Pembenihan Ikan Guppy (Poecilia reticulata)

Pembenihan Ikan Guppy (Poecilia reticulata)


Ikan Guppy merupakan salah satu jenis ikan dari famili Poicilidae, dimana ikan dari famili ini termasuk ikan yang mudah dikembangbiakan. Ciri khusus dari ikan guppy adalah ekornya yang melebar dan bercorak batik. Corak batik ini terdiri dari berbagai warna, seperti biru, hitam, kuning, atau merah saja. Panjang guppy dewasa bisa mencapai 3 – 4 cm.



Pemilihan induk

Cara membedakan induk jantan dan betina dengan melihat bentuk tubuh dan warnanya. Induk jantan berwarna tajam dan tubuhnya ramping sedangkan induk betina tubuhnya pendek dan gemuk serta warna tubuhnya buram.



Pemijahan

* Persiapan pemijahan

Wadah untuk pemijahan berupa bak tembok atau bak plastik berukuran 1 x 1 x 0,5 m, 2 x 1 x 0,5 m atau 4 x 4 x 0,5 m dengan tinggi air 25 – 40 cm dan aerasi lemah.

Air yang digunakan untuk pemijahan memiliki pH 6 – 7 dan suhu 24 – 28oC. Substrat yang digunakan untuk tempat induk bercumbu dan menempelkan telur berupa hydrilla.

* Proses Pemijahan

Pemijahan berlangsung secara massal dengan rasio jantan dan betina 1 : 2 dengan padat tebar 15 ekor/ 50 liter air.

Pemijahan ditandai dengan guppy jantan yang mengejar-ngejar betina dan selalu ”menanduk-nanduk” bagian anus betina serta terkadang menempelkan badannya ke badan betina.

Setelah 4 – 7 hari, biasanya anak-anak ikan guppy berenang di permukaan air. Setelah itu, dapat dipisahkan dari induknya.



Perawatan Telur, Larva dan Anak

- Untuk menghindari serangan jamur, pada media mepeliharaan telur dilarutkan MGO dan MB

- Setiap induk dapat menghasilkan 10 – 50 ekor, anak ikan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah lain yang telah disiapkan.

- Pakan yang diberikan berupa infusoria sampai berumur 5 – 7 hari.

- Untuk melindungi anak ikan maka pada wadah pemeliharaan diberikan eceng gondok atau tanaman air berupa hydrilla.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

PENGARUH PAKAN IKAN TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DANAU/WADUK PADA BUDIDAYA IKAN SISTEM KJA

PENGARUH PAKAN IKAN TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DANAU/WADUK PADA BUDIDAYA IKAN SISTEM KJA

Di beberapa danau/waduk, para pembudidaya ikan memanfaatkannya sebagai lahan budidaya ikan yang menggunakan sistem keramba atau Keramba Jaring Apung (KJA). Sifat perairan danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Hal tersebut didukung dengan budidaya ikan berbasis pakan buatan (pelet) dimana aktivitas budidayanya menggunakan pemberian pakan hampir 70% dari proses produksinya.

Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pertumbuhan jumlah keramba yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan sejumlah limbah organik yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien.
Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tiggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan, limbah tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk) yang pada akhirnya mempengaruhi hewan yang dipelihara. Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Melihat akibat yang ditimbulkan dari pemberian pakan ikan budidaya ikan sistem KJA terhadap kualitas perairan di danau/waduk maka penulis tertarik akan hal tersebut. Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan ikan terhadap kualitas perairan danau/waduk pada budidaya ikan sistem KJA.

A. Pembahasan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan limbah organik (kotoran ikan dan sisa pakan yang tidak termakan) yang akan merangsang produktivitas perairan dan mempengaruhi karakteristik biotik dan abiotik perairan (Krismono, 1992). Budidaya ikan dalam KJA secara intensif merupakan usaha perikanan yang dapat dikembangkan dengan pemberian pakan komersil (pelet). Semakin banyak KJA yang beroperasi akan semakin banyak limbah yang masuk ke perairan. Limbah tersebut berasal dari pemberian pakan yang berlebihan yang akan menimbulkan dampak lanjut ke perairan berupa kotoran dan sisa pakan.

