pakan untuk ikan baung / BAB V PENGELOLAAN PEMBERIAN PAKAN

BAB V
PENGELOLAAN PEMBERIAN PAKAN

A. Kebutuhan Nutrien
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Untuk dapat tumbuh dengan baik, ikan pada umumnya membutuhkan nutrien/gizi yang lengkap. Aspek kebutuhan gizi pada ikan sama dengan mahluk hidup lain, yaitu protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral agar dapat melakukan proses fisiologi dan biokimia selama hidupnya. Penelitian tentang kebutuhan gizi pada ikan baung masih terbatas, sehingga untuk pendekatan kebutuhan pakan yang sesuai dibatasi dari ikan lele yang relatif lebih lengkap.


1. Kebutuhan Protein
Protein merupakan zat gizi yang sangat diperlukan oleh ikan untuk memelihara sel-sel tubuh, pembentukanjaringan, penggantianjaringan tubuh yang rusak, dan penambahan protein tubuh dalam proses pertumbuhan. Protein juga digunakan sebagai sumber energijika kebutuhan energi dari lemak dan karbohidrat tidak terpenuhi. Karena protein memiliki peranan penting bagi pertumbuhan, maka penyediaan protein dalam pakan perlu diberikan dalam jumlah yang cukup dan bermutu baik. Kebutuhan protein dalam pakan berhubungan erat dengan pola asam amino essensial. Oleh karena itu, untuk mencegah pakan kekurangan asam amino, maka pembuatan ransum pakan ikan dianjurkan menggunakan berbagai sumber protein.
Ikan baung mebutuhkan protein dalam jumlah yang cukup besar. Berdasarkan penelitian Gaffar (1993), kebutuhan protein bagi ikan baung berukuran 37,7 g sebanyak 28 %. Hasil penelitian Khan et al. (1993) justru menganjurkan agar pertumbuhan juvenil ikan baung dapat optimal sebaiknya diberikan pakan dengan protein 40 %.

2. Kebutuhan Karbohidrat
Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi. Kandungan karbohidrat dalam pakan menjadi sangat penting karena kelebihan energi dan kekurangan energi dapat berakibat negative bagi pertumbuhan ikan. Jika kelebihan energi dalam pakan, ikan akan berhenti makan. Sebaliknya jika kekurangan energi dalam pakan, ikan akan menggunakan energi dari protein untuk memenuhi kebutuhan energinya. Padahal, penggunaan protein sebagai sumber energi sangat tidak efisien.
Kebutuhan karbohidrat pada ikan baung belum ada data yang tersedia. Oleh karena itu, kebutuhan karbohidrat kita dapat menggunakan patokan kebutuhan karbohidrat pada ikan lele (Glorias batrachus), yaitu sebesar 10 % - 15 %.
3. Kebutuhan Lemak
Seperti halnya karbohidrat, lemak merupakan sumber energi, di samping berfungsi memelihara bentuk dan fungsi membran atau jaringan sel yang penting bagi organ tertentu, membantu dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, mempertahankan daya apung tubuh, dan sebagai antioksidan.
Kebutuhan lemak ikan baung belum diteliti, maka kebutuhan lemak dapat menggunakan patokan kebutuhan lemak pada ikan lele (Glorias batrachus), yaitu lebih kecil dari 20 %.

4. Kebutuhan Vitamin
Ikan membutuhkan vitamin dalam pakan untuk pertumbuhan yang normal, perawatan tubuh, dan reproduksi. Kekurangan vitamin dapat menimbulkan penyakit, nafsu makan menurun, pertumbuhan lambat, dan perdarahan pada sirip. Pada umumnya, ikan membutuhkan 1 % vitamin dari total komponen pakan.

5. Kebutuhan Mineral
Kebutuhan mineral pada ikan dapat diperoleh sebagian dari air melalui insang, ginjal, lapisan mukosa di rongga mulut serta kulit, dan sebagian lagi diperoleh dari makanannya. Kebutuhan nutrisi ikan baung dan ikan lele disajikan pada Tabel 5.
Fungsi utama mineral dalam tubuh ikan adalah untuk pembentukan struktur rangka, memelihara sistem koloid (tekanan osmosis, viskositas, difusi), dan regulasi keseimbangan asam basa. Mineral juga merupakan komponen penting dari hormon-hormon dan enzim-enzim serta aktivitas enzim (NRC, 1993).
Walaupun ikan mampu mengambil mineral dari lingkungannya, penambahan mineral pada pakan tetap dibutuhkan. Pakan yang tidak mengandung mineral dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, pertumbuhan lambat, dan pembentukan tulang tidak sempuma. Kebutuhan mineral ikan baung belum didapatkan, tetapi untuk kebanyakan ikan mineral sebaiknya lebih kecil dari 1%.

B. Bentuk Pakan
Bentuk pakan buatan tergantung pada kebiasaan makan dan ukuran benih (ukuran bukaan mulut). Benih ukuran 30 - 60 hari dapat diberi pakan berbentuk tepung kasar dan benih berumur 60 - 120 hari dapat diberi pakan berbentuk remahan. Sedangkan ikan yang berumur 120 ke atas sudah dapat diberi pakan berupa pellet. Ukuran-ukuran pellet yang disarankan untuk setiap kelompok ukuran ikan dapat dilihat pada Tabel 6.
Berdasarkan bentuknya, pakan buatan dapat berbentuk larutan, tepung halus, tepung kasar, remahan, dan lembaran (waver). Pakan bentuk pellet terdiri atas duajenis, yaitu pellet tenggelam dan pellet terapung. Pellet tenggelam cocok untuk digunakan bagi ikan baung karena kebiasaan makannya di dasar wadah budi daya. Pellet terapung cocok untuk ikan yang kebiasaan makannya di permukaan perairan. Namun, biaya pembuatan untuk jenis pellet mengapung lebih mahal daripada pellet tengg&lam karena memerlukan mesin pellet khusus untuk pembuatannya.

Tabel 5. Kebutuhan Nutrisi Ikan Baung dan Lele























Tabel 6. Ukuran Pellet Berdasarkan Ukuran Ikan



C. Jumlah Pakan
Jumlah pakan yang diberikan per hari biasanya dihitung berdasarkan bobot badan (% bobot badan). Jumlah pakan disarankan 20 % - 50 % untuk benih : 36 % - 60 % untuk ikan ukuran 3 - 50 g, 30 % - 34 % untuk ikan ukuran 50 - 200 g, dan 2 % - 3 % untuk ikan lebih besar dari 200 g (lihat Tabel 7). Makin besar ukuran ikan, maka makin berkurang persentase pemberian pakan. Sebab, ikan yang telah besar memiliki laju metabolisme yang makin lambat, sehingga memerlukan sedikit pakan per unit bobot badan.
Jumlah pakan (ransum) harian dihitung berdasarkan bobot rata-rata ikan yang disampling, kemudian dikalikan denganjumlah ikan secara keseluruhan.











Tabel 7. Jumlah Pemberian Pakan untuk Ikan Baung





Contoh perhitungannya :
Bobot rata-rata ikan = 125 gram
Jumlah ikan keseluruhan = 1000 ekor
Pemberian pakan untuk ukuran 125 gram (Tabel 7) = 3,0 %
Ransum harian = 125 x 1000 x 3,0 %
= 125.000 x 3,0 %
= 3.750 gram
= 3,75 kg




D. Waktu Pemberian Pakan

Pemberian pakan yang sering dengan jumlah yang sedikit untuk setiap kali pemberian lebih menguntungkan bagi ikan daripada pemberian pakan dalam jumlah banyak tetapijarang. Pemberian pakan sebaiknyajuga mempertimbangkan laju pengosongan lambung. Bagi ikan baung pengosongan lambungnya pada umur 1 bulan adalah selama 5 - 6 jam. Ikan baung akan makan jika jumlah pakan dalam lambungnya kira-kira tinggal ¼ bagian. Berdasarkan hal tersebut, bagi ikan baung sebaiknya diberi pakan sebanyak 4 - 5 kali sehari. Namun, pada budi daya yang sederhana, pemberian pakan malam hari sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu, pemberian pakan pada ikan baung dianjurkan 3 kali sehari, yakni pagi hari, siang hari, dan sore hari.




E. Cara Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada ikan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yakni pemberian pakan menggunakan tangan dan pemberian pakan menggunakan alat. Pemberian pakan menggunakan tangan lebih praktis dan ekonomis karena pakan cukup ditebarkan secara merata ke seluruh permukaan kolam. Pemberian pakan tersebut disarankan untuk ditebarkan pada tempat-tempat tertentu sesuai dengan kebiasaan makan ikan.


Pemberian pakan pada pemeliharaan ikan di karamba sebaiknya diletakkan dalam wadah pakan yang diletakkan di dasar karamba untuk mencegah terbuangnya pakan keluar dari karamba. Pemberian pakan di kolam air tenang dilakukan di dekat pintu pengeluaran air, agar sisa-sisa pakan yang tidak habis termakan mudah terbuang bersama air melalui pintu air. Sedangkan pemberian pakan di kolam air deras sebaiknya dilakukan di tempat yang arusnya paling lemah danjauh dari pintu pengeluaran untuk menghindari hanyutnya pakan oleh arus.

Pemberian pakan dengan alat dapat dilakukan dengan alat otomatis ataupun alat yang sederhana. Pemberian pakan dengan alat otomatis biasanya dilakukan di negara-negara maju yang menggunakan panel-panel khusus dengan sistem komputer. Pemberian pakan dengan alat sederhana dapat digunakan pada pembesaran ikan di karamba ataupun di kolam. Pakan yang berbentuk bungkil, biji-bijian, dan bentuk pellet dapat diberikan dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti keranjang yang dianyam jarang-jarang dan alat yang bemama "demand feeder" yang dapat dibuat dari corong plastik dan benda lain seperti ember plastik (Gambar 25).


















Gambar 25. "Demand Feeder" Sederhana yang Terbuat dari Keranjang (A)
dan Ember + Corong (B).

F. Formulasi Pakan
Dalam pembuatan pellet terlebih dahulu dilakukan penyusunan ramuan, Berbagai cara yang dapat ditempuh dalam penyusunan ramuan, namun yang paling praktis adalah dengan menggunakan sistem segiempat pearson.


Contoh :
Akan dibuat ransum dengan kadar protein 30 % sebanyak 250 kg dengan bahan-bahan yang sudah diketahui komposisi proteinnya, yaitu :
-Tepung ikan (45 % protein)
-Tepung kedelai (41% protein)
-Dedak halus (12 % protein)
- Tepung jagung (9 % protein)
Langkah awal ialah: kelompokkan terlebih dahulu dari bahan-bahan di atas kedalam kelompok energi sumber protein dan sumber energi. Sumber protein yang kandungan protein bahannya di atas 20 % dan sebaliknya di bawah 20 % dikelompokkan sumber energi.
- Tepung ikan + tepung kedelai = 45 + 41 = 86/2 = 43 % protein
- Dedak halus + tepung jagung = 12 + 9 = 21/2 = 10,5 % protein




........................................ Sumber protein : 43 ----------------------19,5 = 19/32,5 = 0,58 = 58 %



.......................................Sumber energi : 10,5 ..................... 13/32,5 = 13/32,5 = 0,42 = 42 %


- Sumber protein 58 % = 58/2 = 29 % tepung ikan + 29 % tepung kedelai
- Sumber energi 42 % =42/2 = 21 % dedak halus + 21 % tepung jagung
Jumlah masing-masing bahan yang dibutuhkan :


-Tepung ikan 29 % x 250 kg = 72,5 kg
-Tepung kedelai 29 % x 250 kg = 72,5 kg
- Dedak halus 21 % x 250 kg = 52,5 kg
-Tepung jagung 21 % x 250 kg = 52,5 kg +
250 kg
Untuk membuktikan ramuan yang dibikin :
- Tepung ikan 72,5 kg x 45 % protein = 32,63
- Tepung kedelai 72,5 kg x 41% protein = 29,73
- Dedak halus 52,5 kg x 12 % protein = 6,30
- Tepung jagung 52,5 kg x 9 % protein = 4,73 +
73,39
73,39/250 = 0,29
= 29%
Jika harga tepung ikan Rp 6.000/kg, tepung kedelai Rp 4.500,00/kg, tepung jagung Rp 1.500,00/kg dan dedak halus Rp 700,00/kg, maka biaya yang diperlukan adalah :
- Tepung ikan 72,5 kg x Rp 6.000,00 = Rp 435.000,00
- Tepung kedelai 72,5 kg x Rp 4.500,00 = Rp 326.250,00
- Dedak halus 52,5 kg x Rp 1.500,00 = Rp 78.750,00
- Tepung jagung 52,5 kg x Rp 700,00 = Rp 36.750,00
= Rp 876.750,00
Biaya yang dibutuhkan untuk membuat pakan protein 30 % sebanyak 250 kg ialah Rp 876.750,00.
Biaya setiap kilogram adalah Rp 3.507,00.

