Budi Daya Ikan di Lahan Sempit
Dengan metode baru, ikan gurami kini bisa dibudidayakan dilahan sempit, seperti di perkarangan atau sudut,rumah.
Anggapan bahwa budidaya gurami harus dilakukan dilahan sawah yang luas kini tinggal mitos.
Sekarang ini gurami bisa dikolamkan di lokasi apa pun, baik didesa maupun di kota,di kolam terpal,plastik atau bak.
Dengan begitu, ikan gurami dapat dijadikan alternatif masyarakat yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan di lahan sekitar tempat tinggalnya.
Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara (Permina) akan menggelar Diklat Budi Daya Gurami di Lahan sempit Sistem Guba BerbasisBiotik Berbasis Probiotik pada Minggu 6 Maret 2011 diKampung Gurami Jambida, Bantul. Yogyakarta, Dengan nara sumber praktis, Pemegang jaringan gurami jawa Kalimantan,petani gurami, dan konsultan agrobisnis.
Selain di kenalkan dengan dasar-dasar budidaya gurami secara benar, Diklat di Gubug Permina ini difokuskan pada praktek langsung dikolam, baik kolam induk, penuluran, pembibitan dan pembesaran, sehingga bisa berjalan interaktif dan aplikatif.
Diklat ini terbuka untuk umum, dapat diikuti siapa saja, pensiunan, karyawan, ibu rumah tangga, karang taruna, dai, guru maupun para sarjana penggorak perdesaan
SUMBER MEDIA INDONESIA 18 FEBRUARI 2011 HAL 20
PRODUKSI PERIKANAN NAIK
PRODUKSI PERIKANAN NAIK
[JAKARTA] Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memaparkan,produksi perikanan indonesia tahun 2010 mencapai 10,83 juta ton atau naik 10,29% dibandingkan 2009 sebanyak 9,82 juta ton.
Target produksi perikanan sampai 2014,di patok 22,39 juta ton,terdiri atas pasokan dari perikanan budi daya 16,89 juta ton,dan sisanya dari perikanan tangkap.
Dalam sambutannya pada acara Outlook Perikanan 2011 yang di adakan Majalah Trobos dan GMPT(Asosiasi Produsen Pakan Indonesia),di Jakarta,Senin (7/2),Fadel Mengatakan,tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton.
Angka itu,kata Fadel,meningkat 13% dari produksi tahun lalu yang sebesar 10,85 juta ton.Peningkatan produksi diharapkan diikuti dengan kenaikan tingkat konsumsi ikan.
Data KKP menunjukkan,hingga akhir2010,tingkat konsumsi ikan mencapai 30,47 kg/kapita,meningkat dibandingkan konsumsi tahun 2009 yang sebesar 29,08 kg/kapita.
Fadel menambahkan,upaya peningkatan mutu produk perikanan budi daya untuk mendongkrak konsumsi sudah dilakukan.Untuk itu,KKP menerapkan sertifikasi Cara Budi Daya Ikan yang Baik(CBIB) bagi para pembudidaya ikan.Sampai 2010,sebanyak 650 unit usaha perikanan budidaya sudah disertifikasi.
Selain menghadirkan Fadel sebagai pembicara utama,acara yang mengambil tema Tahun Pertama Menuju 353 itu juga menghadirkan pakar pemasaran Kafi Kurnia yang membahas tentang tantangan dan strategi pemasaran produk perikanan.
Selain itu,pembicara Ketua AP51(Asosiasi Pengusaha Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia)Thomas Darmawan dan Ketua SCI(SHRIMP CLUB INDONESIA)Iwan Sutanto.
[S-26]
SUMBER:SUARA PEMBARUAN 8 FEBRUARI 2011 HAL 11
[JAKARTA] Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memaparkan,produksi perikanan indonesia tahun 2010 mencapai 10,83 juta ton atau naik 10,29% dibandingkan 2009 sebanyak 9,82 juta ton.
Target produksi perikanan sampai 2014,di patok 22,39 juta ton,terdiri atas pasokan dari perikanan budi daya 16,89 juta ton,dan sisanya dari perikanan tangkap.