Kegiatan budidaya ikan sistem KJA yang dikelola secara intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan yang besar yang bagaimanapun efisiensinya rasio pemberian pakan, tidak seluruh pakan yang diberikan akan termanfaatkan oleh ikan-ikan peliharaan dan akan jatuh ke dasar perairan. Pakan ikan merupakan penyumbang bahan organik tertinggi di danau/waduk (80%) dalam menghasilkan dampak lingkungan (Garno, 2000). Jumlah pakan yang tidak dikonsumsi atau terbuang di dasar perairan oleh ikan sekitar 20–50%. Berbagai pendapat mengenai jumlah pakan yang terurai di danau /waduk:

1. Lukman & Hidayat (2002) bahwa sisa pakan dalam bentuk kotoran ikan yang jatuh ke perairan sekitar 50% dari pakan yang diberikan.
2. Krismono (1993) dalam Krismono dan Wahyudi (2002), pemberian pakan dengan sistem pompa memberi sumbangan berupa pakan yang terbuang sekitar 20 ? 30% untuk setiap unit KJA dengan ukuran 7 x 7 x 3 m3.
3. Philips et al., (1993), Boyd (1999), Mc Donad et al., (1996), 30% dari jumlah pakan yang diberikan tertinggal sebagai pakan yang tidak dikonsumsi dan 25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan diekskresikan.
4. Sutardjo (2000), limbah pakan yang terbuang ke perairan yang diperkirakan sekitar 30–40%.
5. Azwar dkk (2004), jumlah pakan pada sistem KJA yang diberikan per hari mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% dari pakan yang dikonsumsi tersebut akan diekskresikan ke lingkungan.
6. Rachmansyah (2004), pakan yang diberikan pada ikan hanya 70% yang dimakan oleh ikan dan sisanya sebanyak 30% akan lepas ke badan perairan danau sebagai bahan pencemar atau limbah.

Umumnya di danau/waduk, pemberian pakan adalah dengan sistem pompa yaitu pemberian pakan sebanyak-banyaknya (Kartamihardja, 1995 dalam Nastiti et al., 2001) akibatnya terjadi pemberian pakan berlebih (over feeding). Pemberian pakan yang dilakukan secara adbilitum (terus menerus hingga ikan betul-betul kenyang) menyebabkan banyak pakan yang terbuang (inefisiensi pakan) dan terakumulasi di dasar perairan. Sisa pakan yang tidak termakan dan ekskresi yang terbuang pada akhirnya akan diuraikan olej jasad-jasad pengurai yang memerlukan oksigen. Dalam kondisi anaerob penguraian akan berjalan dengan baik, namun dari proses anaerobik ini dihasilkan berbagai gas beracun yang dapat mencemari perairan danau/waduk. Disamping hal tersebut, sisa pakan dan buangan padat ikan akan terurai melalui proses dekomposisi membentuk senyawa organik dan anorganik, beberapa diantaranya senyawa nitrogen (NH3, NO2, NO3) dan fosfor (PO4) (Juaningsih, 1997). Senyawa-senyawa nitrogen (N) dan fosfor (P) diperlukan oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Di perairan fitoplankton merupakan produsen primer yang mempengaruhi kelimpahan organisme. Sisa-sisa pakan dan kotoran ikan dari KJA berperan sebagai pupuk yang dapat menyuburkan perairan danau/waduk. Apabila dalam keadaan hipertropik berakibat pertumbuhan yang tidak terkendali (blooming) plankton jenis tertentu.

Kotoran ikan dapat menimbulkan deposisi yang meningkat di dasar perairan, selanjutnya mengakibatkan penurunan kadar oksigen di bagian dasar. Menurut Lukman (2006) menjelaskan bahwa pasokan oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses ikan dan pembusukan sisa pakan ikan. Menurutnya untuk setiap gram organik (limbah budidaya ikan) diperlukan 1,42 gram oksigen. Konsentrasi oksigen yang tersedia berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi aerobik, pertumbuhan dan reproduksi. Konsentrasi oksigen terlarut di perairan juga menentukan kapasitas perairan untuk menerima beban bahan organik tanpa menyebabkan gangguan atau mematikan organisme hidup (Umaly and Cuvin, 1988). Sumber oksigen di perairan berasal dari: difusi atmosfir, fotosintesis,angin, dan susupan oksigen terlarut. Sedangkan penggunaan oksigen terlarut di lapisan perairan (Simarmata, 2007):

