ANTECEDENT.
Our Nation ( Indonesia ) very is requiring [is] source of protein to become a[n smart and healthy nation. fish of Mempakan one of [the] source of gilt edged protein. pregnant Fish mean flesh [of] protein ( 9 - 22 %), fat ( 0,1 - 20 %), mineral ( 1 - 3 %), vitamin, lecithin, guanin, and a little a few/little cholesterol.
A. the Target of and Target Development Of Sub-Sektor Fishery. Imposingly territorial water and abundance its[his] various fish type in Indonesia, hence government of cymbal or expect that requirement of Indonesian nation protein can fulfill from fishery sub-sektor. Thereby, target of and target development of sub - fishery sector, beside improve foreign exchange to state, is to improve prosperity of people with target [so that/ to be] goals every body Indonesia can consume fish ± 25 singk / people / tired year. If/When the goals can reach, hence Indonesian nation surely will become smart and healthy nation.
B. Potency Fishery of Freshwater. Development of fishery sub-sektor, both for [done/conducted] by government and also by private sector, [do] not only [in] territorial water of sea, but also [in] territorial water of land ( freshwater). Territorial water bargain in Indonesia according to [all] fishery expert have the quality of good. Territorial water bargain in Indonesia have acidity storey;level ( stable water pH) and have more compared to stable water temperature [of] natural nations 4 season like Japan and of Taiwan. Despitefully, territorial water bargain Indonesia have plankton type miscellaneous, benthos, and or detritus able to become the source of natural food to fish. Seen from wide [of] the source of territorial water of public ( river, lake, bog, accumulating basin / draught, dsb.) and its water quality very goodness, hence territorial water bargain in Indonesia very potential to the effort development of fishery. One of [the] example [of] [is] territorial water of public [in] just Central Java like [at] tables following :
C. Potency and Prospect of Agribisnis Fish of Betutu.
Fish of Betutu possible still foreign to some people. But, to one who have old dabble in the world of fishery, fish of betutu have is old stuff. To society of Sumatra South, specially around River of Ogan, River of Komering, and River of Musi, have old stuff to fish of Betutu. Even, fish of Betutu made [by] town mascot ( remember Roof-Gutter town of Betutu). [In] business world, fish of Betutu more knowledgeable with the title Lazy fish or lazy Cork. Society of Kalimantan mention fish of betutu by the name of fish of Bakut or fish of Bakukut with the meaning " kept quiet". There [is] also mentioning fish of Betutu by the name of stupid fish or fish of goblog. Ethnical [for a] while Chinese, including Chinese clan, mentioning fish of betutu by the name of fish of Sun Hock. International World mention fish of betutu by the name of fish of marbledgpby or of sand goby. Fish of Betutu have erudite name [of] Marmorata Oxyeletris. Bikr.
From breakdown of above clear that fish of Betutu the including one of [the] fish type which have. Cookery fish menu of betutu have entered [in] metropoliss like Palembang, Field, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, and Yogyakarta. Rate Menu fish of betutu [in] hotels have star [to] range from Rp 250.000,00 - Rp 300.000,00 to one portion of the size 0,8 singk - 1 singk. While fish price of betutu live [in] wholesaler storey;level or of brooker vary [among/between] Rp 75.000,00 - Rp 100.000,00 per its kilogram.
Costly [of] fish price of betutu anticipated [by] there are some version, probably because delicious goal likely, its flesh turn white, softly, and almost is not bony. fish of Betutu [is] also trusted to contain certain advantage to womankind and to man clan. To womankind, fish of betutu trusted can make ageless and can add softness of husk because containing many vitamin of B1, B2, B6 Vitamin of F, and vitamin of E so that can pursue process become oldly. To man clan, fish of betutu trusted [by] containing many certain hormone and anzim so that can growing strong and heroic as men. But, there [is] also saying that fish of betutu only as arena confront prestige for the meloby of relationship.
Technically, fish of betutu (it) is true still difficult to conducting. Fish business of betutu till in this time most still depend on arrest [in] free nature. Therefore, this fish type [is] felt concerned about will be scarce progressively and totally disappeared akhimya if arrest [in] [done/conducted] free nature continuously. Effort fish conducting and seeding of betutu expected can preserve, adding population, and answer the demand [of] requirement of consumer. Effort fish energy kindness of betutu [in] Thailand can succeed better so that in this time become especial competitor to Indonesia as coming [from] muasal of fish of betutu itself. [In] West Java and [in] Central Java there [are] one who start him [him/ it] intensively although its result not yet seethed with excitement.
Especial constraint [is] fish conducting of betutu [is] the the duration growth of fish. Growth of fish of betutu from hatching till reach consumption size measure ( 400 g to to the) requiring time [about/around] 2 year. Despitefully, this high fish mortality enough so that make people shy at to him [him/ it]. Although storey;level death of fish of betutu high enough, but admit of to be overcome to [pass/through] to with refer to and test-drive of teknih intensive energy kindness.
source : david mulyono
Potensi dan prospek ikan betutu / gabus
PENDAHULUAN
Bangsa kita sangat membutuhkan sumber protein untuk menjadi suatu bangsa yang sehat dan cerdas. Ikan mempakan salah satu sumber protein yang bermutu tinggi. Daging ikan rata-rata mengandung protein (9 % - 22 %), lemak (0,1 % - 20 %), mineral (1 % - 3 %), vitamin, lecithin, guanin, dan sedikit mengandung kolesterol.
A. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sub-Sektor Perikanan
Dengan luasnya perairan dan melimpahnya berbagai jenis ikan di Indonesia, maka pemerintah mencanangkan atau mengharapkan bahwa kebutuhan protein hewani bangsa Indonesia dapat dipenuhi dari sub-sektor perikanan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran pembangunan sub-sektor perikanan, di samping meningkatkan devisa bagi negara, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan sasaran agar target tiap orang Indonesia dapat mengkonsumsi ikan ± 25 kg/orang/tahun tercapai. Bila target tersebut dapat dicapai, maka bangsa Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang sehat dan cerdas.
B. Potensi Perikanan Air Tawar
Pembangunan sub-sektor perikanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, tidak hanya di perairan laut, tetapijuga di perairan darat (air tawar). Perairan tawar di Indonesia menurut para ahli perikanan memiliki kualitas yang bagus. Parairan tawar di Indonesia memiliki tingkat keasaman (pH) air yang stabil dan memiliki suhu air yang lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara yang mengalami 4 musim seperti Jepang dan Taiwan. Di samping itu, perairan tawar Indonesia memiliki aneka ragam jenis plankton, benthos, ataupun detritus yang dapat menjadi sumber makanan alami bagi ikan.
Dilihat dari luas sumber perairan umum (sungai, danau, rawa, waduk/dam, dsb.) dan kualitas aimya yang sangat baik, maka perairan tawar di Indonesia sangat potensial untuk usaha pengembangan perikanan.
C. Potensi dan Prospek Agribisnis Ikan Betutu
Ikan Betutu mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia perikanan, ikan betutu sudah tidak asing lagi. Bagi masyarakat Sumatra Selatan, khususnya di sekitar Sungai Ogan, Sungai Komering, dan Sungai Musi, sudah tidak asing lagi terhadap ikan Betutu. Bahkan, ikan Betutu dijadikan maskot kota (ingat kota Talang Betutu).
Di dunia bisnis, ikan Betutu lebih dikenal dengan sebutan ikan Malas atau Gabus malas. Masyarakat Kalimantan menyebut ikan betutu dengan nama ikan Bakut atau ikan Bakukut yang artinya "diam". Ada pula yang menyebut ikan Betutu dengan nama ikan bodoh atau ikan goblog. Sementara etnis Cina, termasuk Cina keturunan, menyebut ikan betutu dengan nama ikan Sun Hok. Dunia Internasional menyebut ikan betutu dengan nama ikan marbledgpby atau sand goby. Ikan Betutu memiliki nama ilmiah Oxyeletris marmorata. Bikr.
Dari uraian di atas jelas bahwa ikan Betutu termasuk salah satu jenis ikan yang sudah mendunia. Menu masakan ikan betutu telah masuk di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang berkisar antara Rp 250.000,00 - Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg. Sedangkan harga ikan betutu hidup di tingkat tengkulak atau brooker bervariasi antara Rp 75.000,00 - Rp 100.000,00 per kilogramnya.
Mahalnya harga ikan betutu diduga ada beberapa versi, mungkin karena cita rasanya lezat, dagingnya putih, empuk, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu juga dipercaya mengandung khasiat tertentu bagi kaum wanita dan bagi kaum pria. Bagi kaum'wanita, ikan betutu dipercaya dapat membuat awet muda dan dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B1, B2, B6 vitamin F, dan vitamin E sehingga dapat menghambat proses penuaan. Bagi kaum pria, ikan betutu dipercaya banyak mengandung anzim dan hormon tertentu sehingga dapat menambah keperkasaan sebagai laki-laki. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ikan betutu hanya sebagai arena adu gengsi untuk meloby relasi.
Secara teknis, ikan betutu memang masih sulit untuk dibudidayakan. Bisnis ikan betutu hingga saat ini sebagian besar masih tergantung pada penangkapan di alam bebas. Oleh karena itu, jenis ikan ini dikhawatirkan akan semakin langka dan akhimya punah jika penangkapan di alam bebas dilakukan secara terus-menerus. Usaha pembenihan dan pembudidayaan ikan betutu diharapkan dapat melestarikan, menambah populasi, dan mencukupi kebutuhan konsumen.
Usaha budi daya ikan betutu di Thailand dapat berhasil dengan baik sehingga saat ini menjadi pesaing utama bagi Indonesia sebagai asal muasal dari ikan betutu itu sendiri. Di Jawa Barat dan di Jawa Tengah sudah ada orang yang mulai membudidayakannya secara intensif walaupun hasilnya belum menggembirakan.
Kendala utama pembudidayaan ikan betutu adalah lamanya pertumbuhan ikan tersebut. Pertumbuhan ikan betutu dari menetas hingga mencapai ukuran konsumsi (400 g ke atas) membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Di samping itu, angka kematian ikan ini cukup tinggi sehingga membuat orang enggan untuk membudidayakannya. Walaupun tingkat kematian ikan betutu cukup tinggi, namun masih dapat diatasi melalui serangkaian uji coba dan teknih budi daya yang intensif.
sumber : David Mulyono
Bangsa kita sangat membutuhkan sumber protein untuk menjadi suatu bangsa yang sehat dan cerdas. Ikan mempakan salah satu sumber protein yang bermutu tinggi. Daging ikan rata-rata mengandung protein (9 % - 22 %), lemak (0,1 % - 20 %), mineral (1 % - 3 %), vitamin, lecithin, guanin, dan sedikit mengandung kolesterol.
A. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sub-Sektor Perikanan
Dengan luasnya perairan dan melimpahnya berbagai jenis ikan di Indonesia, maka pemerintah mencanangkan atau mengharapkan bahwa kebutuhan protein hewani bangsa Indonesia dapat dipenuhi dari sub-sektor perikanan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran pembangunan sub-sektor perikanan, di samping meningkatkan devisa bagi negara, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan sasaran agar target tiap orang Indonesia dapat mengkonsumsi ikan ± 25 kg/orang/tahun tercapai. Bila target tersebut dapat dicapai, maka bangsa Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang sehat dan cerdas.