Dalam sambutannya pada acara Outlook Perikanan 2011 yang di adakan Majalah Trobos dan GMPT(Asosiasi Produsen Pakan Indonesia),di Jakarta,Senin (7/2),Fadel Mengatakan,tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton.
Angka itu,kata Fadel,meningkat 13% dari produksi tahun lalu yang sebesar 10,85 juta ton.Peningkatan produksi diharapkan diikuti dengan kenaikan tingkat konsumsi ikan.
Data KKP menunjukkan,hingga akhir2010,tingkat konsumsi ikan mencapai 30,47 kg/kapita,meningkat dibandingkan konsumsi tahun 2009 yang sebesar 29,08 kg/kapita.
Fadel menambahkan,upaya peningkatan mutu produk perikanan budi daya untuk mendongkrak konsumsi sudah dilakukan.Untuk itu,KKP menerapkan sertifikasi Cara Budi Daya Ikan yang Baik(CBIB) bagi para pembudidaya ikan.Sampai 2010,sebanyak 650 unit usaha perikanan budidaya sudah disertifikasi.
Selain menghadirkan Fadel sebagai pembicara utama,acara yang mengambil tema Tahun Pertama Menuju 353 itu juga menghadirkan pakar pemasaran Kafi Kurnia yang membahas tentang tantangan dan strategi pemasaran produk perikanan.
Selain itu,pembicara Ketua AP51(Asosiasi Pengusaha Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia)Thomas Darmawan dan Ketua SCI(SHRIMP CLUB INDONESIA)Iwan Sutanto.
[S-26]
SUMBER:SUARA PEMBARUAN 8 FEBRUARI 2011 HAL 11
DISEASE BACTERIA (bacterial DISEASE)
DISEASE BACTERIA (bacterial DISEASE)
1. Red disease (Motile Aeromonas Septicemia)
Cause: Aeromonas hydrophila
Bio-Ecology Pathogens:
• It is a bacterial disease that often occurs at all ages and types of freshwater fish, although the type of bacteria often found in brackish water and marine fish.
• Bacterial infections are usually associated with stress conditions due to: high density, malnutrition, poor handling, poor water quality, extreme fluctuations in water temperature, etc..
• The attack is acute, and if environmental conditions continue to decline, which caused the death can reach 100%.
Clinical Symptoms
• The color of the body dull / dark, decreased appetite, gathered near the drain, visible skin, and excess mucus.
• Bleeding at the base of the fins, tail, around the anus and other body parts.
• Scales loose, sores around the mouth, and other body parts.
• In severe infections, flabby stomach and swelling (dropsy) containing a yellowish red liquid.
• suffocate fish commonly found in surface and bottom of the pond.
Diagnosis:
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• Prevention of early (seed) through vaccination anti Aeromonas hydrophila (HydroVac)
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance of fish
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Avoiding the occurrence of stress (physical chemistry. Biologist)
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Oxolinic acid at a dose of 10 mg / kg body weight of fish / day for 10 days
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
1. Red disease (Motile Aeromonas Septicemia)
Cause: Aeromonas hydrophila
Bio-Ecology Pathogens:
• It is a bacterial disease that often occurs at all ages and types of freshwater fish, although the type of bacteria often found in brackish water and marine fish.
• Bacterial infections are usually associated with stress conditions due to: high density, malnutrition, poor handling, poor water quality, extreme fluctuations in water temperature, etc..
• The attack is acute, and if environmental conditions continue to decline, which caused the death can reach 100%.
Clinical Symptoms
• The color of the body dull / dark, decreased appetite, gathered near the drain, visible skin, and excess mucus.
• Bleeding at the base of the fins, tail, around the anus and other body parts.
• Scales loose, sores around the mouth, and other body parts.
• In severe infections, flabby stomach and swelling (dropsy) containing a yellowish red liquid.
• suffocate fish commonly found in surface and bottom of the pond.
