Tampilkan postingan dengan label Info Wonogiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Wonogiri. Tampilkan semua postingan

Nelayan Waduk Gajah Mungkur Panen Ikan

Cuaca ekstrem akhir-akhir ini justru menguntungkan nelayan di perairan Waduk Gajah Mungkur. Pasalnya, dalam sehari biasanya hanya lima kilogram, namun selama beberapa hari terakhir tangkapan mencapai 20-30 kilogram per hari.
Pengurus Kelompok Nelayan Sendag Asri, Sulistianto mengatakan angin kencang sekitar satu minggu sempat membuat nelayan menghentikan aktivitas selama sehari. Namun dua hari setelah angin kencang, sudah mencari ikan namun hanya pada pagi hari.

“Mulai hari ini (kemarin-red) sudah normal kembali. Nelayan berangkat tiap pagi dan sore. Tapi untuk perahu-perahu kecil saat ada angin kencang diminta untuk memakai pelampung. Pelampung diberikan oleh dinas (Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan-red),” jelas dia, Rabu (1/2).
Soal harga jual ikan, kata dia, berkisar Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram untuk jenis nila dan patin (jambal). Beberapa waktu lalu harga sempat Rp 13.000 per kilogram untuk nila dan patin.
Kepala Disnakperla, Rully Pramono Retno melalui Kepala Bidang Perikanan Heru Soetopo mengatakan nelayan dianjurkan untuk mengenakan pelampung. “Sangat diharapkan pelampung yang telah dibagikan dimanfaatkan. Terutama untuk nelayan dengan perahu kecil. Baik untuk nelayan perairan umum dan laut setidaknya ada 300 pelampung dibagikan,” terangnya.

Eko Sudarsono

Sumber :  http://harianjoglosemar.com/berita/nelayan-waduk-panen-ikan-66513.html

Peroleh Pinjaman Rp 1 Juta, Kini Asetnya Mencapai 10 M

Pernahkah Anda, mendengar tanaman janggelan? Tanaman yang untuk campuran es maupun minuman lainnya. Bisnis tersebut yang digeluti Sutarso Hadi (42), warga Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto.
Kepala Joglosemar, Sutarso menuturkan pengalaman bisnisnya. Ia mengaku pada tahun 1996, mendapat pinjaman dari bank sebesar Rp 1 juta. Kini, usaha yang digeluti asetnya mencapai Rp 10 miliar.
“Awalnya, rumah tidak punya, modal Rp 1 juta untuk sewa truk dan mobil untuk mengambil janggelan ke daerah-daerah. Benar-benar dari nol. Tahun 1996 mulai jual beli janggelan, saat itu dibawa langsung ke Surabaya begitu truk penuh,” kata Sutarso, yang kini menjadi anggota DPRD, Sabtu (4/2).

Kini, tak hanya pasar lokal. Pasar China dan Taiwan pun sudah rutin dikirim. Hanya saja permintaan kuota yang terlalu besar dari China tidak bisa selalu terpenuhi. “Satu tahun dari China minta dikirim 25.000 ton, kalau melihat hasil janggelan di sini jelas tidak mencukupi. Paling hanya bisa memenuhi 2.500 ton saja. Tanaman janggelan di ambil dari Pacitan dan Trenggalek, di Wonogiri diambil dari Karangtengah, Girimarto, Bulukerto dan  Jatipurno,” jelasnya.
Pasokan yang tidak terpenuhi juga disebabkan karakteristik tanaman janggelan, yakni hanya berkembang baik saat musim hujan. Di sisi lain saat musim hujan justru terkendala pengeringan. Musim kemarau, tanaman tak begitu subur dan kandungan pati juga rendah. Saat itulah, dirinya beralih jual beli empon-empon.
Di Negeri Tirai Bambu dan Taiwan, janggelan dimanfaatkan untuk bahan membuat minuman. Sedangkan untuk pembuatan agar-agar janggelan (cincau hitam), Sutarso memiliki pabrik sendiri di Sidoarjo, Jawa Timur. Berawal dari nol, kini bapak tiga anak itu memiliki empat gudang dan enam alat pres serta beberapa truk. “Sekali kirim ke luar negeri bisa sampai Rp 2 miliar,” tuturnya, mantan Kepala Desa Geneng, itu.

Eko Sudarsono

Kutipan dari : http://harianjoglosemar.com/berita/peroleh-pinjaman-rp-1-juta-kini-asetnya-mencapai-rp-10-m-66750.html

Wonogiri Kewalahan Setor Janggelan ke China

Wonogiri Kewalahan Setor Janggelan ke China
Budi daya rumput janggelan (Mesona palutris) Wonogiri yang merupakan bahan baku obat dan kosmetik ternyata sangat dibutuhkan Tiongkok atau China. Mereka berkeinginan setiap tahun bisa mendapatkan kiriman sedikitnya 25 ribu ton janggelan dari Bulukerto dan Karangtengah, Wonogiri.

Sayangnya, permintaan itu tidak bisa dipenuhi, karena kemampuan petani hanya mampu menyediakan 200 ton tiap bulan.

"Kemampuan kita hanya 200 ton tiap bulan, karena pada saat sama Taiwan juga meminta. Dan untuk menggenapi pesanan, lainnya kita kirimkan dalam bentuk empon-empon, seperti jahe, kunyit, kencur dan temulawak," ungkap Sutarso Hadi, salah seorang pembina tani dan sekaligus eksportir jangelan Wonogiri, Selasa (7/2) pagi.