B. Potensi Perikanan Air Tawar
Pembangunan sub-sektor perikanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, tidak hanya di perairan laut, tetapijuga di perairan darat (air tawar). Perairan tawar di Indonesia menurut para ahli perikanan memiliki kualitas yang bagus. Parairan tawar di Indonesia memiliki tingkat keasaman (pH) air yang stabil dan memiliki suhu air yang lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara yang mengalami 4 musim seperti Jepang dan Taiwan. Di samping itu, perairan tawar Indonesia memiliki aneka ragam jenis plankton, benthos, ataupun detritus yang dapat menjadi sumber makanan alami bagi ikan.
Dilihat dari luas sumber perairan umum (sungai, danau, rawa, waduk/dam, dsb.) dan kualitas aimya yang sangat baik, maka perairan tawar di Indonesia sangat potensial untuk usaha pengembangan perikanan.
C. Potensi dan Prospek Agribisnis Ikan Betutu
Ikan Betutu mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia perikanan, ikan betutu sudah tidak asing lagi. Bagi masyarakat Sumatra Selatan, khususnya di sekitar Sungai Ogan, Sungai Komering, dan Sungai Musi, sudah tidak asing lagi terhadap ikan Betutu. Bahkan, ikan Betutu dijadikan maskot kota (ingat kota Talang Betutu).
Di dunia bisnis, ikan Betutu lebih dikenal dengan sebutan ikan Malas atau Gabus malas. Masyarakat Kalimantan menyebut ikan betutu dengan nama ikan Bakut atau ikan Bakukut yang artinya "diam". Ada pula yang menyebut ikan Betutu dengan nama ikan bodoh atau ikan goblog. Sementara etnis Cina, termasuk Cina keturunan, menyebut ikan betutu dengan nama ikan Sun Hok. Dunia Internasional menyebut ikan betutu dengan nama ikan marbledgpby atau sand goby. Ikan Betutu memiliki nama ilmiah Oxyeletris marmorata. Bikr.
Dari uraian di atas jelas bahwa ikan Betutu termasuk salah satu jenis ikan yang sudah mendunia. Menu masakan ikan betutu telah masuk di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang berkisar antara Rp 250.000,00 - Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg. Sedangkan harga ikan betutu hidup di tingkat tengkulak atau brooker bervariasi antara Rp 75.000,00 - Rp 100.000,00 per kilogramnya.
Mahalnya harga ikan betutu diduga ada beberapa versi, mungkin karena cita rasanya lezat, dagingnya putih, empuk, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu juga dipercaya mengandung khasiat tertentu bagi kaum wanita dan bagi kaum pria. Bagi kaum'wanita, ikan betutu dipercaya dapat membuat awet muda dan dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B1, B2, B6 vitamin F, dan vitamin E sehingga dapat menghambat proses penuaan. Bagi kaum pria, ikan betutu dipercaya banyak mengandung anzim dan hormon tertentu sehingga dapat menambah keperkasaan sebagai laki-laki. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ikan betutu hanya sebagai arena adu gengsi untuk meloby relasi.
Secara teknis, ikan betutu memang masih sulit untuk dibudidayakan. Bisnis ikan betutu hingga saat ini sebagian besar masih tergantung pada penangkapan di alam bebas. Oleh karena itu, jenis ikan ini dikhawatirkan akan semakin langka dan akhimya punah jika penangkapan di alam bebas dilakukan secara terus-menerus. Usaha pembenihan dan pembudidayaan ikan betutu diharapkan dapat melestarikan, menambah populasi, dan mencukupi kebutuhan konsumen.
Usaha budi daya ikan betutu di Thailand dapat berhasil dengan baik sehingga saat ini menjadi pesaing utama bagi Indonesia sebagai asal muasal dari ikan betutu itu sendiri. Di Jawa Barat dan di Jawa Tengah sudah ada orang yang mulai membudidayakannya secara intensif walaupun hasilnya belum menggembirakan.
Kendala utama pembudidayaan ikan betutu adalah lamanya pertumbuhan ikan tersebut. Pertumbuhan ikan betutu dari menetas hingga mencapai ukuran konsumsi (400 g ke atas) membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Di samping itu, angka kematian ikan ini cukup tinggi sehingga membuat orang enggan untuk membudidayakannya. Walaupun tingkat kematian ikan betutu cukup tinggi, namun masih dapat diatasi melalui serangkaian uji coba dan teknih budi daya yang intensif.
sumber : David Mulyono
RECOGNITION OF DECORATIVE TYPE FISH ( DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA
RECOGNITION OF DECORATIVE TYPE FISH ( DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA
ANTECEDENT।
In order to improving earnings of society of DKI Jakarta specially farmer of fish / fisherman have been gone through [by] various means among others exploit lawn farm with effort conservancy of decorative fish। Amount of decorative fish specially decorative fish [of] hard freshwater earn conducting in Indonesia there [is] 91 type। From to 91 fish type, there are some very potential the decorative fish type to be developed [by] because besides can be marketed in country also can represent commodity of eksport। the potential decorative Fish types for example fish of Diskus, Severum, Rainbow, and Niasa। To be more recognize the fish type [at] Chapter hereinafter of dikemukanan of[is nature of from fishs
2. DECORATIVE TYPE FISH
1) Diskus. Decorative Fish [of] Diskus ( Symhysodonodiscus) represent one of [the] decorative fish type [of] freshwater coming from Amazon river ( Brasil). the Type Fish have good economic value and very popular [by] [in] various state. In Indonesia fish of Diskus have earned conducting and very potensil to be developed [by] because besides can be marketed [by] local marketing, also can represent exporting commodity.
Individuality of fish of diskus [is] its body benetuk [of] flimsy body, domed loo like stromateus fish with redish brown primary colour। fish of Diskus earn conducting in Aquarium to a couple of diskus can be placed in fairish aquarium [about/around] 75 x 35 x 35 cm of[is quality of needed to life and expand fish of diskus that is [in] clear water, temperature [about/around] 28 - 30 degree of Celcius pH ( degree of acidity) 5 - 6 besides dissolve Oxygen content [of] him have to be high enough that is + bigger than 3 ppm ( pxrt per million). Fish of Diskus have earned breeding after old age [among/between] 15 - 20 months.
As for [common/ public] food eaten that is water bug, cuk, worm ( food made in) existing [is]
2) Severum।
Fish of Severum Cichlosoma severum [is] one of [the] decorative fish type [of] freshwater coming from upstate United States ( Arhazone. S). Its short Body, fat and attenuate with body primary colour vary that is brass chocolate, or black [is] chocolate. this Fish type also have high economic value. Fish of Severum can be looked after in basin or aquarium cement the quality of needed to water conservancy of fish of severum that is: PH : 5,5 - 7, temperature irrigate 21 - 25 degree of celcius। Fish of Severum have earned to be breeded [by] after old age + year of the size 12 - 15 cm.
Masculine mains from female can be differentiated from masculine mains size measure and colour [of] chromatic more fair with larger ones mains from is female. Food able to be given [by] this fish type for example: water bug, cuk, silk worm etc.
3) Fish of Rainbow। Fish of Rainbow represent decorative fish type which enthused [by] many society because this fish type also can represent commodity of eksport. There [is] 2 type of rainbow which is famous enough that is Irian rainbow ( Melano Tacnia and maccaulochi of Rainbow its Anlanesi Telmatherina Rainbow Irian primary colour ahl ladigesi ogilby [of] silver with metallic dark colour while its Sulawesi primary colour rainbow turn yellow olive, with undercarriage colour turn yellow this fish type [is] including fish lay eggs by gluing egg [at] water crop. Quality of needed to water life of this fish type that is temperature irrigate 23 - 26 degree of Cecius। Ph. water better above 7.
this Fish type [of] dapt live and prolific in cement basin and also aquarium. This fish have earned memijah after old age + 7 months in size measure 5 - 7 cm. Food which is [is] ordinary to be given in conservancy of this fish that is water bug, worm of zambut or of cuk. So that fish can grow better during conservancy lay eggs, water have to klop fulfill conditions and [done/conducted] [by] replacement of water + 1 week 1 times. 4) Fish of Niasa। Psedatropheus Auratus Bonlenger or English name of Auratus. [In] DKI jakarta more knowledgeable by the name of this Niasa fish type have long body rather level off, primary colour turn yellow coal black or fair golden. Fish of Niasa very aggresive its movement so that have to beware of if will be mixed with other fish type.
Quality of needed to water [is] life and expand fish of Niasa that is pH = 7, temperature 24 - 27 degree of Celcius. Conservancy can be [done/conducted] in basin cement or aquarium. Height of needed to water [is] pemijahan [about/around] 30 - 35 cm. Fish of Niasa have earned breeding in age 7 months of the size body length : 7 cm. female and Masculine mains can be differentiated from oafish turn yellow its fin [of] him. Masculine fish usually have oafishly [of] in, whereas the female [do] not. given food for example : Cuk, water bug
3. SOURCE OF. On Duty Fishery, Governmental [of] DKI Jakarta, Jakarta, 1996
4. CONTACT [RELATION/LINK]. Governmental [of] DKI Jakarta, On Duty Fishery of Jakarta, March 2001. Electroplated by : Tarwiyah.
ANTECEDENT।
In order to improving earnings of society of DKI Jakarta specially farmer of fish / fisherman have been gone through [by] various means among others exploit lawn farm with effort conservancy of decorative fish। Amount of decorative fish specially decorative fish [of] hard freshwater earn conducting in Indonesia there [is] 91 type। From to 91 fish type, there are some very potential the decorative fish type to be developed [by] because besides can be marketed in country also can represent commodity of eksport। the potential decorative Fish types for example fish of Diskus, Severum, Rainbow, and Niasa। To be more recognize the fish type [at] Chapter hereinafter of dikemukanan of[is nature of from fishs
2. DECORATIVE TYPE FISH
1) Diskus. Decorative Fish [of] Diskus ( Symhysodonodiscus) represent one of [the] decorative fish type [of] freshwater coming from Amazon river ( Brasil). the Type Fish have good economic value and very popular [by] [in] various state. In Indonesia fish of Diskus have earned conducting and very potensil to be developed [by] because besides can be marketed [by] local marketing, also can represent exporting commodity.
Individuality of fish of diskus [is] its body benetuk [of] flimsy body, domed loo like stromateus fish with redish brown primary colour। fish of Diskus earn conducting in Aquarium to a couple of diskus can be placed in fairish aquarium [about/around] 75 x 35 x 35 cm of[is quality of needed to life and expand fish of diskus that is [in] clear water, temperature [about/around] 28 - 30 degree of Celcius pH ( degree of acidity) 5 - 6 besides dissolve Oxygen content [of] him have to be high enough that is + bigger than 3 ppm ( pxrt per million). Fish of Diskus have earned breeding after old age [among/between] 15 - 20 months.
As for [common/ public] food eaten that is water bug, cuk, worm ( food made in) existing [is]
2) Severum।
Fish of Severum Cichlosoma severum [is] one of [the] decorative fish type [of] freshwater coming from upstate United States ( Arhazone. S). Its short Body, fat and attenuate with body primary colour vary that is brass chocolate, or black [is] chocolate. this Fish type also have high economic value. Fish of Severum can be looked after in basin or aquarium cement the quality of needed to water conservancy of fish of severum that is: PH : 5,5 - 7, temperature irrigate 21 - 25 degree of celcius। Fish of Severum have earned to be breeded [by] after old age + year of the size 12 - 15 cm.