Diagnosis:
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• Prevention of early (seed) through vaccination anti Aeromonas hydrophila (HydroVac)
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance of fish
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Avoiding the occurrence of stress (physical chemistry. Biologist)
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Oxolinic acid at a dose of 10 mg / kg body weight of fish / day for 10 days
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
PENYAKIT BAKTERI (BACTERIAL DISEASE) Penyakit Merah (Motile Aeromonas Septicemia)
PENYAKIT BAKTERI (BACTERIAL DISEASE)
1. Penyakit Merah (Motile Aeromonas Septicemia)
Penyebab : Aeromonas hydrophila
Bio-Ekologi Patogen :
• Merupakan penyakit bakterial yang sering terjadi pada semua umur & jenis ikan air tawar, meskipun jenis bakteri tersebut sering pula ditemukan pada ikan air payau dan laut.
• Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik, kualitas air yang buruk, fluktuasi suhu air yang ekstrim, dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.

Gejala Klinis
• Warna tubuh kusam/gelap, nafsu makan menurun, mengumpul dekat saluran pembuangan, kulit kasat, dan ekses lendir.
• Perdarahan pada pangkal sirip, ekor, sekitar anus dan bagian tubuh lainnya.
• Sisik lepas, luka di sekitar mulut, dan bagian tubuh lainnya.
• Pada infeksi berat, perut lembek dan bengkak (dropsy) yang berisi cairan merah kekuningan.
• Ikan mati lemas sering ditemukan di permukaan maupun dasar kolam.
Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Pengendalian :
• Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti Aeromonas hydrophila (HydroVac)
• Desinfeksi s
arana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik kimia. biologi)
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan pathogen)
• Oxolinic acid pada dosis 10 mg/kg bobot tubuh ikan/hari selama 10 hari
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
1. Penyakit Merah (Motile Aeromonas Septicemia)
Penyebab : Aeromonas hydrophila
Bio-Ekologi Patogen :
• Merupakan penyakit bakterial yang sering terjadi pada semua umur & jenis ikan air tawar, meskipun jenis bakteri tersebut sering pula ditemukan pada ikan air payau dan laut.
• Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik, kualitas air yang buruk, fluktuasi suhu air yang ekstrim, dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.

Gejala Klinis
• Warna tubuh kusam/gelap, nafsu makan menurun, mengumpul dekat saluran pembuangan, kulit kasat, dan ekses lendir.
• Perdarahan pada pangkal sirip, ekor, sekitar anus dan bagian tubuh lainnya.
• Sisik lepas, luka di sekitar mulut, dan bagian tubuh lainnya.
• Pada infeksi berat, perut lembek dan bengkak (dropsy) yang berisi cairan merah kekuningan.
• Ikan mati lemas sering ditemukan di permukaan maupun dasar kolam.
Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Pengendalian :
• Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti Aeromonas hydrophila (HydroVac)
• Desinfeksi s
arana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik kimia. biologi)
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan pathogen)
• Oxolinic acid pada dosis 10 mg/kg bobot tubuh ikan/hari selama 10 hari
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Isopodiasis - penyakit ikan
Isopodiasis
Penyebab : Nerocilla orbiguyi, Alitropus typus, dll.
Bio-Ekologi Patogen :
• Isopod yang merupakan parasit pemakan darah "blood feeder' yang berukuran relatif besar (10-50 mm), dan tubuhnya terdiri dari beberapa segmen yang dilengkapi dengan sepasang mata.
• Menginfeksi pada semua stadia ikan dan hampir semua jenis ikan rentan terhadap infeksi parasit ini terutama pada ikan-ikan bersisik.
• Mene
mpel pada permukaan tubuh ikan, di dalam mulut, lubang hidung atau tutup insang.
• Penularan terjadi secara horizontal, dan pemicunya antara
lain karena kondisi perairan dan kepadatan yang tinggi.
Gejala Klinis :
• Luka serta pendarahan pada tempat gigitan, dan secara visual parasit ini tampak menempel pada tubuh ikan terutama di bawah sisik atau pada pangkal sirip.
• Hilang keseimbangan, lemah, dan nafsu makan turun.
• Nekrosa pada jaringan insang atau kulit ikan.
• Ikan lambat tumbuh, bahkan sering mengakibatkan kematian karena mengalami anemia atau karena infeksi sekunder oleh bakteri.
Diagnosa :
• Secara visual terlihat adanya parasit yang menempel pada tubuh ikan.