1. Lapisan permukaan perairan terdapat (a) proses pembentukan biomassa dalam karamba dan kotoran (ekskresi & feses) serta sisa pakan; (b) proses pembentukan, melalui fotosintesa, memanfaatkan unsur hara menjadi biomassa fitopankton+oksigen.
2. Lapisan tengah terjadi proses mineralisasi sisa pakan/ kotoran ; membebaskan unsur hara. N, P, K, Si dengan memanfaatkan oksigen (DO), akibatnya cadangan DO berkurang, diindikasikan dengan adanya ODR (Oxygen Depletion Rate) atau HODR (Hypolimnion Oxygen Depletion Rate).
3. Lapisan bawah atau dasar perairan, menampung akumulasi sisa pakan/kotoran ikan serta produk dekomposisi sisa pakan seperti: CO2, H2S, NH3, CH4 pada kondisi anaerob. Peningkatan unsur hara (N, P, Si) tersebut potensial menunjang perkembangan fitoplankton (bloom), yang di dominasi oleh kelompok cyanophyceae Mycrocytis sp. Perkembangan fitoplankton tersebut akhirnya mengganggu keseimbangan DO di perairan.

Bahan organik dan nutrien yang berasal dari luar dan dari kegiatan budidaya KJA akan mempengaruhi ketersediaan oksigen dan daya dukung perairan. Daya dukung perairan yaitu kemampuan perairan dalam menerima, mengencerkan dan mengasimilasi beban tanpa menyebabkan perubahan kualitas air atau pencemaran. Cadangan oksigen di perairan danau/waduk sangat terbatas. Apabila beban melampaui ketersediaan cadangan oksigen, akan terjadi deplesi, lalu defisit dan menyebabkan pencemaran. Pada akhirnya pemberian pakan ikan yang berlebihan pada buddiaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

B. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat akan menghasilkan sejumlah limbah organik (terutama yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor) yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien sehingga terjadi sisa pakan yang menumpuk di dasar perairan. Limbah organik pada budidaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau (eutrofikasi, upwelling dan lain-lain) yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

2. Saran

1. Perlunya pengaturan musim tanam, pengendalian jumlah KJA dan padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah seperti ikan patin, lele, dan betutu.
2. Perlu disosialisasikan tentang cara pemberian pakan yang sesuai dengan ketentuan yaitu 3% dari berat badan ikan yang dibudidayakan dan diberikan tiga kali sehari yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sisa pakan yang masuk perairan
3. Perlu disosialisasikan KJA yang ramah lingkungan yaitu KJA ganda dan konstruksi KJA dengan pelampung polystyrene foam.



C. Daftar Pustaka

Azwar, ZI., Ningrum, S dan Ongko, S. 2004. Manajemen Pakan Usaha Budidaya Ikan di Karamba Jaring Apung. Dalam Pengembangan Budidaya Perikanan di Perairan Waduk. Pusat Riset Budidaya Perikanan. Jakarta.
Boyd, C. E. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. December 1999 : 12-13.

Juaningsih, N. 1997. Eutrofikasi di Waduk Saguling Jawa Barat. Laporan Penelitian Balai Penelitian Air Tawar Purwakarta Jawa Barat. Hal 40 – 44.

Krismono. 1992. Penelitian Potensi Sumberdaya Perairan Waduk Wadaslintang, Mrica, Karangates dan Waduk Selorejo untuk Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung. Buletin Penelitian Perikanan Darat. Vol. II No. 2 Juni. 20 hal.

Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.

Mc. Donald, M.E, Tikkanen, C. A, Axler, R. P , Larsen, C. P dan Host, G. 1996. Fish Simulation Culture Modekl (FIS-C) : A Bioenergetics Based Model for Aquacultural Wasteload Application. Aquacultural Engineering. 15 (4): 243 - 259.
Nastiti, A.S., Krismono, dan E.S. Kartamiharja. 2001. Dampak Budidaya Ikan dalam KJA terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (2): 22-30.