Masculine mains from female can be differentiated from masculine mains size measure and colour [of] chromatic more fair with larger ones mains from is female. Food able to be given [by] this fish type for example: water bug, cuk, silk worm etc.
3) Fish of Rainbow। Fish of Rainbow represent decorative fish type which enthused [by] many society because this fish type also can represent commodity of eksport. There [is] 2 type of rainbow which is famous enough that is Irian rainbow ( Melano Tacnia and maccaulochi of Rainbow its Anlanesi Telmatherina Rainbow Irian primary colour ahl ladigesi ogilby [of] silver with metallic dark colour while its Sulawesi primary colour rainbow turn yellow olive, with undercarriage colour turn yellow this fish type [is] including fish lay eggs by gluing egg [at] water crop. Quality of needed to water life of this fish type that is temperature irrigate 23 - 26 degree of Cecius। Ph. water better above 7.
this Fish type [of] dapt live and prolific in cement basin and also aquarium. This fish have earned memijah after old age + 7 months in size measure 5 - 7 cm. Food which is [is] ordinary to be given in conservancy of this fish that is water bug, worm of zambut or of cuk. So that fish can grow better during conservancy lay eggs, water have to klop fulfill conditions and [done/conducted] [by] replacement of water + 1 week 1 times. 4) Fish of Niasa। Psedatropheus Auratus Bonlenger or English name of Auratus. [In] DKI jakarta more knowledgeable by the name of this Niasa fish type have long body rather level off, primary colour turn yellow coal black or fair golden. Fish of Niasa very aggresive its movement so that have to beware of if will be mixed with other fish type.
Quality of needed to water [is] life and expand fish of Niasa that is pH = 7, temperature 24 - 27 degree of Celcius. Conservancy can be [done/conducted] in basin cement or aquarium. Height of needed to water [is] pemijahan [about/around] 30 - 35 cm. Fish of Niasa have earned breeding in age 7 months of the size body length : 7 cm. female and Masculine mains can be differentiated from oafish turn yellow its fin [of] him. Masculine fish usually have oafishly [of] in, whereas the female [do] not. given food for example : Cuk, water bug
3. SOURCE OF. On Duty Fishery, Governmental [of] DKI Jakarta, Jakarta, 1996
4. CONTACT [RELATION/LINK]. Governmental [of] DKI Jakarta, On Duty Fishery of Jakarta, March 2001. Electroplated by : Tarwiyah.
PENGENALAN JENIS IKAN HIAS
PENGENALAN JENIS IKAN HIAS
(DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA)
1. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat DKI Jakarta khususnya
petani ikan/nelayan telah ditempuh berbagai cara diantaranya memanfaatkan
lahan pekarangan dengan usaha pemeliharaan ikan hias.
Jumlah ikan hias khususnya ikan hias air tawar yang susah dapat
dibudidayakan di Indonesia ada 91 jenis.
Dari ke 91 jenis ikan tersebut, ada beberapa jenis ikan hias tersebut yang
sangat potensial untuk dikembangakan karena selain dapat dipasarkan didalam
negeri juga dapat merupakan komoditas eksport.
Jenis-jenis ikan hias yang potensial tersebut antara lain ikan Diskus, Severum,
Rainbow, dan Niasa. Untuk lebih mengenal jenis ikan tersebut pada Bab
selanjutnya akan dikemukanan sifat dari ikan-ikan tersebut.
2. JENIS IKAN HIAS
1) Diskus
Ikan hias Diskus (Symhysodonodiscus) merupakan salah satu jenis ikan hias
air tawar yang berasal dari sungai Amazon (Brasil). Jenis ikan tersebut
mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat disenangi di berbagai
negara. Di Indonesia ikan Diskus sudah dapat dibudidayakan dan sangat
potensil untuk dikembangkan karena selain dapat dipasarkan dipasaran
lokal, juga dapat merupakan komoditas ekspor.
Ciri khas dari ikan diskus ialah benetuk badannya tubuh pipih, bundar mirip
ikan bawal dengan warna dasar coklat kemerah-merahan. Ikan diskus dapat
dibudidayakan didalam Aquarium untuk sepasang diskus dapat ditempatkan
dalam aquarium berukuran sekitar 75 x 35 x 35 cm kwalitas yang diperlukan
untuk hidup dan berkembang ikan diskus yaitu di air yang jernih, temperatur
sekitar 28 - 30 derajat Celcius pH (derajat keasaman) 5 - 6 selain itu kandungan Oksigen
terlarutnya harus cukup tinggi yaitu + lebih besar dari 3 ppm (pxrt per
million).
Ikan Diskus sudah dapat dikembangbiakan setelah berumur antara 15 - 20
bulan. Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk,
cacing (makanan buatan) yang ada dipasaran.
2) Severum
Ikan severum Cichlosoma severum adalah salah satu jenis ikan hias air
tawar yang berasal dari Amerika Serikat bagian Utara (Arhazone. S).
Tubuhnya pendek, gemuk dan gepeng dengan warna dasar tubuh bervariasi
yaitu coklat kekuningan, atau hitam kecoklatan. Jenis ikan ini juga
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Ikan Severum dapat dipelihara didalam aquarium atau bak semen kwalitas
air yang diperlukan untuk pemeliharaan ikan severum yaitu: PH. : 5,5 - 7,
temperatur air 21 - 25 derajat celcius. Ikan Severum sudah dapat dipijahkan setelah
berumur + tahun dengan ukuran 12 - 15 cm.
Induk jantan dari betina dapat dibedakan dari warna dan ukuran induk jantan
berwarna lebih cerah dengan induk yang lebih besar dari betina. Makanan
yang dapat diberikan jenis ikan ini antara lain: kutu air, cuk, cacing sutera dll.
3) Ikan Rainbow
Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat
karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis
rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi
dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl
Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik
sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna
bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan
menempelkan telur pada tanaman air.
Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur
air 23 - 26 derajat Cecius. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan
berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat
memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm.
Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air,
cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama
pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan
penggantian air + 1 minggu 1 kali.
4) Ikan Niasa
Psedatropheus auratus Bonlenger atau nama Inggris Auratus. Di DKI jakarta
lebih dikenal dengan nama Niasa jenis ikan ini mempunyai tubuh memanjang
agak datar, warna dasar kuning keemasan cerah atau hitam pekat. Ikan
Niasa sangat agresif gerakannya sehingga harus hati-hati kalau akan
dicampur dengan jenis ikan lain.
Kwalitas air yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan Niasa yaitu
pH = 7, temperatur 24 - 27 derajat Celcius. Pemeliharaan dapat dilakukan didalam bak
semen atau aquarium. Ketinggian air yang diperlukan untuk pemijahan
sekitar 30 - 35 cm.
Ikan Niasa sudah dapat memijahkan dalam umur 7 bulan dengan ukuran
panjang tubuh : 7 cm. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari totol
kuning sirip anusnya.
Ikan jantan biasanya memiliki totol-totol in, sementara si betina tidak.
Makanan yang diberikan antara lain : Cuk, kutu air.
3. SUMBER
Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996
4. KONTAK HUBUNGAN
Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan
Jakarta, Maret 2001
Disadur oleh : Tarwiyah
(DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA)
1. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat DKI Jakarta khususnya
petani ikan/nelayan telah ditempuh berbagai cara diantaranya memanfaatkan
lahan pekarangan dengan usaha pemeliharaan ikan hias.
Jumlah ikan hias khususnya ikan hias air tawar yang susah dapat
dibudidayakan di Indonesia ada 91 jenis.
Dari ke 91 jenis ikan tersebut, ada beberapa jenis ikan hias tersebut yang
sangat potensial untuk dikembangakan karena selain dapat dipasarkan didalam
negeri juga dapat merupakan komoditas eksport.
Jenis-jenis ikan hias yang potensial tersebut antara lain ikan Diskus, Severum,
Rainbow, dan Niasa. Untuk lebih mengenal jenis ikan tersebut pada Bab
selanjutnya akan dikemukanan sifat dari ikan-ikan tersebut.
2. JENIS IKAN HIAS
1) Diskus
Ikan hias Diskus (Symhysodonodiscus) merupakan salah satu jenis ikan hias
air tawar yang berasal dari sungai Amazon (Brasil). Jenis ikan tersebut
mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat disenangi di berbagai
negara. Di Indonesia ikan Diskus sudah dapat dibudidayakan dan sangat
potensil untuk dikembangkan karena selain dapat dipasarkan dipasaran
lokal, juga dapat merupakan komoditas ekspor.
Ciri khas dari ikan diskus ialah benetuk badannya tubuh pipih, bundar mirip
ikan bawal dengan warna dasar coklat kemerah-merahan. Ikan diskus dapat
dibudidayakan didalam Aquarium untuk sepasang diskus dapat ditempatkan
dalam aquarium berukuran sekitar 75 x 35 x 35 cm kwalitas yang diperlukan
untuk hidup dan berkembang ikan diskus yaitu di air yang jernih, temperatur
sekitar 28 - 30 derajat Celcius pH (derajat keasaman) 5 - 6 selain itu kandungan Oksigen
terlarutnya harus cukup tinggi yaitu + lebih besar dari 3 ppm (pxrt per
million).
Ikan Diskus sudah dapat dikembangbiakan setelah berumur antara 15 - 20
bulan. Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk,
cacing (makanan buatan) yang ada dipasaran.
2) Severum
Ikan severum Cichlosoma severum adalah salah satu jenis ikan hias air
tawar yang berasal dari Amerika Serikat bagian Utara (Arhazone. S).
Tubuhnya pendek, gemuk dan gepeng dengan warna dasar tubuh bervariasi
yaitu coklat kekuningan, atau hitam kecoklatan. Jenis ikan ini juga
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Ikan Severum dapat dipelihara didalam aquarium atau bak semen kwalitas
air yang diperlukan untuk pemeliharaan ikan severum yaitu: PH. : 5,5 - 7,
temperatur air 21 - 25 derajat celcius. Ikan Severum sudah dapat dipijahkan setelah
berumur + tahun dengan ukuran 12 - 15 cm.
Induk jantan dari betina dapat dibedakan dari warna dan ukuran induk jantan
berwarna lebih cerah dengan induk yang lebih besar dari betina. Makanan
yang dapat diberikan jenis ikan ini antara lain: kutu air, cuk, cacing sutera dll.
3) Ikan Rainbow
Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat
karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis
rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi
dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl
Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik
sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna
bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan
menempelkan telur pada tanaman air.
Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur
air 23 - 26 derajat Cecius. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan
berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat
memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm.
Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air,
cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama
pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan
penggantian air + 1 minggu 1 kali.
4) Ikan Niasa
Psedatropheus auratus Bonlenger atau nama Inggris Auratus. Di DKI jakarta
lebih dikenal dengan nama Niasa jenis ikan ini mempunyai tubuh memanjang
agak datar, warna dasar kuning keemasan cerah atau hitam pekat. Ikan
Niasa sangat agresif gerakannya sehingga harus hati-hati kalau akan
dicampur dengan jenis ikan lain.
Kwalitas air yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan Niasa yaitu
pH = 7, temperatur 24 - 27 derajat Celcius. Pemeliharaan dapat dilakukan didalam bak
semen atau aquarium. Ketinggian air yang diperlukan untuk pemijahan
sekitar 30 - 35 cm.
Ikan Niasa sudah dapat memijahkan dalam umur 7 bulan dengan ukuran
panjang tubuh : 7 cm. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari totol
kuning sirip anusnya.
Ikan jantan biasanya memiliki totol-totol in, sementara si betina tidak.