1. Cara Pembuatan Pellet
Langkah-langkah pembuatan pellet untuk makanan ikan adalah sebagai Berikut :
Bahan-bahan yang telah tersedia dihaluskan terlebih dahulu menjadi tepung.
Tiap bahan ditimbang sesuai dengan kebutuhan.
Bahan-bahan tersebut dicampur secara bertahap, dimulai darijumlah atau bobot bahan yang terendah dan terakhir yang paling banyak/berat. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan alat pengaduk atau mengaduk seperti campuran bahan bangunan. Usahakan campuran merata.
Campuran tersebut ditambah air sedikit demi sedikit hingga mencapai 1/3 – ½ dari bobot total bahan yang akan dibuat pellet, kemudian diaduk lagi supaya kelembapannya merata.
Hasil adukan dimasukkan ke dalam alat pencetak pellet.
Setelah keluar dari alat pencetak, pellet dipotong-potong sepanjang 1 - 2 cm, kemudian dijemur.
Setelah kering, pellet dapat disimpan dalam kantung plastik sebelum diberikan pada ikan.

2. Cara Pembuatan Pakan Lempengan
Langkah-langkah pembuatan pellet untuk makanan ikan adalah sebagai berikut :
Adonan yang sudah diaduk dan ditambahkan air dibentuk seperti lempengan.
Adonan yang sudah dibentuk lempengan langsung diberikan pada ikan







Gambar 26. Skema Pembuatan Pellet dan Lempengan



3. Pembuatan Pakan Emulsi
Langkah-langkah pembuatan pakan emuisi untuk makanan ikan dapat dilihat pada Gambar 27 berikut ini :

Kuningnya dilarutkan dalam 1 liter air
Telur direbus
Sampai masak

Diaduk sambil ditambahkan
Sagu dan 5 g vitamin
Dipanaskan sambil
diaduk
EMULSI



Gambar 27. Skema Pembuatan Pakan Emulsi.
4. Pembuatan Pakan Larutan Suspensi
Langkah-langkah pembuatan pakan larutan suspensi untuk makanan ikan dapat dilihat pada Gambar 28 berikut ini :


Telur direbus
Sampai masak
Kuningnya digerus
Sambil ditambah air dan
disaring
Dicampur dan
Diaduk merata
Digerus dan
Di saring
Kedelai direbus sampai masak
Siap
diberikan


Gambar 28. Skema pembuatan larutan suspensi



PEMBESARAN IKAN BAUNG


BAB IV
PEMBESARAN IKAN BAUNG

Usaha pembesaran ikan baung dapat dilakukan di dalam keramba ataupun di kolam air tenang.

A. Pembesaran Ikan dalam Karamba
Pembesaran ikan baung di dalam karamba sudah lama dikenal di Indonesia. Cara pembesaran ikan baung di dalam karamba ini timbul karena di daerah tersebut banyak tinggal pedagang-pedagang ikan yang menjual ikannya di pasar-pasar terdekat. Ikan yang tidak laku dijual disimpan di dalam keranjang-keranjang kecil dan diletakkan di sungai atau parit-parit dekat rumah mereka. Dari model penyimpanan ikan seperti inilah kemudian muncul usaha pembesaran ikan di dalam karamba dengan berbagai bentuk dan cara penempatannya. Di beberapa daerah di Indonesia pembesaran ikan di dalam karamba telah menjadi mata pencaharian dan dapat memberikan penghasilan yang cukup besar.

1. Bentuk Karamba
Berdasarkan bentuknya, karamba di Indonesia mempunyai dua bentuk, yaitu karamba berbentuk empat persegi panjang dan karamba berbentuk bundar panjang. Karamba yang berbentuk empat persegi panjang ada yang memanjang dan ada pula yang berbentuk kotak.
Karamba berbentuk empat persegi panjang umumnya terbuat dari papan, bilah bambu, atau bambu bulat, sedangkan karamba yang berbentuk kotak terbuat dari kawat ayam atau jaring. Karamba bundar panjang terbuat dari bilah bambu yang diayam seperti hampang (Gambar 20).













Gambar 20. Karamba Bentuk Empat Persegi Panjang dan Bentuk Bulat.





2. Penempatan Karamba
Penempatan karamba dapat dilakukan di sungai, di danau, di rawa-rawa, dan di saluran irigasi. Untuk menentukan lokasi yang baik bagi penempatan karamba, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.

Lokasi penempatan karamba cukup aman dan tidak mengganggu masyarakat yang biasa menggunakan air, dimana karamba ditempatkan.
Lokasi penempatan keramba terhindar dari segala macam gangguan baik dari manusia, binatang, maupun lalu lintas.


Perairan tempat pemasangan karamba hams cukup medapatkan oksigen. Kebutuhan oksigen bagi ikan memang tidak perlu terlalu tinggi, tetapi yang paling penting adalah kontinuitas oksigen tersebut.
Suhu dan kualitas air di mana karamba kita tempatkan harus sesuai dengan kebutuhan ikanjuga perlu diperhatikan dalam penentuan penempatan karamba. Suhu optimal bagi ikan baung adalah 27°C - 33°C. Perbedaan suhu pada siang dan malam hari yang ideal bagi kehidupan ikan baung adalah tidak lebih besar dari 5°C.



Air di lingkungan karamba tidak begitu banyak mengalami guncangan suhu. Guncangan suhu pada perairan yang dangkal biasanya cukup besar, maka penempatan karamba perlu mempertimbangkan kedalaman air. Ikan baung termasuk jenis ikan yang mempunyai toleransi kisaran kualitas air yang luas, sehingga ikan ini sangat potensial dan mudah untuk dibudidayakan. Kisaran kualitas air bagi ikan baung dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kisaran Toleransi Kualitas Air bagi Ikan Baung







Gambar 21. Karamba di Sungai





Gambar 22. Karamba di Danau




Selain unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa faktor teknis yang juga penting untuk diperhatikan, misalnya tempat karamba bukan merupakan jalur lalu lintas, terhadang dari terjangan ombak, tidak kering waktu air surut atau tidak sering dilanda banjir, bebas dari bahan pencemaran, cukup jauh dari pusat kegiatan, tidak mempunyai lumpur yang tebal, lokasi tidak jauh dari rumah pemilik dan tempat penjualan ikan.



3. Penebaran Benih
Salah satu faktor penentu keberhasilan pembesaran ikan baung adalah kualitas benih yang ditebarkan. Oleh karena itu, benih yang akan ditebar harus dipilih/diseleksi yang memenuhi syarat sebagai berikut : benih berwarna terang, lincah, sehat, tidak ditemukan luka di tubuh maupun di siripnya.


Penebaran benih dilakukan pada waktu pagi hari dan sore hari pada saat udara dan air masih sejuk sehingga air karamba sama sejuknya dengan air dalam wadah pengangkutan. Penebaran benih ikan memeriukan kesabaran dan teknik tersendiri agar benih dapat segera beradaptasi dengan lingkungan air kolam.













Gambar 23. Cara penebaran benih

Penebaran benih ikan dapat dilakukan dengan cara merendam terlebih dahulu kantong plastik yang berisi benih di karamba yang akan digunakan selama 5 menit. Air dalam karamba ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam kantong plastik atau wadah pengangkutan benih. Kemudian, kantong benih dilepaskan/dibalikkan hingga seluruh benih ikan di dalamnya keluar dengan sendirinya (Gambar 23). Jumlah benih yang ditebarkan untuk ikan baung berukuran 5 - 8 cm adalah 200 - 300 ekor/m3 dan untuk benih berukuran 10 - 15 cm sebanyak 150 - 200 ekor/m3.



4. Perawatan Karamba
Karamba untuk pembesaran ikan harus dipelihara dengan baik agar terhindar dari kerusakan sebelum habis masa operasinya. Perawatan karamba harus dilakukan selama pemeliharaan ikan dan setelah panen ikan. Perawatan karamba selama pemeliharaan terutama membersihkan sampah pada dinding karamba. Dinding karamba bagian luar harus selalu dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel dan kebocoran-kebocoran pada dinding dan lantai karamba harus diperbaiki.
Perawatan karamba setelah panen dilakukan dengan cara membersihkan dinding karamba bagian luar dan dalam dari segala kotoran yang menempel seperti lumut dan lumpur. Bagian karamba yang msak diperbaiki. Pelampung yang bocor atau rusak ditambal atau diganti dengan pelampung yang baru.

5. Analisis Usaha
a. Biaya Investasi
1) Rangka bambu yang dapat diisi empat buah karamba
jaring (3 m x 3 m x 3 m) = 36 x Rp 10.000,00 Rp 360.000,00
2) Drum plastik bekas (10 x Rp 150.000,00) Rp 1.500.000,00
3) Tambang Rp 300.000,00
4) Rumahjaga Rp 500.000,00
5) Jaring (3 m x 3 m x 3 m) = 108 x Rp 3.000.00 Rp 3.240.000,00 +
Total investasi (dipindahkan) Rp 5.900.000,00

b. Biaya Tetap (FC)
1) Penyusutan bambu (Rp 360.000,00 : 1 : 4) Rp 90.000,00
2) Penyusutan dmm plastik bekas
(Rp 1.500.000,00 : 5 : 4) Rp 75.000,00
3) Penyusutan tambang (Rp 300.000,00 : 1 : 4) Rp 75.000,00
4) Penyusutan jaring (Rp 3.240.000,00 : 4 : 4) Rp 202.000,00
5) Penyusutan rumah jaga (Rp 500.000,00 : 3 : 4) Rp 41.166,00
6) Tenaga operator 2 orang Rp 600.000,00
7) Bunga modal Rp 390.000,00 +
Total biaya tetap Rp 1.474.166,00

c. Biaya Tidak Tetap (VC)
1) Benih (200 ekor/m3) = 21.600ekor x Rp 400.00 Rp 8.640.000,00
2) Pakan (2203.2 kg x Rp 2.500) Rp 5.508.000,00
3) Obat-obatan Rp 200.000,00
4) Lain-lain Rp 100.000,00 +
Total Biaya Tidak Tetap Rp 14.448.000,00

d. Hasil Usaha per Siklus (GI)
Ikan ukuran 100 gr = 1.836 kg x Rp 20.000,00 Rp 36.720.000,00

e. Keuntungan Total per Siklus
GI - (FC + VC) = Rp 36.720.000,00 –
(Rp 1.474.166,00 + Rp 14.448.000,00) Rp 20.797.834,00

f. Hasil Bersih per Giklus (NI)
Keuntungan total - pajak (20 %) Rp 19.411.311

GI 36.720.000
g. BC Ratio = FC + VC = 1.474.166+14.448.000 =2,3 (Layak)

Artinya, dengan mengeluarkan biaya 1 satuan akan diperoleh penerimaan sebesar 2,3 kali satuan.
FC 1.474.166
h. Titik impas (BEP) = VC = 14.448.000 = 2.416.665
1 - GI 1 - 36.720.000

Jika harga ikan Rp 20.000/ekor, usaha ini sudah mencapai titik impas ketika produksi baru mencapai 120,8 kg.