Phillips, M.J, Clarke, R. dan Mowat, A. 1993. Phosphorus Leaching from Atlantic Salmon Diets, Aquacultural Engineering. 12 (1993) : 47 – 54.

Rachmansyah. 2004. Analisis Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Awarange Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan bagi Pengembangan Budidaya Bandeng dalam Keramba Jaring Apung. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Simarmata, A. H. 2007. Kajian Keterkaitan antara Kemantapan Cadangan Oksigen dengan Beban Masukan Bahan Organik di Waduk Ir. H. Juanda Purwakarta Jawa Barat. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Sutardjo. 2000. Pengaruh Budidaya Ikan pada Kualitas Air Waduk (Studi Kasus pada Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung, di Ciganea, Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat). Program Studi Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana. Universitas Indonesia. Jakarta. Tesis.
Umaly, R.C and M.A.L.A Cuvin. 1988. Limnology. National Book Store Publisher. Manila.

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

BANYUWANGI-Kebangkitan budidaya udang sudah dapat dirasakan sejak awal 2011 di tambak-tambak rakyat sepanjang Pantura Jawa mulai dari Karawang, Garut sampai ke Patrol, Jawa Barat. Geliat budidaya udang juga sudah bisa dilihat mulai dari Kendal, Jepara. Jawa Tengah hingga perbatasan pintu gerbang Tuban, JawaTimur hingga Banyuwangi.

"Kita akan sama-sama melihat kebangkitan udang di tanah air. Seperti apa hasil panen ini, kita bisa merasakan dan bergantian mengangkat jaringnya agar ikut merasakan bagaimana nikmatnya panen," ujar Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ketut Sugama saat panen udang Vaname di Karawang Jawa Barat kemarin.

Budidaya udang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dan sejumlah daerah di Indonesia perlahan mulai bangkit lagi.

Diperkirakan produksi udang pada tahun ini mencapai 460.000 ton. Dari jumlah itu, untuk udang windu diperkirakan akan mencapai 130.000 ton, dan vaname ditargetkan sebanyak 350.000 ton. Budidaya udang bergairah kembali karena pasar untuk dalam dan luar negeri bagus. Masalah penyakit juga mulai berkurang. Tambak yang dulu mangkrak kini sudah mulai dimanfaatkan lagi.

Menurut Ketut, kunci sukses budidaya udang terletak pada manajemen tambak, seleksi atau perbaikan genetik dan kontrol penyakit. Pusat perbenihann udang juga dilakukan modernisasi dengan menerapkan sistem tambak terkontrol. "Sudah banyak benih udang yang bersertifikat dirilis ke masyarakat Benih yang berkualitas inilah yang harus terus dikembangkan untuk menunjang produksi," ujarnya, (nel)


Sumber : Indo Pos 04 April 2011,hal. 4

Tentang Hamster Robo



Roborovski adalah hamster terkecil dan tercepat. Memiliki masa hidup sekitar 2-3 1 / 2 tahun.

Panjang Hamster Robos adalah 4-5 cm. panjang kakinya tidak sama dan yang paling panjang

Sebuah akuarium adalah rumah yang baik untuk Hamster Robo anda. Kertas Shredded atau serutan kayu bebas debu dan beddings toys baik untuk rumahnya/ asesoris

Gunakanlah alas pasir atau kayu yang netral artinya tidak mengandung aroma kayunya, sehingga hamster tidak tertarik untuk merusaknya

Robos memiliki peluang jual yg sangat baik dan banyak disukai karena robo tidak suka mengigit, tapi Hamster robo ini mudah terkejut sehinggan sring terkena serangan jantung.