Makanan yang diberikan antara lain : Cuk, kutu air.
3. SUMBER
Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996
4. KONTAK HUBUNGAN
Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan
Jakarta, Maret 2001
Disadur oleh : Tarwiyah
DISEASE OF FISH of BAUNG AND OPERATION
DISEASE AND its OPERATION.
Fish which [is] conducting oftentimes experience of disease attack. come down with Fish marking in general [is] fish often see to swim on the surface of irrigate ( non when eating), fish cut loose from its group, fish swim quiesently on the surface of irrigate, fish oftentimes go away from inclusion of water, tardy peripatetic fish, fish mouth gasp for breath on the surface of irrigate, passion eat to decrease, rather blue pale chromatic fish gill until. A. Disease of Parasite Parasite represent flora or animal draping its life [at] its its[his]. Disease which because of parasite can come from bacterium, mushroom, protozoa, and or worm.
Resulted from [by] disease [is] Bacterium. resulted from [by] Disease [is] bacterium referred [as] [by] disease of bakterial. This disease [is] in general marked with existence of redish chromatic hurt or red pocks [at] part of external body [of] fish, like abscess contain dilution, natural fin [of] deterioration so that destroy, damage and pale gill, natural stomach [of] pembengkakan, and sometime go with the tide broken fish. Bacterium type attacking bream, especially and lele of baung, [is] bacterium of Aeromonas hydrophyla. This bacterium can cause disease if condition of environment and or the condition of itself fish become uglyly.
Prevention of disease of bakterial can be [done/conducted] used [to] medicinize like Malacheet Green ( MG). Malacheet Green in the form of green flour which can buy [by] [in] drugstores or dispensary. Dose the used [is] 1 - 15 mg / litre. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of Malacheet Green during about 10 - 15 minute. Medication [done/conducted] [by] 3 times successively with time distance 2 - 3 day.
Resulted from [by] disease [is] Mushroom. attacked [by] Marking Fish [is] mushroom [is] [at] fish husk growed [by] smooth yarns like white or white chromatic cotton [is] cacao. Mushroom type which often attack bream ( like catfish) [is] mushroom of Aphanomyces ( attacking body interior) and Saprolegmia ( attacking body exterior). Preventive and medication of this disease can be [done/conducted] with pool keep cleaning or of karamba and avoid treatment of which can generate hurt [at] fish. come down with fish [is] mushroom plunged into condensation of Malacheet Green dose 60 g / m3 during 15 minute, or with dose 2 - 3 gram / m3 irrigate during 1 [hour/clock] or plunged in condensation of formalin ( rate 10 %) with dose 1,5 - 2 cc / litre irrigate during 15 minute.
Resulted from [by] disease [is] Protozoa. most Disease [is] often met [at] fish larva [is] disease of white blot ( spot white). This disease because of protozoa parasite of type of Ichthyopthirius multifilis so that often [is] also referred [as] [by] disease " Ich". this Ichthyopthirius Multifilis destroy fish mucus cells and can cause haemorrahage which often seen [at] fish gill and fin. Preventive [of] disease of Ichthyopthirius multifilis can be [done/conducted] by creating freshness atmosphere and health to fish by labouring the quality of water remain to be optimal in a condition which accompanied [by] [gift/ giving] of good food. Medication or eradication of disease can be [done/conducted] with :
a. Fish which is [is] ill to be soaked in cooking salt condensation ( Dose NaCl) 10 - 15 g / litre irrigate during 20 minute or 25 g / litre during 10 - 15 minute
b. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of Malacheet Green dose 0,05 mg / litre during 3 - 4 day or 0,15 mg / litre
c. Temperature irrigate conservancy improved to become 30°C and every day irrigate to be changed [by] 50
d. Fish which is [is] ill to be soaked in Acriflavine ( dose hydrochlorida) 10 mg / litre.
Resulted From [By] disease [is] Learnea.
Parasite of Leamea represent parasite which patch [at] fish body exterior. This parasite can cause the happening of bodily injury so that become way in to mushroom bacterium, and virus ( Picture 29). Incidence [of] this Learnea because of to the number of organic materials in the form of garbage, rest of food pickings and fertilization, irrigating of pool which [do] not emit a stream of, temperature which is high relative, or solid [is] high dispersion. Symptoms [at] come down with fish [is] Learnea [is] [at] organ, fin, and eye found [by] parasite which patch. come down with fish also often experience of bodily injury or chafe [at] parasite adherence place.
Prevention of disease of Lernea can be [done/conducted] by filtering water beforehand before [entered/included] to pool. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of PK ( Potassium of Permanganat = KMNO2) dose 20 - 25 mg / litre during 2 - 3 [hour/clock]. Operation of disease earn [is] also [done/conducted] soaked fish in condensation of formalin 10 % with dose 250 ml / m3 irrigate during 10 - 15 minute and repeated [by] 2 - 3 times in a time gap 2 - 3 day. Preventive [of] this disease earn [is] also [done/conducted] soaked attacked fish by using Dipterex Bromex dose 0,25 mg / litre.
Resulted From [By] disease [is] Flea Fish ( Argulus).
Flea Fish ( Argulus) live by sucking fish blood. this Fish flea can go about from one fish tail to other fish ( Picture 29). attacked [by] Fish marking [is] fish flea [is] fish become thinly, even attacked fish often die because stung and sipped [by] its blood. Fish movement become slowgoing and [at] body / body sometime there are red blot.
Prevention of fish flea can be [done/conducted] with draining of periodical pool, at the same time process land;ground, fertilizing, calcifying pool to annihilate eggs of Argulus, and also commutation of pool water often possible. Eradication or medication to come down with fish can be gone through soaked fish in cooking salt condensation ( Nacl) 20 g / litre during 5 minute or earn also soak ill fish in Insektisida Malathin and of Dipterex with dose 0,25 mg / litre.
Resulted from [by] disease [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus.
Gyrodactylus and of Dactylogyrus [is] of a kind worm very small which live as fish parasite and destroy gill and also fish epidermis. attacked [by] gill [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus become bodily injury, later;then arise haemorrahage of effect exhalation of fish annoyed. attacked Fish husk become muccous many ( Picture 29). Medication to attacked [by] fish [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus can be [done/conducted] by using condensation of fomalin 25 mg / water litre.

Picture 29. Parasite type cause of disease of fish.
B. Disease of Non-Parasit.
Disease of non-parasit [is] disease which because of environmental factors like water fisika-kimia which disagree with requirement of food factor and fish / gizi which [do] not fufilled. Disease effect of fisika-kimia irrigate for example change of temperature, pH, lacking of oxygen, existence of poisongass ( NH3, H2S), and poisonous Iihat vitamin. Disease effect of bad food ( malnutrien), for example lacking of rotten food-stuff or vitamin and poisonous. resulted from [by] Disease symptom lacking of food [is] incidence [of] intestine symptom break which found many [at] fish of group of catfish. Disease of bent bone [at] catfish anticipated for want of vitamin C. Disease of a kind tumor which because of mushroom poison ( Aflatoxin) [pass/through] legume materials used for the menyusuh of composition of pakan made in. To overcome disease of above mentioned non-parasit can be [done/conducted] by labouring the condition of food and environment matching with requirement of fish.
Fish which [is] conducting oftentimes experience of disease attack. come down with Fish marking in general [is] fish often see to swim on the surface of irrigate ( non when eating), fish cut loose from its group, fish swim quiesently on the surface of irrigate, fish oftentimes go away from inclusion of water, tardy peripatetic fish, fish mouth gasp for breath on the surface of irrigate, passion eat to decrease, rather blue pale chromatic fish gill until. A. Disease of Parasite Parasite represent flora or animal draping its life [at] its its[his]. Disease which because of parasite can come from bacterium, mushroom, protozoa, and or worm.
Resulted from [by] disease [is] Bacterium. resulted from [by] Disease [is] bacterium referred [as] [by] disease of bakterial. This disease [is] in general marked with existence of redish chromatic hurt or red pocks [at] part of external body [of] fish, like abscess contain dilution, natural fin [of] deterioration so that destroy, damage and pale gill, natural stomach [of] pembengkakan, and sometime go with the tide broken fish. Bacterium type attacking bream, especially and lele of baung, [is] bacterium of Aeromonas hydrophyla. This bacterium can cause disease if condition of environment and or the condition of itself fish become uglyly.
Prevention of disease of bakterial can be [done/conducted] used [to] medicinize like Malacheet Green ( MG). Malacheet Green in the form of green flour which can buy [by] [in] drugstores or dispensary. Dose the used [is] 1 - 15 mg / litre. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of Malacheet Green during about 10 - 15 minute. Medication [done/conducted] [by] 3 times successively with time distance 2 - 3 day.
Resulted from [by] disease [is] Mushroom. attacked [by] Marking Fish [is] mushroom [is] [at] fish husk growed [by] smooth yarns like white or white chromatic cotton [is] cacao. Mushroom type which often attack bream ( like catfish) [is] mushroom of Aphanomyces ( attacking body interior) and Saprolegmia ( attacking body exterior). Preventive and medication of this disease can be [done/conducted] with pool keep cleaning or of karamba and avoid treatment of which can generate hurt [at] fish. come down with fish [is] mushroom plunged into condensation of Malacheet Green dose 60 g / m3 during 15 minute, or with dose 2 - 3 gram / m3 irrigate during 1 [hour/clock] or plunged in condensation of formalin ( rate 10 %) with dose 1,5 - 2 cc / litre irrigate during 15 minute.
Resulted from [by] disease [is] Protozoa. most Disease [is] often met [at] fish larva [is] disease of white blot ( spot white). This disease because of protozoa parasite of type of Ichthyopthirius multifilis so that often [is] also referred [as] [by] disease " Ich". this Ichthyopthirius Multifilis destroy fish mucus cells and can cause haemorrahage which often seen [at] fish gill and fin. Preventive [of] disease of Ichthyopthirius multifilis can be [done/conducted] by creating freshness atmosphere and health to fish by labouring the quality of water remain to be optimal in a condition which accompanied [by] [gift/ giving] of good food. Medication or eradication of disease can be [done/conducted] with :
a. Fish which is [is] ill to be soaked in cooking salt condensation ( Dose NaCl) 10 - 15 g / litre irrigate during 20 minute or 25 g / litre during 10 - 15 minute
b. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of Malacheet Green dose 0,05 mg / litre during 3 - 4 day or 0,15 mg / litre
c. Temperature irrigate conservancy improved to become 30°C and every day irrigate to be changed [by] 50
d. Fish which is [is] ill to be soaked in Acriflavine ( dose hydrochlorida) 10 mg / litre.
Resulted From [By] disease [is] Learnea.
Parasite of Leamea represent parasite which patch [at] fish body exterior. This parasite can cause the happening of bodily injury so that become way in to mushroom bacterium, and virus ( Picture 29). Incidence [of] this Learnea because of to the number of organic materials in the form of garbage, rest of food pickings and fertilization, irrigating of pool which [do] not emit a stream of, temperature which is high relative, or solid [is] high dispersion. Symptoms [at] come down with fish [is] Learnea [is] [at] organ, fin, and eye found [by] parasite which patch. come down with fish also often experience of bodily injury or chafe [at] parasite adherence place.
