Tampilkan postingan dengan label Pepatah Minang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pepatah Minang. Tampilkan semua postingan

Perikanan dan Peternakan


“Nan gadang palapeh ikan, balukatampaik taranak”

Makna dari petatah ini menggambarkan potensi alam yang telah disediakanTuhan dalam bidang perikanan dan peternakan

Petani "Tekor"..


“Ka sawah pangkuah balabiah, kamakan pinggan tak sadang”

Makna pertama bisadiartikan bak besar pasak dari pada tiang. Maksudnya besarnya modal sementarahasil nya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kalau versi saya sendiri lebihcocok menggambarkan kondisi pertanaman dengan pola pertanian konvensional saatini yakni besarnya biaya produksi, sementara hasil panen tidak seimbang bahkancenderung makin lama makin menyusut/ mengalami kemunduran (efek pemakaianpestisida/ saprodi kimia sintetis).

Makna lain menggambarkan kepemalasan namun banyak bicara yangmengakibatkan jatuh dalam pengangguran

Sumber Perekonomian Masyarakat


“Ka rimbo babungo kayu, ka sawahbabungo padi, ka lauik babungo karang, ka tambang babungo ameh, ka sungaibabungo pasia”

Makna dari pepatah inimenggambarkan sumber pendapatan/ ekonomi masyarakat zaman dahulu dimana beragamsumber daya alam yang dapat dimanfaatkan.
Makna lain dari pepatah tersebut yakni lebih kepada sumber keuangandalam membangun nagari dan kampung halaman

Pelakat Tani


“Ka ladang di hulu tahun, ka sawahdi pangka musim”
Pelakat sawah dan ladangdi dalam budaya masyarakat Minangkabau dalam mengatur aktifitas turun ke sawahdan ladang serta merupakan hal terpenting dalam menentukan hasil yangdiharapkan.

Sawah dan Ladang


“Sawah kariang taruko anguih, anakbuah jatuah mularaik, alamaik rusak alam nangko. Nan kini bukan barisuak,barisuak bukan kapatang”

Kalau sawah tidak menjadi, begitupun ladang karena tidak dikerjakan/ diolah,seperti juga halnya dengan pengairan. Maka alamat hidup akan sengsara sementarawaktu terus bergulir.