B. Pembesaran di Kolam Air Tenang
Pembesaran ikan baung di dalam kolam air tenang juga telah lama di kenal dan dilakukan oleh petani di Indonesia. Namun, ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam usaha pembesaran ikan baung di kolam air tenang sebagai berikut.

1. Pemilihan Lokasi
Lokasi untuk pembuatan kolam pembesaran ikan baung tidak berbeda jauh dengan kolam untuk jenis ikan yang lain. Tanah yang baik untuk kolam adalah tanah yang berstruktur kuat, dapat menahan air, subur, tidak berbatu-batu, dan mempunyai sumber air sepanjang tahun serta tidak tercemar oleh bahan-bahan beracun.
Sifat fisika kimia air, seperti suhu air sebaiknya berkisar antara 26 - 30°C, pH berkisar antara 4 - 9, kandungan oksigen terlarut minimal 1 mg/liter dan optimal adalah 5-6 ppm, dan kandungan NH3 kurang dari 1,5 ppm.

2. Konstruksi Kolam
Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang, bentuk pematang trapesium dengan kemiringan 1 : 1, dan bagian atas pematang ditanami tanaman air untuk menghindari erosi. Tinggi pematang berkisar antara 1,5 - 2 m yang dapat dapat dibuat tanah atau tembok (Gambar 24) .











Gambar 24. kolam pembesaran ikan

3. Persiapan Kolam
Sebelum dimanfaatkan untuk pembesaran ikan, kolam sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu kemudian diberi kapur CaCO3 dengan dosis 180 - 370 kg/ha/tahun untuk memusnahkan pemangsa dan binatang. lain yang membahayakan ikan dan untuk mengurangi keasaman tanah dan air kolam. Kolam dapat juga dpupuk dengan pupuk organik 1 kg/m2/periode atau pupuk anorganik 1 gram/m2/periode.
Tinggi air pemeliharaan minimal 0,5 m dan debit air berkisar 10 - 15 liter/detik/ha. Sebelum air dimasukkan ke kolam pemeliharaan, pintu pemasukkan air diberi saringan untuk menghindari hama atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

4. Penebaran Benih
Penebaran benih dilakukan setelah air dibiarkan menggenang di kolam selama beberapa hari. Kedalaman air sebaiknya 50 - 80 cm. Benih yang ditebar berukuran 2-3 gram dengan kepadatan 60 - 100 ekor/m2.

5. Analisis Usaha
a. Biaya Investasi
1) Biaya konstruksi 200 m2 kolam tanah Rp 7.500.000,00
2) Rumah jaga dan peralatan Rp 2.000.000,00 +
Total investasi Rp 9.500.000,00

b. Biaya Tetap (FC)
1) Penyusutan kolam (Rp 7.500.000,00 : 5 : 4) Rp 375.000,00
2) Penyusutan fasilitas (Rp 2.000.000,00 : 5 : 4) Rp 100.000,00 +
Jumlah Rp 475.000,00
Jumlah dipindahkan Rp 9.975.000,00
3) Tenaga operator 2 orang Rp 600.000,00
4) Bayarlistrik Rp 100.000,00
5) Bunga modal Rp 120.000,00 +
Total biaya tetap Rp 1.295.000,00

c. Biaya Tidak Tetap (VC)
1) Benih (100 ekor/m3) = 12.000 ekor x Rp 400,00 Rp 4.800.000,00
2) Pakan(l. 224 kg/4 bulan x Rp 2.500,00) Rp 3.060.000,00
3) Kapur (7,4 kg x Rp 2.000,00) Rp 14.800,00
4) Pupuk organik (200 kg x Rp 1000,00) Rp 200.000,00
5) Obat-obatan Rp 200.000,00
6) Lain-lain Rp 100.000,00 +
Total Biaya Tidak Tetap Rp 8.274.800,00

d. Has Usahaper Siklus (GI)
Ikan ukuran 100 gr = 1.020 kg x Rp 20.000,00 Rp 20.400.000,00

e. Keuntungan Total per Siklus (4 bulan)
GI - (FC + VC) = Rp 20.400.000,00 –
(Rp 1.295.000,00 + Rp 8.274.800,00) Rp 10.830.200,00

f. Hasil Bersih per Siklus (NI)
Keuntungan total - pajak (20 %) Rp 10.180.388,00

GI 20.400.000
g. BC Ratio = FC + VC = 1.295.000 + 8.274.800 = 2,1 (Layak)

Artinya, dengan mengeluarkan biaya 1 satuan akan diperoleh penerimaan sebesar 2,1 kali satuan.
FC 1.295.000
h. Titik lmpas (BEP) = VC = 8.274.800 = 2.194.915,3
1 – GI 1 - 20.400.000

Artinya, jika harga ikan Rp 20.000/kg maka usaha ini sudah mencapai titik impas ketika produksi baru mencapai 109,7 kg.

PEMBENIHAN IKAN BAUNG


BAB III
PEMBENIHAN IKAN BAUNG

Pemilihan lokasi untuk pembenihan ikan perlu memperhatikan kemudahan-kemudahan dalam hal pemasaran dan aspek-aspek teknis lainnya seperti kondisi lingkungan, prasarana, bangunan, dan peralatan.

A. Rancang Bangun
Usaha pembenihan ikan baung sebaiknya menggunakan akuarium, sehingga dapat dilakukan di lokasi yang relatif sempit, tanpa aliran sungai, asalkan di lokasi tersebut terdapat sumber air yang cukup (misalnya sumur) dan memiliki kualitas yang memenuhi syarat untuk pemeliharaan larva. Jika kualitas air tidak memenuhi syarat, maka perlu dilakukan pengelolaan secara khusus dengan pendekatan biologis ataupun kimiawi.
Skala usaha pembenihan ikan baung dapat berskala rumah tangga ataupun skala besar. Usaha pembenihan ikan baung skala rumah tangga paling banyak memerlukan 80 akuarium dengan seluruh peralatan pendukungnya. Usaha pembenihan skala rumah tangga ini tidak memerlukan bangunan yang besar dan rumit, tetapi cukup dengan areal bemkuran 10 m x 5 m. Areal tersebut dapat dibuat bangunan dari barn, kayu, ataupun dari bambu. Atap bangunan dapat terbuat dari seng, genteng, ataupun daun rumbia (Gambar 4 dan 5).
Usaha pembenihan ikan baung skala rumah tangga memerlukan satu bak penampungan air, satu bak pemijahan, dan satu bak kecil untuk pemeliharaan pakan alami. Selain itu, juga memerlukan rak akuarium bertingkat untuk menempatkan akuarium sebanyak sekitar 80 akuarium.
















Gambar 4. skema pembenihan skalam rumah tangga








































Gambar 5. Skema pembenihan skala menengah

B. Peralatan
Peralatan utama usaha pembenihan ikan baung adalah pompa air, pompa udara (blower), instalasi air, instalasi udara, dan sumber arus listrik. Pompa air digunakan untuk mendistribusikan air dari sumur ke bak penampungan dan dari bak penampungan menuju bak pemeliharaan. Pompa air yang dibutuhkan minimal 2 buah yang berukuran kecil (Gambar 6). Pompa udara (blower) dibutuhkan untuk menambah oksigen dalam media dan penyebaran makanan (Gambar 6).
Bahan-bahan untuk kebutuhan instalasi air meliputi: pipa pralon ukuran 0,75 inci (untuk saluran air masuk dari sumur/penampungan ke akuarium), pipa pralon ukuran 2,5 inci (untuk saluran pembuangan), selang taman, klep saringan, kran air, dan klem pipa. Sedangkan bahan-bahan untuk kebutuhan instalasi udara meliputi: pipa pralon ukuran 0,5 inci (untuk saluran udara dari blower ke akuarium), selang aerasi, klem pipa, kawat, batu aerasi, dan klem selang aerasi. Bahan-bahan lain yang dibutuhkan adalah busa karet (1 m x 6 m x 6 mm), kain kasa, tabung gas, plastik cor, serok, termometer, ember, dan plastik packing (Gambar 6).











Gambar 6. beberapa peralatan untuk pembenihan ikan baung





C. Penyediaan Induk
Penyediaan induk ikan baung dapat diperoleh dengan dua cara, yakni memelihara dari kecil hingga mencapai matang gonad (calon induk) dan menangkap calon induk dari alam bebas yang ditampung di kolam atau karamba. Penyediaan induk melalui pemeliharaan dari kecil perlu diberi pakan secara teratur dan pemeliharaan induk ini membutuhkan waktu sekitar 10 - 12 bulan. Penyediaan induk melalui penangkapan dari alam butuh waktu lebih singkat. Proses penangkapan dalam dan adaptasi induk ikan baung yang ditangkap dari alam bebas harus dilakukan dengan hati-hati. Biasanya, calon induk dari alam bebas membutuhkan waktu 1 - 2 minggu untuk dapat memanfaatkan pakan yang diberikan.

Karena calon induk yang dipelihara ataupun yang ditangkap dari alam bebas tidak dapat langsung digunakan/dipijahkan, maka perkembangan gonad calon induk tersebut dipacu. Upaya untuk memacu perkembangan gonad telah umum dilakukan di dalam kegiatan budi daya. Bahkan, upaya memacu perkembangan gonad tersebut juga mengarah pada perbaikan mum telur. Dengan demikian, telur yang dihasilkan bermutu baik, memiliki derajat penetasan yang tinggi, dan larva yang dihasilkan memiliki ketahanan yang prima. Namun, upaya-upaya tersebut sering dilakukan secara parsial dan tidak bersifat menyeluruh. Pendekatan yang akan menghasilkan pematangan gonad yang cepat adalah mengkombinasikan antara pendekatan lingkungan, nutrisi, dan hormonal.