Saat musim hujan seperti sekarang ini, dirinya bersama petani bahu-membahu bekerja keras untuk mengumpulkan panen janggelan, yang tumbuh bagus sekali. Bahkan, Sutarso, yang kesehariannya juga menjadi anggota DPRD Wonogiri itu, juga berburu ke lereng Lawu, dan bahkan sampai Pacitan dan Ponorogo, Jatim.

Ia memaparkan, untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan pihak importir China dan Taiwan, para petani Wonogiri memang harus bekerja lebih keras lagi, karena potensi budi daya janggelan yang masih minim.

"Padahal sangat dibutuhkan, sehingga untuk ke depan, pemerintah kabupaten perlu untuk memberikan suport yang lebih baik konkret lagi, bukan sekadar pembinaan saja. Kelemahan petani adalah dalam pembiayaan," tandasnya.

Potensi janggelan, kata Sutarso, perlu ditumbuhkembangkan, karena kebutuhan dunia internasional akan bahan tanaman obat dan kosmetik itu ternyata sangat luar biasa besarnya. (WJ/OL-10)

image : www.indonetwork.co.id
Kutipan dari : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/07/296691/289/101/Wonogiri-Kewalahan-Setor-Janggelan-ke-China

Potensi Kabupaten Wonogiri Mulai Diekspor Ke Luar Negeri

Menggali potensi bisnis di daerah Jawa Tengah memang seakan-akan tak pernah ada habisnya. Hampir setiap kabupaten memiliki potensi unggulan tertentu yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Misalnya saja seperti potensi daerah Wonogiri yang belakangan ini komoditasnya mulai diekspor ke luar negeri.
Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi bisnis cukup berlimpah. Terletak di area lahan seluas 182.236,02 Ha, Wonogiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar di sebelah utara, Kabupaten Ponorogo di bagian timur, daerah Pacitan dan Samudera Indonesia di sebelah selatan, serta Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten di sebelah barat.

Kondisi alamnya yang didominasi oleh gunung dan perbukitan, membuat daerah Wonogiri memiliki potensi daerah yang cukup beragam. Baik dari sektor industri, pertanian dan perkebunan, perdagangan, pertambangan, maupun dari sektor potensi wisata alam yang tentunya tak kalah menawan jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Jawa Tengah.
Untuk mengenal lebih dekat potensi bisnis di wilayah Kabupaten Wonogiri yang berhasil menembus pasar ekspor, berikut kami informasikan beberapa sektor unggulan yang terdapat di sekitar daerah tersebut.
Peluang Ekspor Metejambu mete 200x200 Potensi Kabupaten Wonogiri Mulai Diekspor ke Luar Negeri
Produksi mete di Kabupaten Wonogiri memang luar biasa. Bahkan dari delapan provinsi di Indonesia yang dikenal sebagai produsen mete terbesar, Wonogiri sangat mendominasi pasar dengan berhasil memasok mete hingga 70% lebih dan menembus pasar ekspor ke beberapa negara tetangga. Pada tahun 2010 silam, sedikitnya ada 14.934 kepala keluarga yang tersebar di 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri yang memilih menanam jambu mete untuk mendapatkan untung besar setiap bulannya. Tidaklah heran bila lahan pertanian seluas 21.658 Ha kini disulap menjadi kebun jambu mete, dan bisa menghasilkan mete gelondong kering hingga 12,00 ton dengan nilai jual sekitar Rp 70.000,00 – Rp 80.000,00 per kg.

Potensi Bisnis Gaplek
Memiliki lahan pertanian yang minim pengairan, membuat masyarakat Wonogiri lebih memilih singkong daripada tanaman lainnya untuk dikembangkan sebagai produk unggulan di sektor pertanian. Umumnya, singkong-singkong yang dihasilkan masyarakat kemudian dijemur menjadi gaplek dan diolah menjadi aneka macam produk baru seperti tiwul, maupun dikembangkan menjadi tepung tapioka untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan nasional. Bahkan tidak hanya itu saja, industri gaplek Wonogiri juga berhasil menembus pasar ekspor untuk memenuhi permintaan dari negara China.

Potensi Industri Mebel Kayu
Selain dikenal sebagai kota gaplek, Wonogiri juga dikenal sebagai sentra industri mebel yang memiliki kualitas bagus dengan harga yang kompetitif. Ukirannya yang sangat khas merupakan warisan dari para lelulur, sehingga tidak heran bila potensi industri mebel kayu yang tersebar di Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Batuwarno, Giritontro dan Paranggubito ini tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, namun juga berhasil menembus pasar luar negeri, seperti misalnya diekspor ke Eropa, Denmark, Jerman, serta Hongkong.
Semoga adanya informasi mengenai potensi kabupaten wonogiri mulai diekspor ke luar negeri ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan memotivasi masyarakat di seluruh Indonesia untuk mulai berkarya dan mengangkat potensi alam disekitarnya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Sumber gambar :
1. http://4.bp.blogspot.com/-AZ3gFL1Qv48/Tu-V39yJQyI/AAAAAAAABJs/1t_AXWHCP_c/s1600/gapurselamatdi91.jpg
2. http://hutbunbondowoso.files.wordpress.com/2011/07/jambu-mete.jpg
 
Kutipan dari : http://bisnisukm.com/potensi-kabupaten-wonogiri-mulai-diekspor-ke-luar-negeri.html