Pengendalian:
• Merontokkan parasit dalam wadah terbatas dengan bahan kimia yang mengandung bahan aktif dichlorfos pada konsentrasi 5 — 7 ppm selama 60 menit.
• Setelah parasit rontok, ikan dipindahkan ke wadah lain untuk mencegah adanya infeksi sekunder oleh bakteri pada bekas gigitan parasit.
• Menggunakan spot light pada malam hari untuk mengumpulkan parasit tersebut pada satu lokasi, kemudian diangkat dengan jaring.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Penyebab : Nerocilla orbiguyi, Alitropus typus, dll.
Bio-Ekologi Patogen :
• Isopod yang merupakan parasit pemakan darah "blood feeder' yang berukuran relatif besar (10-50 mm), dan tubuhnya terdiri dari beberapa segmen yang dilengkapi dengan sepasang mata.
• Menginfeksi pada semua stadia ikan dan hampir semua jenis ikan rentan terhadap infeksi parasit ini terutama pada ikan-ikan bersisik.
• Mene
mpel pada permukaan tubuh ikan, di dalam mulut, lubang hidung atau tutup insang.• Penularan terjadi secara horizontal, dan pemicunya antara
lain karena kondisi perairan dan kepadatan yang tinggi.
Gejala Klinis :
• Luka serta pendarahan pada tempat gigitan, dan secara visual parasit ini tampak menempel pada tubuh ikan terutama di bawah sisik atau pada pangkal sirip.
• Hilang keseimbangan, lemah, dan nafsu makan turun.
• Nekrosa pada jaringan insang atau kulit ikan.
• Ikan lambat tumbuh, bahkan sering mengakibatkan kematian karena mengalami anemia atau karena infeksi sekunder oleh bakteri.
Diagnosa :
• Secara visual terlihat adanya parasit yang menempel pada tubuh ikan.
Pengendalian:
• Merontokkan parasit dalam wadah terbatas dengan bahan kimia yang mengandung bahan aktif dichlorfos pada konsentrasi 5 — 7 ppm selama 60 menit.
• Setelah parasit rontok, ikan dipindahkan ke wadah lain untuk mencegah adanya infeksi sekunder oleh bakteri pada bekas gigitan parasit.
• Menggunakan spot light pada malam hari untuk mengumpulkan parasit tersebut pada satu lokasi, kemudian diangkat dengan jaring.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Mendidik Hamster ...??
Posting di blog awal tahun 2011 ini, saya ingin berbagi kepada teman2 semua yg "mungkin" selama ini sudah dibikin repot sama yg namanya "hamster" dengan cara mendidik hamster supaya pintar.
Caranya bagaimana ya..? apa harus di sekolahin di tk....??
ya tentunya tidak ya yang saya maksud disini bagaimana mendidik hamster supaya kalo mau pup atau bab (buang air besar) dan makan pada tempat yg sudah kita tentukan.... bisa apa..
..?? ya tentunya bisa dong selama semua kita biasakan dari kecil gak seperti teman2 kalo abis makan biasanya ngembaliin piring kedapur aja males, malah nyuruh permbantu....
APalagi yg baca artikel ini sambil senyum2 pasti dah dia sering begitu....
, Oke deh langsung aja saya ajarin rahasianya ...
Pertama pilihlah hamster2 cantik yg masih kecil (kira2 umur 1,5 bulan) yang harga jualnya lumayan mahal....
Keduanya, bersihkan kandang untuk dia dan lengkapi kandang dengan
1.Tempat minum
2.Tempat makanan
3.Tempat pup/bab
4.Tempat pipis
Kalo sudah lengkap tersusun di dalam kandang, isi semua tempat itu sesuai dengan fungsinya tempat minum isinya tentu air dong dan makanan isinya apa? ya makanan hamster dan tempat bab isinya apa? tempat pipis isinya apa?