Pematangan gonad terjadi karena adanya masukan nutrien lewat pakan yang diakumulasikan di dalam oosit. Proses akumulasi itu sendiri dikendalikan oleh hormon reproduksi. Hormon ini bekerja karena adanya rangsangan luar (faktor lingkungan). Interaksi antar komponen yang terlibat dalam proses reproduksi tersebut perlu dikelola dengan baik.
Upaya memanipulasi pematangan gonad relative jarang dilakukan di Indonesia, namun di negara-negara yang memiliki empat iklim telah banyak dicoba, terutama yang berkaitan dengan suhu, lama penyinaran, dan salinitas. Pemacuan pematangan gonad dengan menggunakan hormon pun masih sangat terbatas dan kebanyakan masih pada tahap uji coba. Kalaupun telah diterapkan secara rutin, pemacuan gonad dengan hormon baru terbatas pada ikan-ikan tertentu yang memang mutlak yang harus ada intervensi hormon dari luar seperti pada ikan bandeng dan beberapa jenis ikan laut lainnya. Untuk ikan-ikan air tawar yang frekuensi pemijahannya satu kali dalam satu tahun (misalnya baung), implantasi hormon ke dalam otot punggung dengan bantuan alat implanter yang dilakukan kurang lebih satu bulan setelah pemijahan (ovulasi) diharapkan dapat memacu perkembangan gonad sehingga pemijahannya tidak lagi hanya satu kali dalam satu tahun.
Hormon yang diimplantasikan ke dalam tubuh induk yang telah memijah diharapkan dapat memacu terjadinya proses perkembangan gonad berikutnya karena tersedianya hormon yang cukup di dalam darah untuk merangsang hypophysa mengeluarkan hormon gonadotropin yang akan memacu proses pematangan gonad, (Gambar 7). Jadi, implantasi hormon dalam proses reproduksi pada dasamya adalah memotongjalur pengamh lingkungan terhadap produksi hormon hypophysa yang di alam bebas pengamh lingkungan terhadap kerja hormon tersebut kemungkinan bersifat siklik.
Pellet
Implasi intra muscular
Muscuar
Perembesan LH-RH analog ke dalam darah
Darah
Pengangkutan LH-RH analog oleh darah ke organ target
Kelenjar Hypophysa

Sekresi LH
Ovarium
Pematang folikel
Pembentukan ostogen
Vitelogenesis


Telur Matang


Ovulasi



















Gambar 7. Mekanisme pengaruh implantasi hormon LH-RH
Analog terhadap pematangan gonad (Affandi, 1998).

Proses pematangan gonad ikan sering dilakukan dengan pendekatan nutrisi. Pemberian pakan yang baik pada induk ikan, terutama jenis-jenis ikan yang dapat memijah sepanjang tahun, selain dapat mempercepat proses pematangan gonad, juga dapat meningkatkan fekunditas dan memperbaiki mutu telur. Peran pakan sebagai bahan dasar untuk sintesis vitelogenin, sintesis hormon, dan penyedia energi dalam proses metabolisme berkaitan dengan proses pematangan gonad. Walaupun demikian, pendekatan nutrisi tidak mutlak dapat menjamin terjadinya proses pematangan gonad, terutama pada ikan tertentu. Oleh karena itu, pada ikan ikan tersebut, kombinasi pendekatan dalam memacu pematangan gonad sangat dibutuhkan
Pada ikan baung. Tang (1998) melaporkan bahwa protein 35 % ditambah kerang dalam pakan dapat mematangkan calon induk ukuran 19,15 - 53,29 cm dalam dua bulan pemeliharaan di kolam dan di sungai. Demikian juga, Gaffar (1998) melaporkan bahwa pematangan calon induk ikan 300 - 700 g ditebar dengan kepadatan 1 ekor/m2 dapat dilakukan di kolam atau karamba dengan pemberian pakan 30 % - 35 % protein ditambah ikan rucah.
Komponen nutrien lainnya yang berpengaruh terhadap perkembangan gonad dan kualitas telur adalah lemak yang amemiliki kandungan HUFA. Pada ikan mas diketahui adanya hubungan antara derajat penetasan dengan distribusi asam lemak dalam telur (22 : 6w 3). Daya tetas telur sangat rendah ketika kandungan 22 : 6w 3 sebesar 10 % dari berat total lemak pakan dan untuk penetasan yang normal dibutuhkan kira-kira 20 % 22 : 6w 3. Ikan trout yang diberi pakan yang berkadar protein rendah (33 % - 35 % protein) tetapi kandungan energinya tinggi (390 kkal/100 g pakan) menghasilkan fekunditas yang lebih besar dibandingkan dengan pakan yang berprotein tinggi (43 % - 47 % protein). Pakan yang defesiensi asam lemak esensial menghasilkan fekunditas dan daya tetas yang rendah.
Komponen nutrisi lain yang tampaknya sangat berpengaruh pada proses pematangan gonad dan perbaikan mutu telur adalah vitamin E (a-tocoferol). Vitamin E memainkan peranan yang yang sangat penting dalam fisiologi reproduksi ikan seperti halnya pada burung dan mamalia. Pakan yang mengandung vitamin E berpengaruh terhadap kandungan vitamin E dalam tubuh, pemijahan, daya tetas telur, dan mortalitas larva yang menetas. Dari
hasil penelitian temngkap bahwa ikan yang diberi pakan dengan kandungan vitamin E rendah sebanyak 1/3 dari jumlah induk ikan betina tidak memijah sedangkan yang lainnya memijah secara keseluruhan. Demikian pula, daya tetas dan kelangsungan hidup larva pada pemberian pakan berkadar vitamin E rendah juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok lainnya. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa vitamin E yang berasal dari pakan dibawa dan diakumulasikan dalam telur dan vitamin E ini sangat membantu kelangsungan hidup larva.
Pengaruh vitamin E terhadap kecepatan pematangan gonad, fekunditas, dan daya tetas telur juga telah diteliti pada ikan baung oleh Tang (1999). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penambahan vitamin E ke dalam pakan induk ikan baung sebesar 10 mg/100 g pakan memberikan pengaruh terhadap kecepatan pencapaian matang gonad selama empat bulan pemeliharaan.
Penambahan unsur mineral langka (trace metal) pada pakan induk ikan sangat penting untuk proses reproduksi. Jumlah telur yang dihasilkan tiap kilogram induk adalah 1.975 ± 342 dan nilai derajat penetasan telur adalah 0,4 % ± 0,9 % pada ikan yang diberi pakan tanpa penambahan unsur mineral langka. Hal ini jauh di bawah nilai yang diperoleh pada induk ikan yang diberi pakan komersial yang mengandung trace metal (berturut-turut: 3.631 ± 836 untuk fekunditas dan derajat penetasan telurnya 87,2 % ± 3,7 %). Kadar mangan (Mn) pada telur yang dihasilkan induk yang diberi pakan komersial (4,1 ug/g telur) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadar mangan pada telur yang diberi pakan yang tidak mengandung unsur mineral langka (1,6 ug/g telur).
Penambahan pigmen (Carotin dan Cathaxanthin) pada pakan induk sedikit menurunkan jumlah telur yang dihasilkan, tetapi persentase jumlah telur yang mengapung meningkat dari 49,1 % menjadi 56,4 %. Demikian pula, abnormalitas dalam hal jumlah globul lemak dalam telur secara efektif berkurang dengan penggunaan pigmen. Penambahan canthaxanthin dalam pakan dapat memperbaiki produksi telur dan tingkat fertilisasi telur pada ikan trout. Ikan Salmoid memobilisir pigmen carotin, asthaxanthin, dan canthaxanthin yang ada dalam otot (daging) dan menyimpannya dalam telur dan kulit selama pematangan kelamin. Metabolisme carotin yang aktif ini diduga sebagai fungsi khusus selama pematangan kelamin. Metabolisme carotin yang aktif ini diduga sebagai fungsi khusus selama reproduksi dan awal kehidupan atau kedua-duanya. Penambahan asthaxanthin dan canthaxanthin sintesis pada pakan dapatjuga memacu pertumbuhan selama periode awal makan.

D. Penyediaan Pakan Alami
Pakan alami dalam usaha pembenihan ikan sangat diperlukan karena pada masa benih/larva perkembangan morfologi dan fisiologi baru dimulai. Misalnya, bukaan mulut yang kecil, enzim pencemaan belum sempurna, dan pergerakan larva yang lambat. Agar dapat memenuhi kebutuhan energinya, maka larva memerlukan jenis pakan yang dapat merangsang untuk makan.
Pakan alami (fitoplankton dan zooplankton) merupakan pakan yang terbaik bagi larva karena ukurannya kecil, pergerakannya lambat, komposisi gizinya yang relatif lengkap, dan enzim yang dikandung oleh pakan alami tersebut dapat membantu larva untuk menghancurkan pakan alami itu sendiri (autolisis).
Untuk mencukupi kebutuhan makanan larva, beberapa jenis pakan alami dan jenis fitoplankton yang sudah urnum dibudidayakan antara lain : Diatom, Chlorella, dan Tertaselmis. Sedangkan dari jenis zooplankton ialah Rotifera. Moina, Daphnia, Artemia, dan cacing sutera (Tubifex sp.).
Larva ikan baung yang bersifat kamivora (pemakan daging) dan bukaan mulutnya agak besar memerlukan pakan alami jenis zooplanktonlah yang dimanfaatkan pada saat pertama kali makan. Pakan alami yang digunakan dalam pembenihan ikan baung adalah Artemia, Moina sp., Daphnia sp, dan cacing rambut (Tubifex sp.).

1. Artemia
Artemia dikenaljuga sebagai udang renik air asin dan dijual di pasaran berupa telur (kiste) yang dikemas dalam kaleng. Kiste tersebut ditaskan menjadi nauplii untuk diberikan pada larva ikan. Penetasan kiste artemia menggunakan wadah dari botol (gallon) air minum bekas atau dari fiber yang berbentuk corong (Gambar 8). Wadah penetasan tersebut diisi air sebanyak 5 - 10 liter yang dicampur dengan garam dapur sebanyak 150 - 300 g (30 ppt). Setelah garam larut, kiste Artemia ditebarkan secukupnya. Untuk mempercepat penetasan, wadah penetasan dilengkapi dengan aerator agar sirkulasi udara dalam wadah dapat berjalan dengan lancar.
Penetasan kiste Artemia dapat juga dilakukan dengan proses dekapsulasi, yakni menipiskan cangkang kiste sebelum ditetaskan sehingga kualitas dan kuantitas nauplii akan lebih tinggi. Dekapsulasi dilakukan dengan cara merendam kiste dalam larutan klorin (NaOCI) 40 % atau kaporit (Ca(Ocl2)) dan NaOH sebanyak 15 g/liter air. Selama perendaman, kiste terus-menerus diaduk hingga terjadi perubahan wama menjadi merah oranye dan tidak licin. Selanjutnya, kiste disaring dengan saringan halus dan dibilas dengan air tawar kemudian dilanjutkan dengan proses penetasan seperti biasa.
Dalam waktu 24 jam, kiste Artemia akan menetas menjadi nauplii dan dapat diberikan pada larva ikan, tetapi air penetasan jangan terlalu banyak yang terambil. Agar air garam tidak banyak yang terambil, beberapa menit sebelum dilakukan pemanenan, aerasi dimatikan sehingga nauplii akan berkumpul di dasar wadah dan bisa disipon keluar kemudian disaring dan dicuci dengan air bersih. Kiste yang tidak menetas sebaiknya tidak tercampur dengan larva karena tidak dapat dicema oleh larva.












Gambar 8. Wadah Penetasan artemia dari gallom air mineral (A) dan Ember + Corong (B).

2. Moina dan Daphnia (Kutu Air)
Budi daya kutu air dapat dilakukan di dalam bak atau di dalam kolam. Bak atau kolam yang akan digunakan dikeringkan terlebih dahulu selama 1 - 2 hari. Kemudian, bak atau kolam diisi air sampai dengan ketinggian 7 - 100 cm. Pupuk kandang (kotoran ayam) dimasukkan ke dalam bak/kolam dengan dosis 2 - 4 g/liter air. Ekstrak kotoran ayam dapat disiapkan dengan dengan melarutkan kotoran ayam dalam ember. Selanjutnya, larutan kotoran ayam tersebut dimasukkan ke dalam media kultur menggunakan saringan agar ampas(bagian yang kasar) tersaring. Cara lain, kotoran ayam dikeringkan, kemudian dimasukkan ke dalam karung pupuk dan digantung di dalam bak.
Kutu air biasanya diambil dari genangan air atau danau pada pagi hari ketika kutu air tersebut berkumpul di permukaan air. Sebelum disebar ke dalam bak/kolam, kutu air tersebut harus dicuci dahulu dengan air bersih untuk menghindari bibit penyakit yang terbawa olehnya. Pencucian kutu air dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam bak atau akuarium besar dan diberi aerasi, kemudian disaring dengan serokan.
Induk Daphnia atau Moina sebanyak 20 - 30 ekor/liter media dimasukkan ke bak/kolam setelah 2 - 3 hari pemupukan (Gambar 9). Pada hari ke 7, bak/kolam biasanya sudah dipenuhi oleh kutu air. Kutu air berkembang biak setiap 2 minggu dan tiap ekor dapat menghasilkan 20 - 40 butir telur. Jika populasi kutu air sudah mulai berkurang, dapat dilakukan pemupukan tambahan.
Pemanenan dilakukan kutu air dapat dilakukan dengan menggunakan serok/saringan pada pagi hari. Kutu air yang tersaring dicuci, kemudian diberikan pada ikan sesuai dengan kebutuhan.