Prevention of disease of Lernea can be [done/conducted] by filtering water beforehand before [entered/included] to pool. Fish which is [is] ill to be soaked in condensation of PK ( Potassium of Permanganat = KMNO2) dose 20 - 25 mg / litre during 2 - 3 [hour/clock]. Operation of disease earn [is] also [done/conducted] soaked fish in condensation of formalin 10 % with dose 250 ml / m3 irrigate during 10 - 15 minute and repeated [by] 2 - 3 times in a time gap 2 - 3 day. Preventive [of] this disease earn [is] also [done/conducted] soaked attacked fish by using Dipterex Bromex dose 0,25 mg / litre.
Resulted From [By] disease [is] Flea Fish ( Argulus).
Flea Fish ( Argulus) live by sucking fish blood. this Fish flea can go about from one fish tail to other fish ( Picture 29). attacked [by] Fish marking [is] fish flea [is] fish become thinly, even attacked fish often die because stung and sipped [by] its blood. Fish movement become slowgoing and [at] body / body sometime there are red blot.
Prevention of fish flea can be [done/conducted] with draining of periodical pool, at the same time process land;ground, fertilizing, calcifying pool to annihilate eggs of Argulus, and also commutation of pool water often possible. Eradication or medication to come down with fish can be gone through soaked fish in cooking salt condensation ( Nacl) 20 g / litre during 5 minute or earn also soak ill fish in Insektisida Malathin and of Dipterex with dose 0,25 mg / litre.
Resulted from [by] disease [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus.
Gyrodactylus and of Dactylogyrus [is] of a kind worm very small which live as fish parasite and destroy gill and also fish epidermis. attacked [by] gill [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus become bodily injury, later;then arise haemorrahage of effect exhalation of fish annoyed. attacked Fish husk become muccous many ( Picture 29). Medication to attacked [by] fish [is] Gyrodactylus and of Dactylogyrus can be [done/conducted] by using condensation of fomalin 25 mg / water litre.
Picture 29. Parasite type cause of disease of fish.
B. Disease of Non-Parasit.
Disease of non-parasit [is] disease which because of environmental factors like water fisika-kimia which disagree with requirement of food factor and fish / gizi which [do] not fufilled. Disease effect of fisika-kimia irrigate for example change of temperature, pH, lacking of oxygen, existence of poisongass ( NH3, H2S), and poisonous Iihat vitamin. Disease effect of bad food ( malnutrien), for example lacking of rotten food-stuff or vitamin and poisonous. resulted from [by] Disease symptom lacking of food [is] incidence [of] intestine symptom break which found many [at] fish of group of catfish. Disease of bent bone [at] catfish anticipated for want of vitamin C. Disease of a kind tumor which because of mushroom poison ( Aflatoxin) [pass/through] legume materials used for the menyusuh of composition of pakan made in. To overcome disease of above mentioned non-parasit can be [done/conducted] by labouring the condition of food and environment matching with requirement of fish.
PANEN DAN PENANGANAN PASCAPANEN IKAN BAUNG
BAB VII
PANEN DAN PENANGANAN PASCAPANEN
Panen ikan baung biasanya dilakukan setelah pemeliharaan selama 3 - 3,5 bulan atau ikan telah berukuran 250 - 500 g dan panjang 20 - 25 cm. Panen dapat dilakukan secara bertahap atau secara total, tergantung pada keperluan.
A. Panen
Panen ikan baung yang dibelihara di karamba dan ikan baung yang dipelihara di kolam adalah sebagai berikut.
1. Cara Panen di Karamba
Sebelum panen dilakukan, kita harus menyiapkan terlebih dahulu alat-alat seperti tangguk, keranjang atau ember, kantung plastik, tabung gas oksigen, dan timbangan. Panen ikan baung di karamba yang terbuat dari jaring plastik dapat dilakukan dengan cara mengangkat karamba tersebut. Setelah karamba diangkat sebagian, kemudian ditangguk berulang kali sampai ikan dalam karamba tersebut habis. Sehabis ikan-ikan dalam karamba tersebut dipanen, seluruh kotoran dalam karamba dibersihkan karamba kemudian dijemur beberapa hari hingga kering.
Jika karamba untuk pemeliharaan ikan terbuat dari kayu atau bambu yang cukup berat, cara pemanenan ikan dilakukan dengan menggunakan tangguk. Ikan-ikan yang akan dipanen diciduk dari atas melalui pintu karamba. Cara panen ikan di karamba yang terbuat dari kayu atau bambu memang agak sukar dan memerlukan waktu yang cukup lama. Di samping itu, kita sukar mengetahui apakah ikan sudah habis atau masih ada dalam karamba. Karamba yang terbuat dari kayu atau bambu tidak dapat dikeringkan dan dibersihkan bagian dalamnya.
2. Cara Panen di Kolam
Panen ikan baung di kolam dilakukan setelah pemeliharaan 3 - 4 bulan dan ukuran ikan telah mencapai 20 - 25 cm dengan bobot 250 - 500 g. Panen ikan di kolam dapat dilakukan secara bertahap jika ukuran ikan tidak seragam. Jika ukuran ikan relative seragam, pemanenan dapat dilakukan secara total. Sebelum panen dilaksanakan, segala peralatan dan sarana penunjang harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk menghindari penurunan mutu ikan.
Panen ikan di kolam sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 6.00 - 7.00 supaya ikan tetap segar dan tenaga kerjanya pun masih kuat sehingga panen dapat selesai sebelum hari panas. Panen dilakukan dengan terlebih dahulu membuang air kolam. Jika konstruksi kolam baik, panen dapat dilakukan di dekat pintu air. Sebaliknya, jika konstruksi kolam sederhana dan berlumpur, panen sebaiknya dilakukan dengan menelusuri seluruh bagian kolam dengan menggunakan jaring atau menggunakan tangan langsung karena ikan baung senang membenamkan diri di dalam lumpur.
Jika menginginkan ikan hidup sampai pada konsumen, pada waktu panen sebaiknya disisipkan hapa yang diikat dekat pintu air agar ikan yang dipanen tertampung terlebih dahulu di hapa. Kemudian, ikan diangkut dengan wadah yang berisi air, misalnya tong plastik ataujerigen yang dipotong tengahnya.
B. Penanganan Pascapanen
Seperti halnya komoditas ikan yang lain, ikan baung termasuk komoditas yang cepat rusak (mutunya menurun) karena proses pembusukan. Proses pembusukan terjadi sejak ikan mati dengan terjadinya proses autolysis oleh enzim dan bakteri menyebabkan terjadinya penurunan mutu dan pembusukan pada tubuh ikan. Agar penurunan mutu dapat dihambat, penanganan ikan ketika panen dan setelah dipanen (pascapanen) harus ditangani dengan baik dan benar.
1. Ikan Segar
Kebanyakan ikan baung dijual dalam bentuk ikan segar yang mati. Namun, jika menginginkan ikan hidup sampai ke konsumen, maka dapat ditempuh dengan cara seperti pada pengangkutan benih. Wadah yang digunakan untuk mengangkut ikan hidup dapat dibuat lebih besar atau lebih banyak, baik dalam kantong plastik maupun dalam tong plastik.
Ikan segar yang mati yang diangkut ke konsumen memerlukan perhatian khusus untuk mencegah terjadinya pembusukan. kebersihan ikan harus diperhatikan dengan cara dicuci sebelum dimasukkan ke dalam wadah pengangkutan. Demikianjuga, penyusunan ikan dalam wadah tidak boleh terlalu tinggi agar ikan yang berada di bawah tidak rusak. Pengangkutan ikan dapat menggunakan es dalam jumlah yang cukup agar bakteri atau mikroorganisme lain tidak aktif berkembang.
2. Ikan Asap
Selain dikonsumsi segar, ikan baung juga telah populer untuk dijadikan ikan asap. Di pasar-pasar di Kotamadya Pekanbaru, Kabupaten Kampar dan daerah lainnya di Riau selalu dijumpai ikan baung asap. Namun, produk ikan baung asap belum dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Konsumen ikan baung asap di propinsi Riau umumnya masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas karena harga jualnya relatif mahal, yaitu Rp 90.000,00 - Rp 95.000,00 per kilogram.

Gambar 30. Ikan Baung Asap
Di propinsi Riau ikan baung yang dihasilkan dari perairan umum. Biasanya, pengasapan dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan rumah asap yang terbuat dari drum dengan sumber asap adalah sabut kelapa dan kayu. Pengasapan berlangsung antara 12 - 20 jam. Ikan asap yang belum terjual atau dikonsumsi biasanya dimasukkan ke dalam rumah asap lagi. Ukuran ikan baung yang diasap biasanya berkisar 100 - 250 g. Pengolahan dan pengawetan ikan baung secara tradisional pada prinsipnya adalah mengurangi kadar air untuk menghindari proses kemunduran mutu dan pembusukan, baik secara kimiawi, biologis, maupun fisik.
Cara pengawetan ikan dengan pengasapan sudah dikenal manusia sejak zaman dahulu, yaitu sejak ditemukannya cara membuat api dan ikan menjadi masak karena panasnya api. Setelah menjadi masak, ikan tersebut akan berbau asap yang berasal dari kayu yang terbakar yang dapat menimbulkan bau dan aroma yang khas. Dengan kemajuan tingkat pemikiran dan pengetahuan, manusia makin tahu bahwa dengan pengasapan ikan bisa disimpan lebih lama dalam keadaan.enak untuk dimakan.
Pengasapan merupakan salah satu teknik dehidrasi (pengeringan) yang dilakukan untuk memperpanjang daya awet ikan dengan menggunakan bahan bakar kayu sebagai bahan yang menghasilkan asap. Pengasapan akan menghasilkan panas yang dapat menyebabkan berkurangnya kadar air ikan dan mengakibatkan terhambatnya aktivitas mikroba. Daya awet produk ikan yang diasap tidak hanya disebabkan oleh proses pemanasan, pengeringan, dan penggaraman, tetapi juga asap yang dihasilkan mempunyai senyawa-senyawa tertentu yang bersifat bakterisidal.
Proses pengasapan ikan sebenamya terjadi serangkaian proses penggaraman, pengeringan, pemanasan dan pengasapan. Asap yang dihasilkan membuat ikan yang diasap menjadi mengkilat. Sifat mengkilat ini dihasilkan oleh reaksi-reaksi kimia dari senyawa-senyawa dalam asap, yaitu formaldehid dengan fenol yang menghasilkan lapisan damar tiruan pada permukaan ikan sehingga menjadi mengkilat. Komposisi kimia asap kayu disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Komposisi kimia sap kayu


Gambar 32. Rumah asap Hashimito Canning.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R. 1998. Proses Pematangan Gonadpada Ikon Betina (Teleostei). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alawi, H. 1990. Memelihara Ikan Dalam Karamba. Fakultas Perikanan, Universitas Riau.
Alawi, H., M. Ahmad, Rusliadi dan Pardinan. 1992. "Some Biological Aspect of Macrones Catfish (Macrones nemurus) from Kampar River." Dalam : Terubuk 18 (52) : 33 - 47.
Amomsakun, A., and A. Hassan. 1997. "Some Aspect in Early Life Stages in Larval Green Catfish Mystus nemurus." Dalam: IFR Journal 3 : 64 - 70.
Asmawi, S. 1984. Pemeliharaan Ikan Dalam Karamba. Gramedia. Jakarta.
Bardach, J.E., J.H. Ryther and W.O. McLamey. 1972. Aquaculture: The Farming and Husbandry of Fresh Water and Marine Organisme. 2nd Edition. John Wiley and Sons. New York.