Dalam hidupnya Hamster ini lebih suka berkelompok, sehingga pengawinan dengan cara 'kroyokan' sangat bisa di terapkan untuk hamster robo ini

Robo muda suka bermain, maka ada baiknya dalam kandang pembesaran yg anda buat untuk cepat merangsang pertumbuhannya lengkapilah dengan mainan tapi hal ini jangan anda terapkan pada Robo yg sedang menyusui karena jika anda terapkan maka sang induk Robo akan terus bermain tidak mau menyusui anaknya

Robo ternyata memiliki makanan favorite seperti kwaci, telur rebus, kentang rebus.. lengkapilah kandang anda dengan tempat minum yg berisi air dan rajin dikontrol karena Robo suka sekali minum setelah bermain

Diterjemahkan dalam bahas Indonesia oleh :
www.beternak-hamster.blogspot.com





Fadel: Impor Ikan Beku Direekspor

Fadel: Impor Ikan Beku Direekspor

BOGOR - Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menegaskan pihaknya akan mengekpor kembali atau reekspor ratusan ton ikan beku impor asal Tiongkok dan Thailand yang ada di lima lokasi pada 7 April 2011.

"Tanggal 7 April mudah-mudahan selesai, sehinggga bisa saya kirim kembali ikan itu. Saya sedang koordinasi dengan Direktotar Bea dan Cukai serta instansi lainya. Ke-13 importir itu juga sudah saya pegang alamat dan nama pemiliknya," kata Fadel di Istana Bogor, Selasa (29/3).

Menurut Fadel, saat ini pengurus dokumen untuk pengiriman kembali ikan beku impor itu sedang disusun. Ikan beku impor yang akan dikirim kembali ke negara asalnya itu terdiri dari 200 kontainer yang berada di lima lokasi, yaitu Pelabuhan Belawan Medan, Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Mas Semarang, dan di Bandar Udara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten.

HIngga kini 20 kontainer ikan beku impor itu masih ditahan karena tidak memiliki izin ikan impor dan mayoritas adalah ikan kembung, layang, teri, tongkol kecil, sampai ikan asin.

Menurut Fadel pihaknya sudah bertatap muka dikantornya dengan 13 importir yang membawa ikan itu masuk ke Indonesia. "Importir menyampaikan alasan yang bermacam-macam, seperti akan buat pakan, namun nyatanya di jual di pasar tradisional," tutur dia.

Faddel mengatakan, ikan yang dikirim itu sebenarnya banyak terdapat di Indonesia dan merupakan hasil tangkapan para utama nelayan di Indonesia.

Namun, kata dia, harga ikan impor itu 30% lebih murah karena ditangkap dengan kapal berkapasitas besar. "Saya sedih sekali nelayan kita jelas sulit bersaing dengan mereka," ucpanya.

Dia menjelaskan sejak perjanjian perdagangan bebas Asean-Tiongkok (CAFTA) diteken, impoter banyak memasukan barang impor yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Padahal kata dia Kementerian sudah membuat aturan mengenai jenis-jenis ikan yang boleh dan jenis ikan yang dilarang masuk Ke Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 17/2010.

Namun, kata dia, sikapnya malah dituding sebagai langkah menyalahi aturan perdagangan bebas."Saya sekarang dapat banyak tantangan, dari beberapa orang yang menilai saya menyalahi aturan free trade. Saya menghargai perdagangan bebas tapi, saya mau perdagangan bebas yang terkendali, yang memebuat rakyat sejahtera," ujar Fadel.

Sementara itu Drjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Viktor Nikijuluw sebelumnya mengatakan, dokumen impor ikan yang diterbitkan KKP jelas mengatur syarat-syarat impor.

Syarat impor itu antara lain, ikan yang boleh diimpor hanya jenis yang tidak ditemukan atau diproduksi di Indonesia. "Ikan Salmon misalnya, boleh diimpor karena tidak ada di Indonesia dan diperuntukan bagi ekspatriat." kata Viktor.

Menurut dia, selain pengaturan terkait jenis ikan, KKP juga mengatur syarat adanya Unit Pengelola Ikan (UPI) bagi setiap importir. Syarat itu menetapkan ketentuan, setiap importir boleh mengimpor bahan baku ikan demi kepentingan UPI. Artinya bahan baku itu diperuntukan bagi industri pengolahan untuk selanjutnya di ekspor. "Importir hanya boleh impor bahan baku untuk kemudian diolah lantas diekspor lagi," kata Viktor.