Gambar 9. Kutu air Daphina sp. (A) dan Kutu Air Moina sp (B)

3. Cacing rambut (Tubifex sp.)
Cacing rambut sering ditemukan di selokan-selokan atau sungai-sungai yang airnya banyak mangandung bahan organik. Sebelum diberikan pada ikan, cacing rambut tersebut perlu dicuci bersih dan ditampung sementara selama 1 - 2 hari. Salah satu bentuk wadah penampungan cacing rambut dapat dilihat pada Gambar 10. Bak penampungan cacing diberi air mengalir dan diaerasi. Bilajumlah cacing rambut terlalu banyak, maka sisanya dapat dimasukkan dalam kantong plastik dan dibekukan di freezer. Cacing yang dibekukan harus diberikan pada ikan pada kondisi masih beku.
















Gambar 10. Bak penampungan cacing rambut

E. Metode Pemijahan
Ikan baung termasukjenis ikan yang relatifbaru untuk dapat dipijahkan. Sub-Balai Perikanan Air Tawar Palembang telah mencoba sejak tahun 1983, 1991. dan barn berhasil diperoleh larva yang cukup memuaskan pada tahun 1992. Sejak itu menyusul UPPU Jambi, Fakultas Perikanan Universitas Riau, dan BBI Rumbai Pekanbaru pada tahun 1996 telah berhasil memijahkan ikan baung. Pada tahun 1997, BBAT Sukabumi dengan modal induk 100 pasang berhasil memijahkan ikan baung secara buatan. Namun, sampai sekarang ikan baung belum dapat dipijahkan secara alami.


Untuk memijahkan ikan baung secara buatan (penyuntikan), calon induk sebaiknya dipelihara di kolam atau karamba dan sudah berukuran 200 - 1000 g. Kepadatan ikan pada keramba sebaiknya sebanyak 50 ekor atau kurang lebih 30 kg/100 m2. Ikan baung jantan dan ikan baung betina sebaiknya dipelihara secara terpisah.
Pemberian pakan pada calon induk sebaiknya berkadar protein 35 % ditambah kerang atau teri (1:1) dan diberikan sebanyak 3 % - 5 % dari bobot badan per hari yang diberikan 2-3 kali, yaitu pagi hari, siang hari, dan sore hari. Bulan September sampai Maret merupakan musim pemijahan bagi ikan baung, maka sebaiknya pemijahan dilakukan pada musim tersebut.


Induk jantan dan induk betina diseleksi dan disimpan dalam bak tangki fibreglass. Induk betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perutnya yang relatif membesar dan permukaan kulit sangat lembut, atau dilihat dengan menggunakan kateter. Bila telur berbentuk bulat utuh, berwarna agak kecoklatan, atau berukuran 1 mm, atau jika intinya dilihat dengan mikroskop sudah tampak menepi, maka induk ikan baung tersebut sudah siap untuk dipijahkan. Sedangkan ikan baung jantan yang siap dipijahkan ditandai dengan alat kelamin atau papilanya yang terletak di belakang anus dan bagian ujungnya berwama merah serta menyebar ke arah pangkal.
Induk ikan baung betina matang gonad dibius, kemudian disuntik dengan ekstrak kelenjar hipophysa pada bagian belakang sirip punggung ke arah perut (ventral). Suntikan pertama menggunakan ekstrak kelenjar hipophysa ikan mas sebanyak 1 dosis (berat ikan resipien sama dengan berat donor yang diambil hipophysanya), kemudian setelah 6 - 7 jam disuntik lagi dengan kombinasi ekstrak hipophysa dan hCG masing-masing sebanyak 3 dosis dan 200 IU. Induk ikan baung yang telah disuntik disimpan secara terpisah.
Hormon lain yang kini populer untuk penyuntikan ikan dalam pemijahan buatan adalah ovaprim (0,9 ml/kg ikan resipien) dan PGF2a (3000 mg/kg ikan). Penyuntikan dilakukan 2 kali, yakni penyuntikan pertama 1/4 bagian dan suntikan kedua 3/4 bagian.


Pengeluaran telur dilakukan dengan mengurut induk betina yang telah siap memijah. Telur-telur yang keluar ditampung dalam nampan plastik dan dicampur dengan sperma ikan baung jantan untuk pembuahan. Induk betina yang berbobot sekitar 250 - 634 akan diperoleh telur 50.000 - 150.000 butir. Untuk mendapatkan sperma, ikan jantan dibedah, kemudian testis dicuci/dibersihkan dari darah dan lemak yang melekat. Selanjutnya, sperma dilarutkan dalam larutan garam 0,9 % sebanyak lebih kurang 3 ml.
Telur yang telah dicampur dengan sperma diaduk secara merata dengan bulu ayam, diberi air, dan kemudian ditebarkan dalam hapa di akuarium atau bak/tangki yang berisi air bersih dan diaerasi. Telur yang telah dicampur dengan sperma dapat juga disebar langsung ke dalam bak atau akuarium. Suhu air dalam akuarium atau bak minimal 26°C - 30°C. Telur yang terbuahi akan menetas setelah 20 - 30 jam (proses perkembangan embrio disajikan pada Tabel 2).

















Tabel 2. Perkembangan Embrio Ikan Baung
Fase
Waktu antara
(jam setelah pembuahan)
Pembentukan blastolik
2sel
Morula
Blastula
Gastrula
Penutupan blastopor
Pembentukan tunas kepala
Pembentukan ekor
Pergerakan ekor
Siap menetas
Menetas
0,30
0,45
2,45
3,45
5,05
8,05
19,00
21,45
22,15
27,30
30,45
Sumber: Yunita, 1996.
F. Perkembangan Larva
Perkembangan larva dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu pralarva dan pascalarva. Pralarva merupakan tahap dari mulai menetas hingga habisnya kuning telur, sedangkan pascalava adalah masa larva mulai dari hilangnya kantung kuning telur sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempumaan organ-organ yang telah ada. Pada masa akhir pasca larva tersebut, maka secara morfologi sudah mempunyai bentuk menyerupai individu dewasa (definitif).
Pada stadia larva, baik morfologi, anatomi, maupun fisiologi ikan masih sangat sederhana. Tubuh larva tampak transparan, sirip dada dan ekor sudah ada tetapi bentuknya belum sempurna. Sirip hanya berbentuk tonjolan. Mulut dan rahang belum berkembang dan usus masih merupakan lambung lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah belum sempurna. Pakan diperoleh dari sisa kuning telur yang belum habis terserap. Pergerakan larva yang baru menetas hanya terjadi sewaktu-waktu saja dengan jalan menggerakan bagian ekor ke kiri dan ke kanan.
Mengingat perlengkapan hidup bagi larva untuk menjalani kehidupannya masih sangat minim, maka untuk sementara larva tersebut harus segera beradaptasi dengan lingkungannya dan pakan dari luar yang seringkali tidak selalu berhasil. Stadia larva ini merupakan stadia yang paling kritis dari siklus hidup ikan. Larva yang berhasil melewati fase larva dengan sukses akan terus hidup hingga menjadi ikan dewasa, sedangkan larva yang gagal melewati fase ini akan mati. Oleh karena itu, kegiatan pemeliharaan larva dalam pembenihan ikan merupakan kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan pembenihan, terutama bagi ikan yang memiliki larva dengan ukuran tubuh yang sangat kecil (2 - 5 mm).
Selain perkembangan morfologis, anatomis, dan fisiologis, selama stadia larva juga terjadi perkembangan tingkah laku sebagai konsekuensi ketiga perkembangan tersebut di atas. Perkembangan tingkah laku selama stadia larva antara lain meliputi : pergerakan (berenang), pemangsaan, respon terhadap cahaya dan gangguan. Pergerakan larva dalam berenang umumnya tidak seperti ikan dewasa. Sebab, gelembung renang larva belum terisi udara dan berfungsi normal sebagai organ hidrostatik yang membuat ikan mampu berenang naik turun di bawah permukaan air. Pengisian gelembung renang dengan udara berlangsung saat larva mulai memangsa makanan dari luar. Pada saat tersebut larva seringkali berenang di dekat permukaan air dan dinding akuarium untuk mengisi gelembung renang dengan udara sehingga memiliki fungsi hidrostatik agar bisa bergerak (berenang) seperti ikan dewasa untuk mencari makan. Kegagalan larva mengisi gelembung renang merupakan salah satu faktor kegagalan larva untuk melewati fase kritis dalam hidupnya.
Untuk menjamin tetap kelangsungan metabolisme di dalam tubuh larva bagi kelangsungan hidupnya, larva terpaksa mengambil sumber energi yang terdapat di dalam jaringan tubuh. Larva mengalami retardasi pertumbuhan sehingga ukuran dan bobotnya menyusut, menjadi bengkok, dan larva menjadi pasifserta lemah karena fungsi organ (morfologis, anatomis dan fisiologis) menjadi rusak. Kondisi tersebut tidak bisa diperbaiki ke kondisi normal lagi meskipun larva telah dapat mengkonsumsi makanan dan proses perusak anjaringan serta organ terus berlangsung. Kejadian ini dikenal dengan istilah point of no return (titik tidak bisa balik).
Untuk memenuhi kebutuhan oksigen ketika sistem pernafasannya belum berkembang, larva memanfaatkan sistem kapiler pada permukaan kantung kuning telur untuk mendapatkan oksigen dari air. Masuknya oksigen ke dalam tubuh larva berlangsung melalui proses difusi.





Gambar 11. Perkembangan panjang tubuh larva ikan baung

Gambar 12. Hubungan antara umur dan bobot tubuh

Gambar 13. Hubungan antara panjang ikan dan bukaan mulut.

Gambar 14. Perkembangan morfologi larva ikan baung
Oksigen merupakan faktor lingkungan yang bersifat akut, dampaknya bersifat cepat dan masal. Kematian larva pada pembenihan seringkali disebabkan oleh kekurangan oksigen lokal. Di sudut akuarium, biasanya larva kekurangan oksigen meskipun aliran aerasi dan air terns berlangsung. Daerah demikian disebut death point area (daerah titik mati air). Larva yang memiliki tingkah laku pasif dan terbatas sebaiknya tidak dipelihara dalam wadah berbentuk persegi.
Larva ikan baung yang baru menetas langsung mengalami pigmentasi mata, sirip dada, sirip ekor, dan sungut sudah terbentuk. Setelah 26 jam, mulut mulai membuka dan umur 52 jam larva mulai makan, dan pada saat tersebut bukaan mulut mencapai 0,55 mm. Ketika bernmur 63.15 - 72 jam, kuning telur telah habis sehingga pergerakan larva makin aktif berenang di dasar dan dinding akuarium. Perkembangan morfologi, panjang, bobot, dan bukaan mulut larva disajikan pada Gambar 11 dan 12.