Busch, R.L. 1985. "Channel Catfish Culture in Ponds." p. 13 - 18. Dalam: C.S. Tucker (Ed.) Channel Catfish Culture. Elsevier. New York.
Carman, 0., Alimuddin, H. Arfah, S. Nuryati dan L. Mulyani. 1999. "Buku Pedoman Teknis Pembenihan Ikan Air Tawar." Dalam: Proyek Semi-Que. Institut Pertanian Bogor.
Cruz, E.M. 1986. Buku Pegangan Latihan Makanan Ikan. Proyek Pengembangan Perikanan Skala Kecil. USAID Jakarta. Dirjen Perikanan. Pemerintah Indonesia.
Djajadiredja, R., S. Hatimah dan Z. Arifin. 1972. Buku Pengenalan Sumber Perikanan Darat. Bagian I. Dirien Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Effendi, I. 1999. "Pemeliharaan Larva." Dalam: Makalah Pelatihan Pembenihan Ikan. Proyek Semi-Que. Institut Pertanian Bogor.
Gaffar, A.K. 1982. "Pertumbuhan Ikan Baung (Macrones nemurus) yang Diberi Makan Pellet dengan Formulasi Berbeda di Sangkar Terapung." Dalam: Bulletin Penelitian Perikanan Darat 3 (2) : 8 - 12.
Gaffar A.K. 1998. "Ikan Baung (Mystus nemurus) Si Kumis dan Perairan Tawar." Dalam: Loka Penelitian Perikanan A ir Tawar. Palembang.
Hadikoesworo, H. 1986. Penelitian Ekonomi Budi Daya Perairan di Asia. Gramedia. Jakarta.
Imaki, A., Kawamoto and A. Suzuki. 1978. A History of Freshwater Fishes Collected from the Kapuas Rivers, Kalimantan Indonesia. The Institute for Breeding. Tokay University of Agriculture.
Loekman, S. 1993. "Pengamh Lama Pengasapan Terhadap Kandungan Zat Gizi Ikan Baung." Dalam: Tesis Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Madsuly, T. 1977. Laporan Petemakan Ikan Tagih (Macrones nemurus) di Kabupaten Sumedang. Dinas Perikanan Kabupaten Sumedang.
Murrit, R.W. and K.W. Cunning. 1978. An Introduction to the Aquatic Insect of North America. Kendall/Hunt Published Company. Iowa.
Mudjiman, A. 1985. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muflikah, N. 1993. "Pemijahan Ikan Baung dengan Sistem Rangsangan Hormon." Dalam: Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
NRC. 1993. Nutrient Requirement of Fish. National Research Council.
Saanin,H. 1968. Taksonomi dan Kuncildentifikasi Ikan. Binacipta. Bandung.
Suyanto, S.R. 1982. Budi Daya Ikan Leie. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tang, U.M., H. Alawi dan R.M. Putra. 1999. "Pematangan Gonad Ikan Baung pada Pakan dan Lingkungan yang Berbeda." Dalam: Hayati 6: 10 - 12.
Tang, U.M., H, Alawi dan Nuraini. 1999. "Pemijahan dan Penetasan Telur Ikan Baung (M. nemurus)." Dalam: Laporan Hasil Penelitian. ARMP-Universitas Riau:
Tang, U.M., R. Affandi, R. Widjajakusuma, H. Setianto dan M.F. Rahardjo. 2000. "Aspek Biologi dan Kebutuhan Lingkungan Benih Ikan Baung." Dalam: Disertasi Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Weber, M and de Beaufort. 1965. the Fishes of the Indo-Australia Archipelago II. E.J. Brill Ltd. Leiden Holland.
Woynarovich, E. and L. Horvath. 1980. The Artificial Propagation of WarmWater for Fishes. A Manual for Extension. FAO of The United Nations. Rome.
Yunita, Y. 1996. "Keberhasilan Fertilisasi dan Daya Tetas Ikan Baung (Mystus planicep) yang Diinduksi dengan Dosis Ovaprim yang Berbeda." Dalam: Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Riau. Pekanbaru.
PANEN DAN PENANGANAN PASCAPANEN
Panen ikan baung biasanya dilakukan setelah pemeliharaan selama 3 - 3,5 bulan atau ikan telah berukuran 250 - 500 g dan panjang 20 - 25 cm. Panen dapat dilakukan secara bertahap atau secara total, tergantung pada keperluan.
A. Panen
Panen ikan baung yang dibelihara di karamba dan ikan baung yang dipelihara di kolam adalah sebagai berikut.
1. Cara Panen di Karamba
Sebelum panen dilakukan, kita harus menyiapkan terlebih dahulu alat-alat seperti tangguk, keranjang atau ember, kantung plastik, tabung gas oksigen, dan timbangan. Panen ikan baung di karamba yang terbuat dari jaring plastik dapat dilakukan dengan cara mengangkat karamba tersebut. Setelah karamba diangkat sebagian, kemudian ditangguk berulang kali sampai ikan dalam karamba tersebut habis. Sehabis ikan-ikan dalam karamba tersebut dipanen, seluruh kotoran dalam karamba dibersihkan karamba kemudian dijemur beberapa hari hingga kering.
Jika karamba untuk pemeliharaan ikan terbuat dari kayu atau bambu yang cukup berat, cara pemanenan ikan dilakukan dengan menggunakan tangguk. Ikan-ikan yang akan dipanen diciduk dari atas melalui pintu karamba. Cara panen ikan di karamba yang terbuat dari kayu atau bambu memang agak sukar dan memerlukan waktu yang cukup lama. Di samping itu, kita sukar mengetahui apakah ikan sudah habis atau masih ada dalam karamba. Karamba yang terbuat dari kayu atau bambu tidak dapat dikeringkan dan dibersihkan bagian dalamnya.
2. Cara Panen di Kolam
Panen ikan baung di kolam dilakukan setelah pemeliharaan 3 - 4 bulan dan ukuran ikan telah mencapai 20 - 25 cm dengan bobot 250 - 500 g. Panen ikan di kolam dapat dilakukan secara bertahap jika ukuran ikan tidak seragam. Jika ukuran ikan relative seragam, pemanenan dapat dilakukan secara total. Sebelum panen dilaksanakan, segala peralatan dan sarana penunjang harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk menghindari penurunan mutu ikan.
Panen ikan di kolam sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 6.00 - 7.00 supaya ikan tetap segar dan tenaga kerjanya pun masih kuat sehingga panen dapat selesai sebelum hari panas. Panen dilakukan dengan terlebih dahulu membuang air kolam. Jika konstruksi kolam baik, panen dapat dilakukan di dekat pintu air. Sebaliknya, jika konstruksi kolam sederhana dan berlumpur, panen sebaiknya dilakukan dengan menelusuri seluruh bagian kolam dengan menggunakan jaring atau menggunakan tangan langsung karena ikan baung senang membenamkan diri di dalam lumpur.
Jika menginginkan ikan hidup sampai pada konsumen, pada waktu panen sebaiknya disisipkan hapa yang diikat dekat pintu air agar ikan yang dipanen tertampung terlebih dahulu di hapa. Kemudian, ikan diangkut dengan wadah yang berisi air, misalnya tong plastik ataujerigen yang dipotong tengahnya.
B. Penanganan Pascapanen
Seperti halnya komoditas ikan yang lain, ikan baung termasuk komoditas yang cepat rusak (mutunya menurun) karena proses pembusukan. Proses pembusukan terjadi sejak ikan mati dengan terjadinya proses autolysis oleh enzim dan bakteri menyebabkan terjadinya penurunan mutu dan pembusukan pada tubuh ikan. Agar penurunan mutu dapat dihambat, penanganan ikan ketika panen dan setelah dipanen (pascapanen) harus ditangani dengan baik dan benar.
1. Ikan Segar
Kebanyakan ikan baung dijual dalam bentuk ikan segar yang mati. Namun, jika menginginkan ikan hidup sampai ke konsumen, maka dapat ditempuh dengan cara seperti pada pengangkutan benih. Wadah yang digunakan untuk mengangkut ikan hidup dapat dibuat lebih besar atau lebih banyak, baik dalam kantong plastik maupun dalam tong plastik.
Ikan segar yang mati yang diangkut ke konsumen memerlukan perhatian khusus untuk mencegah terjadinya pembusukan. kebersihan ikan harus diperhatikan dengan cara dicuci sebelum dimasukkan ke dalam wadah pengangkutan. Demikianjuga, penyusunan ikan dalam wadah tidak boleh terlalu tinggi agar ikan yang berada di bawah tidak rusak. Pengangkutan ikan dapat menggunakan es dalam jumlah yang cukup agar bakteri atau mikroorganisme lain tidak aktif berkembang.
2. Ikan Asap
Selain dikonsumsi segar, ikan baung juga telah populer untuk dijadikan ikan asap. Di pasar-pasar di Kotamadya Pekanbaru, Kabupaten Kampar dan daerah lainnya di Riau selalu dijumpai ikan baung asap. Namun, produk ikan baung asap belum dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Konsumen ikan baung asap di propinsi Riau umumnya masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas karena harga jualnya relatif mahal, yaitu Rp 90.000,00 - Rp 95.000,00 per kilogram.
Gambar 30. Ikan Baung Asap
Di propinsi Riau ikan baung yang dihasilkan dari perairan umum. Biasanya, pengasapan dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan rumah asap yang terbuat dari drum dengan sumber asap adalah sabut kelapa dan kayu. Pengasapan berlangsung antara 12 - 20 jam. Ikan asap yang belum terjual atau dikonsumsi biasanya dimasukkan ke dalam rumah asap lagi. Ukuran ikan baung yang diasap biasanya berkisar 100 - 250 g. Pengolahan dan pengawetan ikan baung secara tradisional pada prinsipnya adalah mengurangi kadar air untuk menghindari proses kemunduran mutu dan pembusukan, baik secara kimiawi, biologis, maupun fisik.
Cara pengawetan ikan dengan pengasapan sudah dikenal manusia sejak zaman dahulu, yaitu sejak ditemukannya cara membuat api dan ikan menjadi masak karena panasnya api. Setelah menjadi masak, ikan tersebut akan berbau asap yang berasal dari kayu yang terbakar yang dapat menimbulkan bau dan aroma yang khas. Dengan kemajuan tingkat pemikiran dan pengetahuan, manusia makin tahu bahwa dengan pengasapan ikan bisa disimpan lebih lama dalam keadaan.enak untuk dimakan.
Pengasapan merupakan salah satu teknik dehidrasi (pengeringan) yang dilakukan untuk memperpanjang daya awet ikan dengan menggunakan bahan bakar kayu sebagai bahan yang menghasilkan asap. Pengasapan akan menghasilkan panas yang dapat menyebabkan berkurangnya kadar air ikan dan mengakibatkan terhambatnya aktivitas mikroba. Daya awet produk ikan yang diasap tidak hanya disebabkan oleh proses pemanasan, pengeringan, dan penggaraman, tetapi juga asap yang dihasilkan mempunyai senyawa-senyawa tertentu yang bersifat bakterisidal.