Dari keterangan diatas pasti jelas dong ya nah untuk no 3 dan 4 ini tempatkan di pojok kandang teman2 tp jangan sejajar ya, misalnya tempat pipis di pojok sebelah kiri, tempat babnya disebelah kanan.. (paham kan awas kalo masih ada yg bingung)
Setelah itu ambil "pipet", beli diapotik ada kok, pipet ini gunanya untuk menyedot air kencingnya, sedotlah menggunakan pipet setelah itu buang air yg dalam pipetnya itu di tempat ditempat yang teman2 sudah sediakan tadi (tempat pipis), dan juga kotoran pup/babnya sama ambil saja 2 biji taruh disana
Sebelum memasukan hamster coba teman2 periksa semuanya, tempat makanannya jgn kosong,air, pipis, dan pup/bab, setelah semua terisi coba kamu masukan hamster2 yg tadi kamu pilih, tunggu biar hamster beradaptasi dengan tempat, sekitar 1 jam.... kalo sudah perhatikan nanti dia pipisnya dimana...., baba/pupnya dimana.. diamkan selama 2hari dan kemudian besok teman2 perhatikan lagi (kalo setelah 2 hari) masih ada hamster yg pipis sembarangan, bab sembarangan keluarin ganti sama hamster yg lainnn....
Mudahkan teman2 silahkan mencoba, dari apa yg sudah saya coba hasilnya lumayan maksimal, dan waktu membersihkanyapun enak, tinggal angkat tempat pipisnya buang, cuci, lalu kembalikan ke dalam kandang lagi..... begitu juga dengan tempat babnya...
Fungsi :
Kenapa saya katakan harus menempatkan pipis, baba, makanan, dan minuman pada tempatnya,hal itu dipergunakan untuk memancing hamster mencium bau2 kandangnya, dengan dipancing maka hamster akan meandai daerah2 itu dan keesokan harinya hamster telah tau disana wcku, disana meja makanku, disana urinalku.....
Oke selamat mencoba semoga sukses mendidik hamsternya yaaaaa....... salam dari saya buat teman2 seluruh Indonesia dan Asia
Admin,
Putut Verdias AR
Caranya bagaimana ya..? apa harus di sekolahin di tk....??
Pertama pilihlah hamster2 cantik yg masih kecil (kira2 umur 1,5 bulan) yang harga jualnya lumayan mahal....
Keduanya, bersihkan kandang untuk dia dan lengkapi kandang dengan
1.Tempat minum
2.Tempat makanan
3.Tempat pup/bab
4.Tempat pipis
Kalo sudah lengkap tersusun di dalam kandang, isi semua tempat itu sesuai dengan fungsinya tempat minum isinya tentu air dong dan makanan isinya apa? ya makanan hamster dan tempat bab isinya apa? tempat pipis isinya apa?
Dari keterangan diatas pasti jelas dong ya nah untuk no 3 dan 4 ini tempatkan di pojok kandang teman2 tp jangan sejajar ya, misalnya tempat pipis di pojok sebelah kiri, tempat babnya disebelah kanan.. (paham kan awas kalo masih ada yg bingung)
Setelah itu ambil "pipet", beli diapotik ada kok, pipet ini gunanya untuk menyedot air kencingnya, sedotlah menggunakan pipet setelah itu buang air yg dalam pipetnya itu di tempat ditempat yang teman2 sudah sediakan tadi (tempat pipis), dan juga kotoran pup/babnya sama ambil saja 2 biji taruh disana
Sebelum memasukan hamster coba teman2 periksa semuanya, tempat makanannya jgn kosong,air, pipis, dan pup/bab, setelah semua terisi coba kamu masukan hamster2 yg tadi kamu pilih, tunggu biar hamster beradaptasi dengan tempat, sekitar 1 jam.... kalo sudah perhatikan nanti dia pipisnya dimana...., baba/pupnya dimana.. diamkan selama 2hari dan kemudian besok teman2 perhatikan lagi (kalo setelah 2 hari) masih ada hamster yg pipis sembarangan, bab sembarangan keluarin ganti sama hamster yg lainnn....
Mudahkan teman2 silahkan mencoba, dari apa yg sudah saya coba hasilnya lumayan maksimal, dan waktu membersihkanyapun enak, tinggal angkat tempat pipisnya buang, cuci, lalu kembalikan ke dalam kandang lagi..... begitu juga dengan tempat babnya...