G. Wadah Pemeliharaan
Pemeliharan larva dapat dilakuakan antara lain dalam wadah dalam wadah pemijahan yang sekaligus sebagai tempat penetasan dengan mengangkat induk yang telah memijah, dalam wadah penetasan, atau dalam wadah khusus.























Gambar 15. wadah pemeliharaan larva

Pemeliharaan larva ikan baung sebaiknya dilakukan dalam wadah khusus dengan bentuk-bentuk tertentu. Bentuk yang baik untuk wadah pemeliharaan larva ikan baung adalah yang berbentuk sirkular dan memiliki dasar berbentuk kerucut, di mana inlet air terletak di tengah dasar sehingga akumulasi bahan organik dapat dihindari (Gambar 15). Debit air yang diperlukan sebesar 0,5 - 1,0 liter/menit untuk setiap wadah yang bervolume 10 liter. Selain berbentuk sirkular, wadah pemeliharaan larva dapat juga berbentuk persegi.
Bahan untuk wadah larva ikan baung dapat berupa fiber, plastik, bak beton, kaca (akuarium), kain saringan (hapa), atau papan yang dilapisi lembaran plastik. Bahan wadah dari fiber dan plastik relatiflebih ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dalam pelaksanaan pembenihan.
H. Kualitas Air
Aspek penting dalam pemeliharaan larva ikan adalah kualitas air. Beberapa kualitas air yang telah diteliti secara khusus dalam pemeliharaan ikan baung disajikan pada Tabel 3.




















Tabel 3. Beberapa Nilai Kualitas Air bagi Larva Ikan Baung


Suhu 27°C (suhu kamar) memberikan hasil terbaik bagi kelangsungan hidup larva ikan baung. Hasil ini memberikan harapan bagi kegiatan pembenihan skala mmah tangga karena tidak memerlukan alat khusus untuk meningkatkan suhu air. Salinitas kisaran optimal adalah 0 - 3 ppt, namun untuk mencegah berbagai bibit penyakit, sebaiknya larva dipelihara pada media air yang bersalinitas 1 ppt. Untuk mendapatkan salinitas 1 ppt dilakukan dengan cara melarutkan 1 g garam dalam 1 liter air. Media yang dibutuhkan dapat berupa air jernih maupun air hijau. Namun, hasilnya akan lebih baik jika larva ikan baung tersebut dipelihara pada media air hijau.

I. Penebaran Larva
Faktor penting dalam penebaran larva adalah padat penebaran. Padat penebaran untuk larva ikan baung berkisar 10 - 20 ekor/liter air. Penebaran larva dilakukan 1 - 5 hari setelah pengisian air secara penuh pada tangki pemeliharaan, atau bergantung pada ketersediaan larva. Hal ini dimaksudkan untuk menginkubasi air sehingga dapat memotong siklus hidup organisme patogen yang mungkin terdapat pada media ini. Larva yang ditebar berumur 2 hari atau masih memiliki kuning telur sebanyak kurang lebih 75 %, mata sudah berpigmen, dan mulut sudah terbuka.
Penghitungan larva dilakukan secara volumetrik dengan mengambil contoh larva dari akuarium penetasan menggunakan gelas piala bervolume 250 ml sebanyak 5 kali ulangan. Jumlah rata-rata larva tiap 250 ml ini dikonversikan menjadijumlah larva tiap liter dan nilai terakhir tersebut digunakan untuk penentuan volume air media penetasan.
Sebelum ditebar, larva diaklimatisasi terlebih dahulu terhadap kondisi media air pemeliharaan. Akiimatisasi larva dilakukan dengan cara membiarkan beberapa saat larva yang diangkut dari akuarium mengapung di permukaan air tangki. Kemudian, air di dalam tangki tersebut dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam waskom dengan menggunakan tangan. Selanjutnya, isi baskom dituangkan ke dalam tangki secara pelan-pelan.
J. Pemberian Pakan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pemeliharaan larva adalah pemberian pakan yang cocok dan waktu pemberian makanan yang tepat, sebab bukaan mulut larva sangat kecil; sistem pencemaannya masih hangat sederhana (secara anatomis dan fisiologis); dan pergerakan larva masih terbatas.
Pengetahuan mehgenai perkembangan bukaan mulut dan sistem pencernaan larva dapat membantu kita untuk menentukan makanan (pakan) yang cocok bagi larva ikan baung. Namun, dewasa ini pakan yang lazim diberikan pada larva stadia awal yang bukaan mulutnya besar adalah kutu air (Daphnia sp. dan Moina sp.); makanan untuk larva yang bukaan mulutnya sedang adalah Artemia; sedangkan larva yang bukaan mulutnya kecil adalah Rotifera. Menentukan bukaan mulut larva dapat dilakukan berdasarkan panjang tubuh larva, sebab terdapat korelasi positif antara lebar bukaan mulut dan panjang tubuh larva. Korelasi antara panjang dan bukaan mulut larva ikan baung mengikuti persamaan Y = - 2,1506 + 0,3933 X.
Umumnya, makanan yang diberikan pada larva stadia awal adalah pakan alami (bukan pakan buatan). Pakan alami mengandung enzim yang berperan sebagai enzim pencemaan pada larva. Keberadaan enzim tersebut dalam makanan alami dapat mengantisipasi perkembangan sistem pencemaan larva stadia awal, termasuk produksi enzim pencernaan.
Mengingat kondisi morfologi, anatomi, dan fisiologi larva yang telah diuraikan di atas, maka kemampuan larva untuk mencari, memangsa, dan mencerna makanan masih sangat terbatas. Padahal, makanan merupakan sumber nutrien dan energi yang dibutuhkan oleh larva untuk mempertahankan hidupnya. Pada saat kemampuan larva masih sangat terbatas tersebut, ternyata kuning telur merupakan sumber nutrien dan energi utama bagi larva selama periode endogenous feeding, yang dimulai saat fertilisasi dan berakhir saat larva mulai memperoleh pakan dari luar. Oleh karena itu, volume kuning telur, selain ukuran tubuh, dapat menentukan keberhasilan larva melewati fase kritis dalam siklus hidupnya.
Larva ikan baung mempunyai volume kuning telur yang besar (498 mm3) sehingga cadangan makanan tersebut cukup untuk membangun organ tubuh. Dengan demikian, larva ikan baung telah siap beradaptasi dengan lingkungan dan pakan dari luar (exogenous feeding). Larva ikan ikan baung tersebut sudah mampu memangsa dan mencema makanan pada saat kuning telur masih tersisa, sehingga di dalam tubuh larva terdapat dua sumber energi, yaitu kuning telur (endogenous energy) dan pakan dari luar (exogenous energy). Hal ini sangat mendukung kondisi larva untuk melewati fase kritis. Sebaliknya, jika saat kuning telur sudah habis dan larva belum dapat
Gambar 16. Jadwal Pemberian pakan benih ikan baung.

beradaptasi dengan lingkungan dan pakan dari luar atau kemampuan memangsa dan mencema makanan belum berkembang, maka larva ikan tersebut dalam kondisi berbahaya untuk melewati fase kritis. Pada saat tersebut, terjadi kekosongan sumber energi.
Larva ikan baung berumur 1 - 5 hari dapat diberi pakan alami berupa Artemia salina atau Moina sp. dengan kepadatan 1 – 2 ekor/ml. Pada saat berumur 4 - 8 hari, larva ikan baung sudah dapat diberi cincangan cacing Tubifex sp. dan Daphnia sp. Ketika berumur 7 hari, larva ikan baung dapat diberi pakan berupa cacing Tubifex sp. sebanyak 10 mg/ekor. Skema pemberian pakan larva ikan baung dapat dilihat pada Gambar 16.



















K. Penyiponan dan Penggantian Air
Satu minggu pertama, kolam pemeliharaan larva tidak perlu dilakukan penggantian air. Namun, setelah larva diberi cacing (cincangan cacing ataupun cacing utuh) perlu dilakukan penyiponan dan penggantian air sebanyak 10 % setiap pagi sebelum pemberian pakan.
Jika larva ikan baung berenang di dasar atau di dinding akuarium atau bak, penyiponan harus dilakukan dengan hati-hati. Agar larva tidak ikut tersedot, ujung alat penyiponan dapat dilapisi saringan (Gambar 17).








Gambar 17. Cara Penyiponan.
L. Transportasi Benih
Pengiriman benih dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan system terbuka dan sistem terutup. Pengiriman benih dengan sistem terbuka biasanya dilakukan untuk pengirimanjarak pendek yang prasaranajalannya baik dan lancar. Pengiriman abenihjarak pendek dengan waktu tempuh kurang dari



















Gambar 18. Pengangkutan benih system terbuka

5 jam dapat menggunakan alat-alat sederhana dengan sistem terbuka. Peralatan atau wadah untuk pengiriman sistem terbuka dapat menggunakan ember atau drum plastik yang dipotong setengah (Gambar 18).
Kepadatan benih pada pengiriman sistem terbuka bisa lebih padat (100 - 150 ekor/liter) karena ikan baung senang berkumpul membentuk farmasi seperti bola. Selama dalam pengiriman benih, kestabilan suhu air harus diperhatikan dan jika perlu di samping wadah transportasi diberi es balok.
Pengiriman benih sistem tertutup biasanya dilakukan untuk pengiriman jarak jauh. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sistem pengiriman benih secara tertutup adalah ketersediaan oksigen, sisa metabolisme (CO2 dan NH3), dan suhu air. Benih yang diangkut senantiasa melakukan metabolisme. Metabolisme yang memerlukan oksigen dan mengeluarkan sisa (feces) dapat membahayakan benih ikan. Oleh karena itu, benih ikan yang akan dikirim jarak jauh dengan sistem tertutup ini harus dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam sebelum pengangkutan supaya saluran pencemaan kosong. Dengan demikian, kerja metabolisme minimal dan membutuhkan oksigen minimal pula, Selain itu, jumlah kotoran (buangan sisa metabolisme) berkurang. Biasanya, kebutuhan oksigen dalam wadah pengangkutan sistem tertutup mudah untuk diatasi, tetapi sisa metabolisme berupa NH3 sering sulit diatasi.






















Gambar 19. Proses pengemasan benih system tertutup.

Peralatan dan wadah yang diperlukan untuk pengiriman benih ikan sistem tertutup adalah kantong plastik, kardus, gas, dan tali untuk mengikat kantong plastik ataupun kardus. Untuk mencegah kebocoran pada kantong plastik, maka kantong tersebut sebaiknya dipasang rangkap. Kantong diisi air tawar seperlunya, kemudian benih dimasukkan dengan kepadatan 400 - 500 ekor/liter. Oksigen dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan perbandingan 1 : 5, kemudian plastik diikat erat dan dikemas dalam kardus (Gambar 19). Jika pengangkutan benih ikan menggunakan mobil khusus kadang-kadang tidak memerlukan kardus, tetapi kantong-kantong plastik berisi benih ikan tersebut cukup disusun yang baik dan rapi.

M. Analisis Usaha
Usaha pembenihan ikan baung memiliki prospek yang sangat baik. Hal ini ditandai dengan makin meningkatnya permintaan benih di beberapa wilayah terutama Sumatra dan Kalimantan. Gambaran analisis usaha pembenihan ikan baung disajikan di bawah ini.