Proses pengasapan ikan sebenamya terjadi serangkaian proses penggaraman, pengeringan, pemanasan dan pengasapan. Asap yang dihasilkan membuat ikan yang diasap menjadi mengkilat. Sifat mengkilat ini dihasilkan oleh reaksi-reaksi kimia dari senyawa-senyawa dalam asap, yaitu formaldehid dengan fenol yang menghasilkan lapisan damar tiruan pada permukaan ikan sehingga menjadi mengkilat. Komposisi kimia asap kayu disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Komposisi kimia sap kayu
Bahan bakar untuk pengasapan ikan dapat menggunakan sabut kelapa atau tempurung kelapa, bonggol jagung, potongan-potongan kayu, atau serbuk gergajian kayu yang tidak mengandung resin. Kayu mengandung bahan yang dapat terbakar. Bau yang dihasilkan dari kayu yang terbakar merupakan persenyawaan organik kompleks, yaitu selulosa, lignin, pentosan, asam laurat, senyawaan protein, resin, dan terpen.
Berdasarkan suhu pengasapan dikenal dua jenis pengasapan, yaitu pengasapan panas dan pengasapan dingin. Pengasapan panas dilakukan dengan suhu yang mencapai 100°C dan suhu dalam daging ikan mencapai 60°C. Sedangkan pengasapan dingin dilakukan dengan suhu maksimum 30°C. Secara skematis, cara pengasapan ikan baung dapat dilihat pada Gambar 31.
Hasil penelitian terhadap komposisi asam-asam amino ikan baung segar dan yang diasap disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Komposisi asam amino ikan baung segar dan diasap
Berdasarkan suhu pengasapan dikenal dua jenis pengasapan, yaitu pengasapan panas dan pengasapan dingin. Pengasapan panas dilakukan dengan suhu yang mencapai 100°C dan suhu dalam daging ikan mencapai 60°C. Sedangkan pengasapan dingin dilakukan dengan suhu maksimum 30°C. Secara skematis, cara pengasapan ikan baung dapat dilihat pada Gambar 31.
Hasil penelitian terhadap komposisi asam-asam amino ikan baung segar dan yang diasap disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Komposisi asam amino ikan baung segar dan diasap
Gambar 31. Skema proses pengasapan ikan baung
Dari setiap proses pengasapan dengan menggunakan 8,5 kg ikan baung segar diperoleh 4,8 kg ikan baung asap. Lama pengasapan untuk proses tersebut selama 16 jam. Biaya pengasapan (arang, batok kelapa, sabut kelapa, garam, dan tenaga kerja) adalah sebesar Rp 40.800,00. Jika harga ikan baung segar sebesar Rp 40.000,00/kg dan ikan baung asap sebesar Rp 90.000,00/kg.makakeuntungan yang diperoleh setiap kali pengasapan adalah sebesar Rp 51.200,00. Untuk lebihjelasnya, rincian biaya dan pendapatan pengasapan ikan baung dapat dilihat pada Tabel 10.
Dari setiap proses pengasapan dengan menggunakan 8,5 kg ikan baung segar diperoleh 4,8 kg ikan baung asap. Lama pengasapan untuk proses tersebut selama 16 jam. Biaya pengasapan (arang, batok kelapa, sabut kelapa, garam, dan tenaga kerja) adalah sebesar Rp 40.800,00. Jika harga ikan baung segar sebesar Rp 40.000,00/kg dan ikan baung asap sebesar Rp 90.000,00/kg.makakeuntungan yang diperoleh setiap kali pengasapan adalah sebesar Rp 51.200,00. Untuk lebihjelasnya, rincian biaya dan pendapatan pengasapan ikan baung dapat dilihat pada Tabel 10.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R. 1998. Proses Pematangan Gonadpada Ikon Betina (Teleostei). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alawi, H. 1990. Memelihara Ikan Dalam Karamba. Fakultas Perikanan, Universitas Riau.
Alawi, H., M. Ahmad, Rusliadi dan Pardinan. 1992. "Some Biological Aspect of Macrones Catfish (Macrones nemurus) from Kampar River." Dalam : Terubuk 18 (52) : 33 - 47.
Amomsakun, A., and A. Hassan. 1997. "Some Aspect in Early Life Stages in Larval Green Catfish Mystus nemurus." Dalam: IFR Journal 3 : 64 - 70.
Asmawi, S. 1984. Pemeliharaan Ikan Dalam Karamba. Gramedia. Jakarta.
Bardach, J.E., J.H. Ryther and W.O. McLamey. 1972. Aquaculture: The Farming and Husbandry of Fresh Water and Marine Organisme. 2nd Edition. John Wiley and Sons. New York.
Busch, R.L. 1985. "Channel Catfish Culture in Ponds." p. 13 - 18. Dalam: C.S. Tucker (Ed.) Channel Catfish Culture. Elsevier. New York.
Carman, 0., Alimuddin, H. Arfah, S. Nuryati dan L. Mulyani. 1999. "Buku Pedoman Teknis Pembenihan Ikan Air Tawar." Dalam: Proyek Semi-Que. Institut Pertanian Bogor.
Cruz, E.M. 1986. Buku Pegangan Latihan Makanan Ikan. Proyek Pengembangan Perikanan Skala Kecil. USAID Jakarta. Dirjen Perikanan. Pemerintah Indonesia.
Djajadiredja, R., S. Hatimah dan Z. Arifin. 1972. Buku Pengenalan Sumber Perikanan Darat. Bagian I. Dirien Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Effendi, I. 1999. "Pemeliharaan Larva." Dalam: Makalah Pelatihan Pembenihan Ikan. Proyek Semi-Que. Institut Pertanian Bogor.
Gaffar, A.K. 1982. "Pertumbuhan Ikan Baung (Macrones nemurus) yang Diberi Makan Pellet dengan Formulasi Berbeda di Sangkar Terapung." Dalam: Bulletin Penelitian Perikanan Darat 3 (2) : 8 - 12.
Gaffar A.K. 1998. "Ikan Baung (Mystus nemurus) Si Kumis dan Perairan Tawar." Dalam: Loka Penelitian Perikanan A ir Tawar. Palembang.
Hadikoesworo, H. 1986. Penelitian Ekonomi Budi Daya Perairan di Asia. Gramedia. Jakarta.
Imaki, A., Kawamoto and A. Suzuki. 1978. A History of Freshwater Fishes Collected from the Kapuas Rivers, Kalimantan Indonesia. The Institute for Breeding. Tokay University of Agriculture.
Loekman, S. 1993. "Pengamh Lama Pengasapan Terhadap Kandungan Zat Gizi Ikan Baung." Dalam: Tesis Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Madsuly, T. 1977. Laporan Petemakan Ikan Tagih (Macrones nemurus) di Kabupaten Sumedang. Dinas Perikanan Kabupaten Sumedang.
Murrit, R.W. and K.W. Cunning. 1978. An Introduction to the Aquatic Insect of North America. Kendall/Hunt Published Company. Iowa.
Mudjiman, A. 1985. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muflikah, N. 1993. "Pemijahan Ikan Baung dengan Sistem Rangsangan Hormon." Dalam: Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
NRC. 1993. Nutrient Requirement of Fish. National Research Council.
Saanin,H. 1968. Taksonomi dan Kuncildentifikasi Ikan. Binacipta. Bandung.
Suyanto, S.R. 1982. Budi Daya Ikan Leie. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tang, U.M., H. Alawi dan R.M. Putra. 1999. "Pematangan Gonad Ikan Baung pada Pakan dan Lingkungan yang Berbeda." Dalam: Hayati 6: 10 - 12.
Tang, U.M., H, Alawi dan Nuraini. 1999. "Pemijahan dan Penetasan Telur Ikan Baung (M. nemurus)." Dalam: Laporan Hasil Penelitian. ARMP-Universitas Riau:
Tang, U.M., R. Affandi, R. Widjajakusuma, H. Setianto dan M.F. Rahardjo. 2000. "Aspek Biologi dan Kebutuhan Lingkungan Benih Ikan Baung." Dalam: Disertasi Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Weber, M and de Beaufort. 1965. the Fishes of the Indo-Australia Archipelago II. E.J. Brill Ltd. Leiden Holland.
Woynarovich, E. and L. Horvath. 1980. The Artificial Propagation of WarmWater for Fishes. A Manual for Extension. FAO of The United Nations. Rome.
Yunita, Y. 1996. "Keberhasilan Fertilisasi dan Daya Tetas Ikan Baung (Mystus planicep) yang Diinduksi dengan Dosis Ovaprim yang Berbeda." Dalam: Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Riau. Pekanbaru.
PENYAKIT IKAN BAUNG DAN PENGENDALIANNYA
BAB VI
PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA
Ikan yang dibudidayakan seringkali mengalami serangan penyakit. Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit secara umum adalah ikan sering tampak berenang di permukaan air (bukan pada waktu makan), ikan memisahkan diri dari kelompoknya, ikan berenang secara pasif di permukaan air, ikan seringkali menjauh dari pemasukan air, ikan bergerak lambat, mulut ikan megap-megap di permukaan air, nafsu makan berkurang, insang ikan berwarna pucat sampai kebiru-biruan.
A. Penyakit Parasit
Parasit merupakan hewan atau tumbuh-tumbuhan yang menggantungkan hidupnya pada inangnya. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat berasal dari bakteri, jamur, protozoa, ataupun cacing..
1. Penyakit yang Diakibatkan oleh Bakteri
Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri disebut penyakit bakterial. Penyakit ini secara umum ditandai dengan adanya luka berwarna kemerah-merahan atau bercak-bercak merah pada bagian tubuh luar ikan, seperti bisul berisi cairan, sirip mengalami pembusukan sehingga rusak, insang pucat dan rusak, perut mengalami pembengkakan, dan kadang-kadang ekor ikan putus.
Jenis bakteri yang menyerang ikan air tawar, terutama lele dan baung, adalah bakteri Aeromonas hydrophyla. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit jika kondisi lingkungan ataupun kondisi ikan itu sendiri menjadi buruk.
Pencegahan penyakit bakterial dapat dilakukan dengan digunakan obat-obatan seperti Malacheet Green (MG). Malacheet Green berupa serbuk hijau yang bisa dibeli di apotik atau toko-toko obat. Dosis yang digunakan adalah 1 - 15 mg/liter. Ikan yang sakit direndam dalam larutan Malacheet Green selama kira-kira 10 - 15 menit. Pengobatan dilakukan 3 kali berturut-turut dengan jarak waktu 2 - 3 hari.
2. Penyakit yang Diakibatkan oleh Jamur
Tanda-tanda ikan yang terserangjamur adalah pada kulit ikan ditumbuhi benang-benang halus seperti kapas berwarna putih atau putih kecokelat-cokelatan. Jenis jamur yang sering menyerang ikan air tawar (seperti catfish) adalah jamur Aphanomyces (menyerang bagian dalam tubuh) dan Saprolegmia (menyerang bagian luar tubuh).
Pencegahan dan pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kolam atau karamba dan menghindari perlakuan yang dapat menimbulkan luka pada ikan. Ikan yang terserang penyakit jamur dicelupkan ke dalam larutan Malacheet Green dosis 60 g/m3 selama 15 menit, atau dengan dosis 2 - 3 gram/m3 air selama 1 jam atau dicelupkan dalam larutan formalin (kadar 10 %) dengan dosis 1,5 - 2 cc/liter air selama 15 menit.
3. Penyakit yang Diakibatkan oleh Protozoa
Penyakit yang paling sering dijumpai pada larva ikan adalah penyakit bintik putih (white spot). Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa dari jenis Ichthyopthirius multifilis sehingga sering juga disebut penyakit "Ich". Ichthyopthirius multifilis ini merusak sel-sel lendir ikan dan dapat menyebabkan pendarahan yang sering terlihat pada sirip dan insang ikan.