Dia menyayangkan, pelanggaran yang dilakukan importir bisa mematikan rantai produksi perikanan lokal. Sebab ikan impor yang masuk sebagian besar dari Tiongkok dan otomatis menekan harga ikan lokal. Harga ikan lokal yang murah berdampak negatif pada kemampuan produksi nelayan. Pasar ikan lokal yang tidak lagi mamapu menyerap hasil produksi nelayan lokal akan memukul rantai produksi dan konsumsi.

Data KKP menyebutkan, terdapat peningkatan nilai impor dibanding ekspor dalam dua tahun terakhir. Kenaikan impor lebih tinggi dibanding ekspor. Pada tahun 2009 nilai impor tercatat US$ 300 juta, naik menjadi US$ 390 juta tahun 2010. Nilai ekspor tahun 2009 tercatat US$ 2,5 miliar, naik menjadi US$ 2,89 miliar. "Meski secara nominal nilai ekspor lebih tinggi dari impor, tetapi persentasi peningkatan lebih tinggi impor dibanding ekspor. Ini harus dicegah dan KKP berkomitmen menggerakkan Industri dalam negeri," kata Viktor.

SUMBER : INVESTOR DAILY HAL 23, RABU 30 MARET 2011

FITOPLANKTON ALTERNATIF Cocolite sp., PACU PRODUKSI BENIH KERAPU BEBEK

FITOPLANKTON ALTERNATIF Cocolite sp., PACU PRODUKSI BENIH KERAPU BEBEK PDF Print E-mail



Penggunaan Cocolite sp. Sebagai Fitoplankton Alternatif dalam Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek Dapat Meningkatkan Produksi Benih Sehingga Mampu Turut Serta dalam Mendukung Peningkatan Target Produksi di Tahun 2015 dan Berusaha Memenuhi Permintaan Kerapu Bebek di Pasar Internasional.

C

hlorella sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton yang digunakan dalam pemeliharaan larva kerapu bebek (Cromileptes altivelis) sebagai peneduh atau penyangga kualitas air. Secara umum diketahui bahwa produksi massal fitoplankton termasuk Chlorella sp. tergantung pada kondiisi alam termasuk sinar matahari (keadaan cuaca). Di BBL Ambon ketersediaan fitoplankton jenis Chlorella sp. pada musim penghujan tidak stabil sehingga kontinuitas penyediaan fitoplankton menjadi tidak menentu. Akibat dari ketidakstabilan fitoplankton tersebut berpengaruh terhadap pemeliharaan larva kerapu bebek (C. altivelis). Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan fitoplankton alternatif. Cocolite sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton yang dibiakkan di laboratorium pakan alami Balai Budidaya Laut Ambon. Secara visual Cocolite sp. berwarna hijau kebiruan, bentuk selnya bervariasi ( oval, elips, bulat telur dan silindris), mempunyai ukuran 2-8 µm, dapat digunakan sebagai pakan zooplankton (rotifer dan artemia) dan dalam kondisi musim hujan dapat tumbuh dengan baik.

Dalam upaya meningkatkan benih kerapu bebek ketika kondisi alam tidak mendukung untuk pertumbuhan jenis fitoplankton yang biasa digunakan, maka Cocolite sp. digunakan sebagai fitoplankton alternatif dalam pemeliharaan larva kerapu bebek (C. altivelis). Hal ini dikareakan di saat kondisi cuaca tidak stabil jenis fitoplankton ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

PEMELIHARAAN LARVA KERAPU BEBEK (C. altivelis)

Teknologi yang digunakan dalam pembenihan ikan kerapu bebek (C. altivelis) telah berkembang dengan baik. Namun dalam usaha perbenihan, banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan produksi benih, beberapa faktor penting diantaranya adalah kualitas telur, pakan hidup/alami, metode pemeliharaan larva dan penanganan penyakit. Teknologi yang diterapkan dalam pemeliharaan larva harus benar-benar diperhatikan agar memperoleh hasil yang maksimal. Adapun teknologi yang diterapkan adalah mengadopsi dari teknologi yang telah ada kemudian disesuaikan dengan kondisi yang ada di BBL Ambon.