1. Biaya Investasi
Akuarium 80 buah @ 100.000 (usia ekonomis 5 tahun) RP 8.000.000,00
Bak akuarium (usia ekonomis 5 tahun) Rp 1.000.000,00
Blower 1 buah (usia ekonomis 3 tahun) Rp 3.000.000,00
Pompa air 2 buah (usia ekonomis 3 tahun) Rp 600.000,00
Perlengkapan aerasi (usia ekonomis 3 tahun) Rp 750.000,00
Perlengkapan instalasi air (usia ekonomis 3 tahun) RP 750.000,00
Lain-lain (tong kultur artemia, ember, tabung gas)
(usia ekonomis 5 tahun) Rp 900.000,00
Total investasi Rp 15.000.000,00

2. Biaya Tetap (FC)
a. Penyusutan/musim (2 bulan)
1) Akuarium (Rp 8.000.000,00 : 5 : 2) Rp 800.000,00
2) Rak akuarium (Rp 1.000.000,00 : 5 : 2) Rp 100.000,00,00
3) Blower (Rp 3.000.000,00 : 3 : 2) Rp 500.000,
4) Pompa air (Rp 600.000,00 3 : 2) Rp 100.000,00
5) Perlengkapan aerasi (Rp 750.000,00 : 3 : 2) Rp 125.000,00
6) Perlengkapan instalasi air
(Rp 750.000,00 : 3 : 2) Rp 125.000,00
7) Lain-lain (Rp 500.000,00) Rp 50.000,00
a. Tenaga operator 3 orang Rp 900.000,00
b. Bayar listrik Rp 150.000,00
c. Bunga modal Rp
Total biaya tetap Rp 2.750.000,00

3. Biaya Tidak Tetap (VC)
Induk betina (8 x Rp 50.000,00) Rp 400.000,00
Induk jantan (10 x Rp 20.000,00) Rp 200.000,00
hCG(lOml) Rp 250.000,00
Donor ikan mas (20 x Rp 7.000,00) Rp 140.000,00
Moina/Daphnia (umur 1 - 5 hari) Rp 50.000,00
Cacing rambut (umur 6 - 30 hari
3 x 3 x Rp 2.500,00 Rp 225.000,00
Obat-obatan Rp 100.000,00
Lain-lain Rp 100.000,00
Total Biaya Tidak Tetap Rp 1.465.000,00
4. Hasil usaha per siklus (GI)
4.68.000 ekor x Rp 200,00 Rp 13.000.000,00
5. Keuntungan total per siklus
GI - (FC + VC) =
Rp 13.600. 000 - (Rp 2.750.000 + Rp 1.465.000) Rp 9.385.000,00
6. Hasil bersih per siklus (NI)
Keuntungan total - pajak (20 %) Rp 7.508.000,00

GI 13.600.000
7. BC Ratio = FC + VC = 2.750.000 + 465.000 = 3,2 (Layak)

Artinya, dengan mengeluarkan biaya 1 satuan akan diperoleh penerimaan sebesar 3,2 kali satuan.

GI 2.750.000
8. Titik impas (BEP) = VC = 1.465.000 =3.089.887
1 - GI 1 -13.600.000

Artinya, jika harga benih Rp 200,00/ekor, usaha pembenihan ini sudah mencapai titik impas ketika produksi benih barn 15.449 ekor.






Making Of Bakso Fish

Antecedent.
Bakso represent food product [is] which [is] very liked [by] people start from children until adult. Form circular bakso generally of the size according to request of market / consumer. To be able to be obtained [by] bakso which with quality and is valuable [of] needed [by] high gizi [of] fish flesh 80 - 90 % from materials grand total . If quality of good bakso , fish bakso can be made [by] the effort interesting and enough profit. For that require to be paid attention the way of producing good bakso, start from handling of raw material until marketing.

needed materialss "

Materials

- Flesh Fish Flesh fish represent especial materials to make fish bakso,. good flesh [is] fish flesh which [is] white chromatic which often there are [at] fish types like : kakap, kerapu, tenggiri, cumang, kemang and others. With this white chromatic flesh will be able to be obtained [by] more withdrawing from colour [of] bakso

- flour of Tapioca [So that/ to be] its it[him] felt is delicious, gilt edged and good bertekstur, hence amount of used flour better 10 - 15 % from flesh weight - Ices [of] other Important Materials in making of bakso [is] ice water or ice

- used Flavour Flavour in the form of smooth cooking salt, delicious flavour ( and garlic of merica). Salt needed 2,5 % and delicious 2 % from flesh weight.



" Making Of Bakso Fish
- After flesh leak pulverized [is] at the same time added [by] flavour and salt sufficiently - After flesh of lumat mix flavour and flatten and obtained [by] homogeneous dough, enhancing ice cube 15 - 20 % from fish flesh weight

- As for this ices function is to maintain temperature and add water into dough

- Dough which have spherical printed homogeneous [of] braised readily bakso, of the size according to appetite

- Ball form of bakso mentioned braised in water boil till mature, that is bakso lifted [by] if have floated on the surface of irrigate

- Later;Then leak bakso and made cool and hereinafter tidy bakso ready to in plastic sack;bags according to order - Before bakso have time to be sent, bakso can be kept [at] cooler cupboard;locker or of refrigator have temperature [to] 5 degree C. With temperature 5 degree of C bakso hold up until 32 day. If for the delivery of long distance of bakso sent in the form of frost which [is] kept in storage cold.

à´«ുà´™്à´™്à´¸ി à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ പട ഇകാà´¨്‍

à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍
à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´¦ിà´ªെà´°്‍à´²ുà´•à´¨്‍ ദളം à´žുംലത് യന്à´—് à´°േലടിà´«് à´¸െà´Ÿിà´•ിà´±്à´±്, à´±െà´°ുà´Ÿà´® ഉണ്à´Ÿുà´•് à´®േà´ž്à´žാà´— à´•േà´¸േà´šà´Ÿà´¨്‍ à´¦ാà´¨്‍ à´ªെà´°്‍à´¤ുംà´¬ുà´¤ാà´¨്‍ à´Ÿുà´¬ുà´¤് ഇകാà´¨്‍. à´¦ിà´Ÿിà´ž്à´ž് à´¦ാà´°ി à´¸ിà´«à´±്à´±് -à´¸ിà´«à´±്à´±് à´«ിà´¸ിà´•്à´¨്à´¯, à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ ടപറ്à´±് à´¦ിബങി à´•െ ദളം à´Ÿ്‌ാ à´—ോà´²ോà´™്à´™ാà´¨്‍ à´¯ിà´¤ു à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ യന്à´—് ലരുà´±്à´±് ദളം എയര്‍ à´¦ാà´¨്‍ à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ യന്à´—് ലരുà´±്à´±് ദളം à´²െà´®ാà´•്.
à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ യന്à´—് ലരുà´±്à´±് ദളം എയര്‍ à´…à´¨്à´Ÿà´° à´²ൈà´¨്‍ തയാà´®ിà´¨്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´¬ി , à´°ിà´¬ോà´«്à´²ാà´µിà´¨്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ ൨) , ആസാം പന്à´±ൊà´±െനറ്à´±് (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ ൬ , à´¬ിà´’à´Ÿിà´¨്‍ à´¦ാà´¨്‍ à´•ൊബളാà´®ിà´¨്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´¬ി ൨ ), à´¦ാà´¨്‍ à´²ൈà´¨്‍ -à´²ൈà´¨്‍ . à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ യന്à´—് ലരുà´±്à´±് ദളം à´²െà´®ാà´•് à´…à´¨്à´Ÿà´° à´²ൈà´¨്‍ à´°േà´Ÿിà´¨ോà´³്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´Ž ), à´•ൊà´²െà´•à´²്à´¸ിà´«െà´°ോà´³്‍ ആട് à´Žà´°്à´—ോà´•à´²്à´¸ിà´«െà´°ോà´³്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´¡ി , ആല്à´« à´Ÿോà´•ൊà´«െà´°ോà´³്‍ (à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´‡ , à´¦ാà´¨്‍ à´®േനടഷന്‍ ' ,à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´• . à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ ൧ à´¬ി ൬ , à´¦ാà´¨്‍ à´¬ി ൧൨ à´¬െà´°്à´«ുà´™്à´™്à´¸ി ഉണ്à´Ÿുà´•് à´®േà´¨ുà´ž്à´žà´¨്à´—് pertum­à´¬à´¹à´¨്‍ à´¸െà´°്à´Ÿ ടപറ്à´±് à´®േà´°à´™്à´™്സന്à´—് നഫ്à´¸ു മകന്‍ , à´¸െà´Ÿà´™്à´™്à´•ാà´¨്‍ à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ ൨ à´¬െà´°്à´ªെà´°à´¨്‍ ദളം à´ªെà´°്‍à´¤ുംà´¬ുà´¤ാà´¨്‍ à´¦ാà´¨്‍ à´ªെà´°്à´Ÿുà´•ാà´°à´¨്‍ à´¸ാà´±് -à´¸ാà´±് മകന്‍an (seper­à´Ÿി à´•à´°്à´¬ോà´¤ിà´¦്à´°à´±്à´±് , à´²െà´®ാà´•് , à´¦ാà´¨്‍ à´ª്à´°ോà´Ÿ്à´Ÿീà´¨്‍ ) à´¦ാà´°ി à´¸െà´±്à´±് -à´¸െà´²്‍ ദളം à´Ÿുà´¬ുà´¤് ഇകാà´¨്‍ à´¸െà´°്à´Ÿ ഉണ്à´Ÿുà´•് à´ª്à´°ോà´¸േà´¸് à´°േà´ª്à´°ോà´Ÿുà´•്à´¸ി . à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´Ž à´¬െà´°്à´«ുà´™്à´™്à´¸ി ഉണ്à´Ÿുà´•് à´®േà´¨ുà´ž്à´žà´¨്à´—് à´•േà´¸േà´šà´Ÿà´¨്‍ മട , à´¸െà´Ÿà´™്à´™്à´•ാà´¨്‍ à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´¡ി à´¦ിà´¬ുà´Ÿുà´¤്à´•ാà´¨്‍ ഉണ്à´Ÿുà´•് à´ª്à´°ോà´¸േà´¸് à´®േà´Ÿà´¬ോà´³ിà´¸്à´®േ à´¦ാà´°ി à´®ിനറല്‍ (à´±െà´°ുà´Ÿà´® à´•ാà´²്‍à´¸ിà´¯ം à´¦ാà´¨്‍ à´«ോà´¸്à´«ോà´°്‍ ). à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´‡ à´¬െà´°്à´ªെà´™്ങരുà´¤് à´±െà´°്‍ഹടപ് à´ªെà´°്‍à´—െà´°à´•ാà´¨്‍ ഇകാà´¨്‍ à´®ൌà´ªുà´¨്‍ ദളം à´ª്à´°ോà´¸േà´¸് repro­à´¦ുà´•്à´¸ി , à´¸െà´Ÿà´™്à´™്à´•ാà´¨്‍ à´µിà´±്à´±ാà´®ിà´¨്‍ à´• à´¬െà´°്à´ªെà´™്ങരുà´¤് ദളം à´ª്à´°ോà´¸േà´¸് à´ªെà´®്à´¬െà´•്‌ാà´¨്‍ à´¦ാà´°് . à´¸ുംà´¬െà´°്‍ : ഇര . à´® . à´«ിà´°്‍à´¦ൌà´¸് സഹ്à´µാà´¨്‍ , à´® .à´® . ൨൦൦൧ .