Pencegahan penyakit Ichthyopthirius multifilis dapat dilakukan dengan menciptakan suasana kesegaran dan kesehatan bagi ikan dengan mengusahakan kualitas air tetap dalam kondisi optimal yang disertai pemberian pakan yang baik. Pengobatan atau pemberantasan penyakit dapat dilakukan dengan :
Ikan yang sakit direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dosis 10 - 15 g/liter air selama 20 menit atau 25 g/liter selama 10 - 15 menit.
Ikan yang sakit direndam dalam larutan Malacheet Green dosis 0,05 mg/liter selama 3 - 4 hari atau 0,15 mg/liter.
Suhu air pemeliharaan ditingkatkan menjadi 30°C dan setiap hari air diganti 50 %.
Ikan yang sakit direndam dalam Acriflavine (hydrochlorida) dosis 10 mg/liter.
4. Penyakit yang Diakibatkan oleh Learnea
Parasit Leamea merupakan parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan. Parasit ini dapat menyebabkan terjadinya luka-luka sehingga menjadi jalan masuk bagi bakterijamur, dan virus (Gambar 29). Timbulnya Learnea ini disebabkan oleh banyakya bahan organik berupa sampah, sisa pemupukan dan sisa-sisa makanan, pengairan kolam yang tidak mengalir, suhu yang relatif tinggi, atau padat penebaran yang tinggi.
Gejala-gejala pada ikan yang terserang penyakit Learnea adalah pada bagian badan, sirip, dan mata ditemukan parasit yang menempel. Ikan yang terserang penyakit ini juga sering mengalami luka-luka atau radang pada tempat melekatnya parasit.
Pencegahan penyakit Lesmea dapat dilakukan dengan menyaring air terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke kolam. Ikan yang sakit direndam dalam larutan PK (Kalium Permanganat = KMnO2) dosis 20 - 25 mg/liter selama 2 - 3 jam. Pengendalian penyakit dapat juga dilakukan dengan merendam ikan dalam larutan formalin 10 % dengan dosis 250 ml/m3 air selama 10 - 15 menit dan diulangi 2 - 3 kali dalam selang waktu 2 - 3 hari. Pencegahan penyakit ini dapat juga dilakukan dengan merendam ikan yang terserang dengan menggunakan Dipterex Bromex dosis 0,25 mg/liter.
PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA
Ikan yang dibudidayakan seringkali mengalami serangan penyakit. Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit secara umum adalah ikan sering tampak berenang di permukaan air (bukan pada waktu makan), ikan memisahkan diri dari kelompoknya, ikan berenang secara pasif di permukaan air, ikan seringkali menjauh dari pemasukan air, ikan bergerak lambat, mulut ikan megap-megap di permukaan air, nafsu makan berkurang, insang ikan berwarna pucat sampai kebiru-biruan.
A. Penyakit Parasit
Parasit merupakan hewan atau tumbuh-tumbuhan yang menggantungkan hidupnya pada inangnya. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat berasal dari bakteri, jamur, protozoa, ataupun cacing..
1. Penyakit yang Diakibatkan oleh Bakteri
Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri disebut penyakit bakterial. Penyakit ini secara umum ditandai dengan adanya luka berwarna kemerah-merahan atau bercak-bercak merah pada bagian tubuh luar ikan, seperti bisul berisi cairan, sirip mengalami pembusukan sehingga rusak, insang pucat dan rusak, perut mengalami pembengkakan, dan kadang-kadang ekor ikan putus.
Jenis bakteri yang menyerang ikan air tawar, terutama lele dan baung, adalah bakteri Aeromonas hydrophyla. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit jika kondisi lingkungan ataupun kondisi ikan itu sendiri menjadi buruk.
Pencegahan penyakit bakterial dapat dilakukan dengan digunakan obat-obatan seperti Malacheet Green (MG). Malacheet Green berupa serbuk hijau yang bisa dibeli di apotik atau toko-toko obat. Dosis yang digunakan adalah 1 - 15 mg/liter. Ikan yang sakit direndam dalam larutan Malacheet Green selama kira-kira 10 - 15 menit. Pengobatan dilakukan 3 kali berturut-turut dengan jarak waktu 2 - 3 hari.
2. Penyakit yang Diakibatkan oleh Jamur
Tanda-tanda ikan yang terserangjamur adalah pada kulit ikan ditumbuhi benang-benang halus seperti kapas berwarna putih atau putih kecokelat-cokelatan. Jenis jamur yang sering menyerang ikan air tawar (seperti catfish) adalah jamur Aphanomyces (menyerang bagian dalam tubuh) dan Saprolegmia (menyerang bagian luar tubuh).
Pencegahan dan pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kolam atau karamba dan menghindari perlakuan yang dapat menimbulkan luka pada ikan. Ikan yang terserang penyakit jamur dicelupkan ke dalam larutan Malacheet Green dosis 60 g/m3 selama 15 menit, atau dengan dosis 2 - 3 gram/m3 air selama 1 jam atau dicelupkan dalam larutan formalin (kadar 10 %) dengan dosis 1,5 - 2 cc/liter air selama 15 menit.
3. Penyakit yang Diakibatkan oleh Protozoa
Penyakit yang paling sering dijumpai pada larva ikan adalah penyakit bintik putih (white spot). Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa dari jenis Ichthyopthirius multifilis sehingga sering juga disebut penyakit "Ich". Ichthyopthirius multifilis ini merusak sel-sel lendir ikan dan dapat menyebabkan pendarahan yang sering terlihat pada sirip dan insang ikan.
Pencegahan penyakit Ichthyopthirius multifilis dapat dilakukan dengan menciptakan suasana kesegaran dan kesehatan bagi ikan dengan mengusahakan kualitas air tetap dalam kondisi optimal yang disertai pemberian pakan yang baik. Pengobatan atau pemberantasan penyakit dapat dilakukan dengan :
Ikan yang sakit direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dosis 10 - 15 g/liter air selama 20 menit atau 25 g/liter selama 10 - 15 menit.
Ikan yang sakit direndam dalam larutan Malacheet Green dosis 0,05 mg/liter selama 3 - 4 hari atau 0,15 mg/liter.
Suhu air pemeliharaan ditingkatkan menjadi 30°C dan setiap hari air diganti 50 %.
Ikan yang sakit direndam dalam Acriflavine (hydrochlorida) dosis 10 mg/liter.
4. Penyakit yang Diakibatkan oleh Learnea
Parasit Leamea merupakan parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan. Parasit ini dapat menyebabkan terjadinya luka-luka sehingga menjadi jalan masuk bagi bakterijamur, dan virus (Gambar 29). Timbulnya Learnea ini disebabkan oleh banyakya bahan organik berupa sampah, sisa pemupukan dan sisa-sisa makanan, pengairan kolam yang tidak mengalir, suhu yang relatif tinggi, atau padat penebaran yang tinggi.
Gejala-gejala pada ikan yang terserang penyakit Learnea adalah pada bagian badan, sirip, dan mata ditemukan parasit yang menempel. Ikan yang terserang penyakit ini juga sering mengalami luka-luka atau radang pada tempat melekatnya parasit.
Pencegahan penyakit Lesmea dapat dilakukan dengan menyaring air terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke kolam. Ikan yang sakit direndam dalam larutan PK (Kalium Permanganat = KMnO2) dosis 20 - 25 mg/liter selama 2 - 3 jam. Pengendalian penyakit dapat juga dilakukan dengan merendam ikan dalam larutan formalin 10 % dengan dosis 250 ml/m3 air selama 10 - 15 menit dan diulangi 2 - 3 kali dalam selang waktu 2 - 3 hari. Pencegahan penyakit ini dapat juga dilakukan dengan merendam ikan yang terserang dengan menggunakan Dipterex Bromex dosis 0,25 mg/liter.
5. Penyakit yang Diakibatkan oleh Kutu Ikan (Argulus)
Kutu ikan (Argulus) hidup dengan cara mengisap darah ikan. Kutu ikan ini dapat berpindah-pindah dari satu ekor ikan ke ikan yang lain (Gambar 29). Tanda-tanda ikan yang terserang kutu ikan adalah ikan menjadi kurus, bahkan ikan yang terserang sering mati karena disengat dan dihisap darahnya. Gerakan ikan menjadi lamban dan pada badan/tubuh kadang-kadang terdapat bintik merah.
Pencegahan kutu ikan dapat dilakukan dengan pengeringan kolam secara berkala, sambil mengolah tanah, memupuk, mengapur kolam untuk memusnahkan telur-telur Argulus, serta pergantian air kolam sesering mungkin. Pemberantasan atau pengobatan terhadap ikan yang terserang penyakit ini dapat ditempuh dengan merendam ikan dalam larutan garam dapur (NaCl) 20 g/liter selama 5 menit atau dapat juga merendam ikan yang sakit dalam Insektisida Malathin dan Dipterex dengan dosis 0,25 mg/liter.
6. Penyakit yang Diakibatkan oleh Gyrodactylus dan Dactylogyrus
Gyrodactylus dan Dactylogyrus adalah sejenis cacing sangat kecil yang hidup sebagai parasit ikan dan merusak insang serta kulit luar ikan. Insang yang diserang Gyrodactylus dan Dactylogyrus menjadi luka-luka, kemudain timbul pendarahan akibat pernafasan ikan terganggu. Kulit ikan yang terserang menjadi berlendir banyak (Gambar 29).
Pengobatan terhadap ikan yang terserang Gyrodactylus dan Dactylogyrus dapat dilakukan dengan menggunakan larutan fomalin 25 mg/liter air.
Gambar 29. Jenis parasit penyebab penyakit ikan
B. Penyakit Non-Parasit
Penyakit non-parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti fisika-kimia air yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan dan faktor makanan/gizi yang tidak terpenuhi. Penyakit akibat fisika-kimia air misalnya perubahan suhu, pH, kekurangan oksigen, adanya gas-gas beracun (NH3, H2S), dan zat beracun.
Penyakit akibat makanan yang tidak baik (malnutrien), misalnya kekurangan vitamin atau bahan makanan yang busuk dan mengandung racun. Gejala penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan makanan adalah timbulnya gejala usus pecah yang banyak ditemukan pada ikan dari kelompok catfish. Penyakit tulang bengkok pada catfish diduga karena kekurangan vitamin
B. Penyakit Non-Parasit
Penyakit non-parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti fisika-kimia air yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan dan faktor makanan/gizi yang tidak terpenuhi. Penyakit akibat fisika-kimia air misalnya perubahan suhu, pH, kekurangan oksigen, adanya gas-gas beracun (NH3, H2S), dan zat beracun.
Penyakit akibat makanan yang tidak baik (malnutrien), misalnya kekurangan vitamin atau bahan makanan yang busuk dan mengandung racun. Gejala penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan makanan adalah timbulnya gejala usus pecah yang banyak ditemukan pada ikan dari kelompok catfish. Penyakit tulang bengkok pada catfish diduga karena kekurangan vitamin
C. Penyakit sejenis tumor yang disebabkan oleh racun jamur (Aflatoxin) melalui bahan kacang-kacangan yang digunakan untuk menyusuh komposisi pakan buatan.
Untuk menanggulangi penyakit non-parasit tersebut di atas dapat dilakukan dengan mengusahakan kondisi lingkungan dan makanan yang sesuai dengan kebutuhan ikan.
Untuk menanggulangi penyakit non-parasit tersebut di atas dapat dilakukan dengan mengusahakan kondisi lingkungan dan makanan yang sesuai dengan kebutuhan ikan.
Langganan:
Postingan (Atom)