Bak yang digunakan untuk kegiatan ini berkapasitas 6 m3 sebanyak 2 buah terletak dalam ruangan tertutup. Sebelum bak digunakan, terlebih dulu disterilkan dengan menggunakan kaporit dan dibilas dengan air tawar. Volume awal media pemelihaaran 4 m3 (untuk bak kapasitas 6 m3). Penambahan fitoplankton Cocolite sp. pada media pemeliharaan sebanyak 200 – 300 liter/ hari. Padat tebar telur 100.000 butir/bak. Larva pada stadia awal memerlukan intensitas cahaya 1000 lux dan fotoperiod lebih dari 10 jam untuk memburu pakan secara optimal. Aerasi biasanya menggunakan batu aerasi yang diletakan didasar bak larva. Pada larva berumur 0 - 2 HSM (hari setelah menetas) aerasi diberikan agak kuat untuk menghindari larva mengendap di dasar bak. Antara umur 3 -10 HSM kecepatan aerasi dikurangi sampai kecepatan sedang. Antara umur 11 – 25 HSM, kecepatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit dan larva berumur lebih dari 25 HSM aerasi diperkuat. Tiga jenis pakan biasanya digunakan untuk membesarkan larva yaitu : rotifer, pakan buatan dan artemia.

Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara mempertahankan media pemeliharan sesuai standar yang telah ditetapkan, dengan cara pergantian air dengan double filter, pengaturan suhu dan kadar garam, penambahan plankton, pembersihan dasar bak, penyebaran minyak ikan pada permukan air, pembersihan permukaan air dan mempertahankan warna air dalam bak larva. Panen dilakukan pada larva berumur D-60, Juvenil hasil panen digrading berdasarkan ukurannya.

Tabel 1. Jadwal Pakan Harian Pemeliharaan Larva kerapu Bebek BBL Ambon

Umur

(Hari)

Jenis

Pakan

Frekuensi

(per hari)

Waktu (jam)

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

2 – 3

Co

1x



X











R

1x






x








4 – 7

Co

1x



X











R

2x





x






x



P

2x


x






X






8 – 18

Co

1x



X











R

2x





x







x


P

3x


x




x




X




19-30

Co

1x



X











R

2x





x







x


P

3x


x





x



X




NA

2x





x






x



31-40

P

4x


x


x



x



X




NA

3x





x




x



x


AS

3x





x




x



x


41-45

P

5x


x


x



x



x


x


AS

2x





x




x





AD

2x





x




x





46 – panen

P

6x


x

x




x

x



X

x


AD

3x





x




x




x

Ket: Co = Cocolite sp.

R = Rotifer

P = Pakan Buatan

NA = Naupli Artemia

AS = Artemia Sedang

AD = Artemia Dewasa

Tabel 2. Metode Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek

Umur

(Hari)

Manajemen Pakan

Manajemen kualitas

Air

Jenis

Pakan

Dosis

Frekuensi

(per hari)

Pergantian Air

Siphon

D-0

s/d

D-1

Yolk egg

-

-

-

-

D-2

s/d

D-3

Cocolite

Rotifer

50-100 ribu sel/ml

3-5 ind/ml

1x

1x

-

-

D-4

s/d

D7

Cocolite

Rotifer

Pakan Buatan

50-100 ribu sel/ml

3-5 ind/ml

1,25 gr/pemberian

1x

2x

2x

-

-

D-8

s/d

D-17

Cocolite

Rotifer

Pakan Buatan

50-100 ribu sel/ml

5-7 ind/ml

1,25 - 2,5 gr/pemberian

1x

2x

3x

-

-

D-18

Cocolite

Rotifer

Pakan Buatan

50-100 ribu sel/ml

5-7 ind/ml

1,25 - 2,5 gr/pemberian

1x

2x

3x

10 %

-

D-19

s/d

D-30

Cocolite

Rotifer

Pakan Buatan

Naupli Artemia

50-100 ribu sel/ml

3-5 ind/ml

2,5-5 gr/pemberian

1-3 ind/ml

1x

1x

3x

5x

2x

20-50% (D19–D21)

50-75 % (D20– 25)

75-85% (D26-D28)

85-100% (D29-30)

>D30 sirkulasi

Siphon dasar

(D-30)

D-31

s/d

D-40

Pakan Buatan

Naupli Artemia

Artemia sedang

5-10 gr/pemberian

1-3 ind/ml

3-7 ind/ml

4x

3x

3x

Sirkulasi

Siphon

(jika dasar bak kotor)

D-41

s/d

D-45

Pakan Buatan

Artemia sedang

Artemia dewasa

5-10 gr/pemberian

3-7 ind/ml

secukupnya

5x

2x

2x

Sirkulasi

Siphon

(jika dasar bak kotor)

D-46

s/d

Panen

Pakan Buatan

Artemia dewasa

10-15 gr/pemberian

secukupnya

6x

3x

Sirkulasi

Siphon

(jika dasar bak kotor)

PENGGUNAAN Cocolite sp.