TEHNIK BUDIDAYA IKAN MANFISH / MANVIS

BUDIDAYA IKAN MANFISH

Asal, Morfologi dan Kebiasaan Ikan Manfis
Manfish atau yang dikenal juga dengan istilah 'Angel fish' berasal dari perairan Amazon, Amerika Selatan. Manfish (Pterophyllum scalare) tergolong ke dalam famili Cichlidae, mempunyai ciri-ciri morfologis dan kebiasaan sebagai berikut:
- Memiliki warna dan jenis yang bervariasi
- Bentuk tubuh pipih, dengan tubuh seperti anak panah
- Sirip perut dan sirip punggungnya membentang lebar ke arah ekor, sehingga tampak sebagai busur yang berwarna gelap transparan
- Pada bagian dadanya terdapat dua buah sirip yang panjangnya menjuntai sampai ke bagian ekor.
- Menjaga dan melindungi keturunannya.
- Bersifat omnivorus
- Tergolong mudah menerima berbagai jenis makanan dalam berbagai bentuk dan sumber


Beberapa jenis ikan Manfish yang dikenal dan telah berkembang di Indonesia antara lain adalah: Diamond (Berlian), Imperial, Marble dan Black-White.

Diamond (Berlian) berwarna perak mengkilat sampai hijau keabuan. Pada bagian kepala atas terdapat warna kuning hingga coklat kehitaman yang menyusur sampai bagian punggung. Manfish Imperial mempunyai warna dasar perak, tetapi tubuhnya dihiasi empat buah garis vertikal berwarna hitam/coklat kehitaman. Manfish Marble memiliki warna campuran hitam dan putih yang membentuk garis vertikal. Sedangkan manfish Black-White mempunyai warna hitam menghiasi separuh tubuhnya bagian belakang, dan warna putih menghiasi separuh bagian depan termasuk bagian kepala.

Pengelolaan Induk
Ikan manfish dapat dijadikan induk setelah umurnya mencapai 7 bulan dengan ukuran panjang ± 7,5 cm. Untuk mencapai hasil yang optimal, induk harus dikelola dengan baik antara lain dengan pemberian pakan yang baik seperti jentik nyamuk, cacing Tubifex, atau Chironomous. Selain itu karena induk ikan manfish sangat peka terhadap serangan penyakit, maka perlu diberikan perlakukan obat secara periodik Obat yang biasa digunakan antara lain Oxytetracycline dan garam.

Sebelum dipijahkan, induk manfish dipelihara secara massal ( jantan dan betina ) terlebih dahulu dalam 1 akuarium besar (ukuran 100x60x60 cm3). Setelah matang telur, induk manfish akan berpasangan dan memisahkan dari ikan lainnya. Induk yang berpasangan tersebut sudah dapat diambil dan dipijahkan pada tempat pemijahan.

Selain itu dapat dilakukan, yaitu dengan memasangkan induk manfish secara langsung setelah mengetahui induk jantan dan betina. Induk jantan dicirikan dengan ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Kepala induk jantan terlihat agak besar dengan bagian antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung, serta bentuk badan lebih ramping dibandingkan dengan ikan betina. Sementara induk betina dicirikan oleh ukuran tubuh yang lebih kecil dan bentuk kepalanya yang lebih kecil dengan bagian perut yang lebih besar/gemuk serta terlihat agak menonjol.



Teknik Pemijahan

Pemijahan dilakukan di akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dengan tinggi air ± 30 cm. Ke dalam akuarium tersebut diberikan aerasi untuk menyuplai oksigen.
Ikan manfish akan menempelkan telurnya pada substrat yang halus, misalnya potongan pipa PVC yang telah disiapkan/ditempatkan dalam akuarium pemijahan. Karena ikan manfish cenderung menyukai suasana yang gelap dan tenang, maka pada dinding akuarium dapat ditempelkan kertas atau plastik yang berwarna gelap.

Induk manfish akan memijah pada malam hari. Induk betina menempelkan telurnya pada substrat dan diikuti ikan jantan yang menyemprotkan spermanya pada semua telur, sehingga telur-telur tersebut terbuahi. Jumlah telur yang dihasilkan setiap induk berkisar antara 500-1000 butir. Selama masa pemijahan tersebut, induk tetap diberi pakan berupa cacing Tubifex, Chironomous atau Daphnia.


Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Telur yang menempel pada substrat selanjutnya dipindahkan ke akuarium penmetasan telur (berukuran 60x50x40 cm3) untuk ditetaskan. Pada air media penetasan sebaiknya ditambahkan obat anti jamur, antara lain Methyline Blue dengan dosis 1 ppm. Untuk menjaga kestabilan suhu, maka ke dalam media penetasan telur tersebut digunakan pemanas air (water heater) yang dipasang pada suhu 27-28oC.

Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur berkisar 70-90%. Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan perawatan larva hingga berumur ± 2 minggu.

Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva tersebut berupa pakan alami yang sesuai dengan bukaan mulut larva dan memiliki kandungan protein yang tinggi, antara lain nauplii Artemia sp. Pakan tersebut diberikan 2 kali sehari ( pagi dan sore ) hingga larva berumur ± 10 hari dan dilanjutkan dengan pemberian cacing Tubifex.
Pendederan dan Pembesaran

Setelah berumur ± 2 minggu, benih tersebut dapat dilakukan penjarangan untuk kemudian dilakukan pendederan sampai ikan berumur satu bulan.

Langkah berikutnya adalah memanen benih tersebut untuk dipindahkan ke dalam bak/wadah pembesaran. Dalam hal ini dapat digunakan bak fiber atau bak semen, tergantung wadah yang tersedia. Selama masa pembesaran, diupayakan agar ada aliran air ke dalam wadah pembesaran walaupun sedikit. Padat penebaran untuk pembesaran ikan manfish berkisar 100 ekor/m2. Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex atau pellet sampai benih berumur ± 2 bulan. Ukuran yang dicapai biasanya berkisar 3 - 5 cm. Jika pakan dan kualitas air mendukung, sintasan pada masa pembesaran dapat mencapai 70-90%. Selanjutnya benih manfish dapat dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran calon induk atau induk dengan padat penebaran yang lebih kecil.


Penyakit dan Penanggulangannya

Ikan manfish dikenal cukup peka terhadap serangan penyakit, untuk itu diperlukan pengelolaan secara baik dengan menjaga kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan. Beberapa jenis parasit yang biasa menyerang benih/induk Manfish antara lain adalah : Trichodina sp., Chillodonella sp. dan Epystilys sp. Sedangkan bakteri yang menginfeksi adalah Aeromonas hydrophilla.

Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk menanggulangi serangan penyakit parasitek antara lain : Formalin 25%, NaCl 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit bakterial dapat digunakan Oxytetrachycline 5 - 10 ppm dengan cara perendaman 24 jam.

CONDUCTING FISH of MANFISH

CONDUCTING FISH of MANFISH.,

Morphology and Habit Of Fish of Manfis. Manfish or which [is] recognized also with term ' Fish Angel' coming from territorial water of Amazon, South America. Manfish ( Pterophyllum Scalare) pertained into set of relatives of Cichlidae, having marking of morfologis the following habit and:

" Owning type and colour which vary " Form flimsy body, with body like dart " Stomach fin and its back fin unfold wide up at tail, so that see as bow which [is] transparent dark chromatic " [At] part of its chest there are two fin which [is] length pendant to part of tail " Taking care of and protecting its clan " Have the character of omnivorously " Pertained easy to accept various food type in so many source and form.

Some fish type of Manfish recognized and have expanded in Indonesia for example [is]: Diamond ( Berlian ), Imperial, Marble and of Black-White. Diamond ( Berlian ) silver chromatic gleam until dusty green. [At] part of head to the there are colour turn yellow till black chocolate which go along until part of back. Imperial Manfish have silver primary colour, but its body [is] decorated [by] four vertical line [of] black chromatic / black chocolate.

Manfish Marble have white and black mixture colour which [is] vertical line shape. While Black-White manfish have black colour decorate halfly [of] its body [of] backside, and white colour decorate halfly [of] frontage of[is including part of head.

Management of Mains. Fish of Manfish can be made [by] mains after its age reach 7 long months of the size 7,5 cm. To reach result of optimal, mains have to be managed better for example with [gift/ giving] of good food like wiggler, worm of Tubifex, or Chironomous. Besides because fish mains of manfish very sensitive to disease attack, hence require to be given to treat drug periodical Drug which commonly use for example Oxytetracycline and salt.

Before breeded, mains of manfish looked after massly ( male and is female ) beforehand in 1 big aquarium ( size measure 100x60x60 cm3). After maturing egg, mains of manfish will each other and lock out of other fish. Mains which each other the have earned to be taken and breeded [at] breeder place.

Besides can be [done/conducted], that is by pairing mains of manfish directly after knowing female and masculine mains. distinguished Masculine mains of the size larger ones body compared to female mains. rather big seen masculine Mains head with part of [among/between] mouth to back fin in form of is convex, and also compared to slimer physique [of] female fish. Whereas female mains distinguished by smaller body size measure and its smaller head form with part of more big stomach / fat and also seen rather uppermost.

Technique Breeder.
Breeder [done/conducted] [by] [in] fairish aquarium 60x50x40 cm3 highly water 30 cm. Into the aquarium given [by] aerasi for the supply of oxygen. fish of Manfish will paste up its egg [at] smooth substrat, for example pipe cutting of PVC which have been prepared / to be placed in breeder aquarium. Because fish of manfish tend to to take a fancy to calm and dark atmosphere, hence [at] aquarium wall can be glued [by] plastic or paper which [is] dark chromatic.

mains of Manfish will be prolific at night. Female mains paste up its egg [at] substrat and followed [by] masculine fish which spraying its[his] [him/ it] at all of egg, so that the eggs [is] fruit. Amount of yielded egg each;every mains range from 500-1000 item. During a period of/to breeder, mains remain to give [by] food in the form of worm of Tubifex, Chironomous or of Daphnia.

Hatch of Egg and Conservancy of Larva Egg which patch [at] substrat [is] hereinafter carried over [by] aquarium hatch of egg ( fairish 60x50x40 cm3) to be incubated. [At] hatch media water better be enhanced [by] drug anti mushroom, for example Methyline Blue with dose 1 ppm. To take care of stability of temperature, hence into media hatch of the egg used [by] heater of water ( heater water) attached [at] temperature 27-28 degree of Celcius. Egg of Manfish will hatch after 2-3 day, with degree of hatch of egg gyrate 70-90%. Hereinafter place paralon gluing of egg lifted and [done/conducted] [by] treatment of larva till old age 2 week.


given food during conservancy of the larva in the form of natural food matching with aperture trap larva and have high protein content, for example Artemia sp nauplii. the food given [by] 2 times one day ( evening and morning ) till larva old age 10 day and continued with [gift/ giving] of worm of Tubifex.


Conservancy of Magnification and seed.

After old age 2 week, the seed can be [done/conducted] seldom to [is] later;then [done/conducted] [by] conservancy until fish old age one months. Next step [is] to harvest the the seed to be carried over in basin / place of magnification. In this case can be used [by] basin of fiber cement basin or, depended the place of available. During a period of/to magnification, strived in order to current into place of magnification although a few/little.

Solid [is] dispersion for the magnification of fish of manfish gyrate 100 tail / m2. given food in the form of worm of Tubifex or of pellet until seed old age 2 months. Reached size measure usually gyrate 3 - 5 cm. If water quality and food support, sintasan [at] a period of/to magnification can reach 70-90%. Hereinafter seed of manfish can be enlarged again till reach mains candidate size measure or mains thickky smaller dispersion.

Disease and medication.

fish of Manfish recognized sensitive enough to disease attack, [is] for that needed [by] management well by taking care of the quality of given food amount and water. Some ordinary parasite type attack seed / mains of Manfish for example [is] : Trichodina sp., Chillodonella sp. and Epystilys sp. While bacterium the infection [is] Aeromonas hydrophilla.

Some drug type able to be used to overcome attack disease of parasitek for example : Formalin 25%, Nacl 500 ppm. While for the disease of bakterial can be used [by] Oxytetrachycline 5 - 10 ppm by input to its mixture during 24 [hour/clock].