya yang berupa reptil, burung atau mamalia kecil dari tempatnya bertengger di pohon kering atau dari udara. Tidak jarang burung ini merampok kawanan ayam di pedesaan.
Di Indonesia, burung ini didapati di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
Sarangnya berukuran besar, dibuat dari ranting-ranting pohon dan dedaunan di pohon yang tinggi. Telur satu butir (jarang dua) berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Di Jawa, elang brontok bersarang antara bulan April sampai sekitar Agustus atau Oktober.