Berdasarkan laporan dari tim pakan alami (contact person) bahwa rotifer dapat bertumbuh dengan baik ketika diberi pakan fitoplankton Cocolite sp. hal ini membuktikan bahwa Cocolite sp. aman atau tidak mengandung racun bagi organisme yang memakannya, bahkan dapat memberikan pertumbuhan yang baik (bagi rotifer).Berdasarkan hasil analisa proximate, tepung Cocolite sp. mengandung 13,5%, Karbohidrat 6,56%, lemak 0,2%, Abu 66,69% dan air 12,75%. Dibandingkan dengan fitoplankton yang lazim digunakan untuk pemeliharaan larva, kandungan protein dan lemaknya lebih rendah. Walaupun demikian, penggunaan fitoplankton Cocolite sp. dalam kegiatan pembenihan kerapu bebek (untuk pakan rotifer dan pemeliharaan larva) dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan dimana dari 100.000 butir telur/bak yang ditebar, rata-rata 80.000 butir/bak (HR=80 %) menetas menjadi larva dan dapat bertahan hidup sampai panen (umur 60 HSM) sebanyak 2000 ekor (SR=2,5%) dengan ukuran berkisar antara 1.5 cm - 3 cm dengan tingkat keseragaman 90% dan tingkat keabnormalan 5%.

Hasil pemeliharaan larva kerapu bebek dengan fitoplankton Cocolite sp. tersebut relatif sama bila menggunakan Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. dimana tingkat Kelulusan hidup larva (SR) 1,66% dan HR sebesar 85,1% (Suharno dkk, 2009). Hal ini diasumsikan karena nutrisi yang diperoleh larva bukan saja berasal dari Cocolite sp. tetapi juga diperoleh dari rotifer dan artemia yang telah diberi pengkayaan sebelum diberikan kepada larva serta pakan buatan sehingga kebutuhan nutrisi larva kerapu bebek untuk tumbuh dan berkembang dapat terpenuhi. Adapun kualitas air selama pemeliharaan yang terpantau adalah suhu 27.7°C – 30.8°C, DO 3.22- 4.00 ppm, salinitas 29.3 – 33.5, pH 7.70 – 8.61, nitrit 0.389 – 0.500 dan amonia 0.03 – 0.593 yang mana nilai-nilai tersebut masih berada pada kisaran aman untuk pemeliharaan larva kerapu bebek. (Narulitta Ely, Marwa, Ris Dewi, Khabibbulloh, Ramlan, @BBL Ambon)

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Jepang Lirik Potensi Ikan Sidat Indonesia

Jepang Lirik Potensi Ikan Sidat Indonesia

Jepang kini melirik potensi budidaya ikan sidat (Anguilla sp) di Indonesia. Kebutuhan pasar ikan sidat di jepang mencapai 40.000 ton per tahun atau senilai 1,7 miliar dolar AS. Jumlah konsumsi itu menurun akibat merosotnya suplai benih dan ikan sidat, Menurut Acting General Maneger Restaurant Express Co Ltd Shioji Takaoka di Jakarta, Rabu (23/3), sekitar 70 persen kebutuhan ikan sidat di Jepang dipasok dari China dan Taiwan. Kendalanya, sebagian sidat itu ditemukan mengandung reiu dan zat kimia berbahaya sehingga Jepang kini sangat berhati-hati dalam meng impor sidat dari China dan Taiwan. "Kami mencari mitra usaha di Indonesia untuk budidaya sidat yang siap di ekspor ke Jepang,"ujar Shioji.

SUMBER : KOMPAS 24 MARET 2011, HAL 18