Fungsi :
Kenapa saya katakan harus menempatkan pipis, baba, makanan, dan minuman pada tempatnya,hal itu dipergunakan untuk memancing hamster mencium bau2 kandangnya, dengan dipancing maka hamster akan meandai daerah2 itu dan keesokan harinya hamster telah tau disana wcku, disana meja makanku, disana urinalku.....
Oke selamat mencoba semoga sukses mendidik hamsternya yaaaaa....... salam dari saya buat teman2 seluruh Indonesia dan Asia
Admin,
Putut Verdias AR
Argulosis - penyakit ikan
Argulosis
Penyebab : Argulus sp.
Bio-Ekologi Patogen :
• Parasit ini dik
enal sebagai "kutu ikan" dan penghisap darah, berbentuk datar. dan lebih nampak seperti piring.
• Melukai tubuh ikan dengan bantuan enzim cytolytic, selain pada kulit, kutu ini juga sering dijumpai di bawah tutup insang ikan.
• Hampir semua jenis ikan air tawar rentan terhadap infeksi parasit ini.
• Pada intensitas serangan yang tinggi. ikan dewasapun dapat mengalami kematian karena kekurangan darah.
Gejala Klinis :
• Secara visual parasit ini tampak seperti kutu yang menempel pada tubuh ikan. disertai dengan pendarahan di sekitar tempat gigitannya.
• Iritasi kulit, hilang keseimbangan, berenang zig-zag, melompat ke permukaan air dan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras yang ada di sekitarnya.
Diagnosa :
• Secara visual terlihat adanya parasit yang menempel pada tubuh ikan
Pengendalian:
• Pengeringan dasar kolam yang diikuti dengan pengapuran.
• Perendaman dapat dilakukan dengan:
✓ Larutan Dylox pada dosis 0,25 ppm selama 24 jam atau lebih di kolam.
✓ Larutan Amonium Klorida (NH4CI) pada dosis 1,0 -1,5% selama 15 menit, atau garam dapur pada dosis 1,25% selama 15 menit.
✓ Larutan Dichlorvos 0,2 mg/L selama 24 jam atau lebih, setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut
✓ Garam dapur 500 – 1000 ppm selama 24 jam atau lebih, diulang setiap minggu selama 4 kali pemberian
✓ Potassium permanganate (PK) 2-5 mg/L selama 24 jam atau lebih.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Penyebab : Argulus sp.
Bio-Ekologi Patogen :
• Parasit ini dik
enal sebagai "kutu ikan" dan penghisap darah, berbentuk datar. dan lebih nampak seperti piring.• Melukai tubuh ikan dengan bantuan enzim cytolytic, selain pada kulit, kutu ini juga sering dijumpai di bawah tutup insang ikan.
• Hampir semua jenis ikan air tawar rentan terhadap infeksi parasit ini.
• Pada intensitas serangan yang tinggi. ikan dewasapun dapat mengalami kematian karena kekurangan darah.
Gejala Klinis :
• Secara visual parasit ini tampak seperti kutu yang menempel pada tubuh ikan. disertai dengan pendarahan di sekitar tempat gigitannya.
• Iritasi kulit, hilang keseimbangan, berenang zig-zag, melompat ke permukaan air dan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras yang ada di sekitarnya.
Diagnosa :
• Secara visual terlihat adanya parasit yang menempel pada tubuh ikan
Pengendalian:
• Pengeringan dasar kolam yang diikuti dengan pengapuran.
• Perendaman dapat dilakukan dengan:
✓ Larutan Dylox pada dosis 0,25 ppm selama 24 jam atau lebih di kolam.
✓ Larutan Amonium Klorida (NH4CI) pada dosis 1,0 -1,5% selama 15 menit, atau garam dapur pada dosis 1,25% selama 15 menit.
✓ Larutan Dichlorvos 0,2 mg/L selama 24 jam atau lebih, setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut
✓ Garam dapur 500 – 1000 ppm selama 24 jam atau lebih, diulang setiap minggu selama 4 kali pemberian
✓ Potassium permanganate (PK) 2-5 mg/L selama 24 jam atau lebih.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)