Dragonfly larvae - seed Predator Fish

Dragonfly larvae - seed Predator Fish


1. (Dragonfly larvae)
Dragonfly or papatong (Sunda), dragonfly or coblang (Java) on larval phase is a seed predator fish that is very fierce. Dragonfly larvae of hatchery fish pose a threat in some areas of aquaculture centers. Dragonfly larva has a very diverse local names, such as in West Sumatra is called: sipasin, children sipatuang; in North Sumatra called anakni siri-siri. While popular in West Java called kinikini. General name is Dragonfly larvae.

This includes classroom dragonfly insect of the order Odonata and the suborder Epiprocta. There are many tribes of this dragonfly, namely Austropetaliidae Cordulegastridae; Corduliidae; Gomphidae; Libellulidae; Macromiidae; and Neopetaliidae. In general, we classify people into two major groups of dragonflies (DAMSELFLY-DAMSELFLY) and dragonfly pin.


Systematics details are as follows:
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Odonata
Sub Order: Epiprocta
Family: Aeshnidea
Genus: Anisoptera (dragonflies), Zygoptera (dragonfly pins)


Dragonflies and dragonfly pin can be distinguished easily. Dragonflies are generally relatively large bodied and perched with wings spread open or sideways. While dragonflies are generally small needles (although there are some rather large type), has the abdomen (body) of thin slender needle-like, and perch with closed wings, standing together at the back. Both types of these insects live near water, where they lay eggs and spend the pre-adult children.


Dragonflies and dragonfly pin widespread, in forests, gardens, fields, rivers and lakes, to the yard of the house. Found from the coast to a height of more than 3000 m asl (above sea level).

Dragonfly's life is never far from water. These insects reproduce by laying eggs. The eggs laid on plants in the water. There's kind of like dragonflies lay their eggs in stagnant water, but there are also types of dragonflies lay their eggs on the water like a rather heavy. After the marriage, the marriage would seem an egg the next day in the pool water surface. Shaped like a frog egg dibaluti long mucus secretions between 1-3 cm.

The eggs were not so obvious but it feels slippery to the touch in hand. Within two days usually eggs already hatched. After hatching, the larvae leave the shell in the slimy surface of the water and live floating in the water.

To ensure the survival of eggs and the child is, dragonflies lay their eggs on the water it deems safe and not contaminated with a deadly poison. In addition, they seem to have an instinct to put their eggs in locations that are widely available food. So do not be surprised if the eggs of dragonflies are found in many insects of rice water and also a lot of seed fish pond.

Once hatched, larvae (maggot) and nymphs (post larvae) dragonfly (called kinikini) live and develop in the bottom waters, metamorphosed, and eventually out of the water as an adult dragonfly. Most of the life cycle of dragonflies are in the water.

By metamorphosis, larval dragonflies with a total length of 2-3 cm began to climb the wooden stilts or dike pond not far from the surface water. Metamorphosis preceded the opening in the skin or shell around the base of the wings or neck.

Furthermore, the head emerged slowly. Beyond the body and the tail will follow so the whole body out, including legs and wings.


Morphological traits
Despite the specter of hatchery fish, however, has not been much literature which discusses in detail the lives and experiences in kinikini prey fish. Morphological characteristics of dragonfly larvae in general, are as follows:

1. Segmented body-field and have three pairs of legs segmented-sections.
2. Having one pair of eyes and one pair of antennae on the head.
3. Body color of brown and black.
4. Has two pairs of wings that grow after body size reached 1.5 cm.
5. Has a jaw like a bailer or a jagged crescent serves as a hand to cut the prey.

6. Abdomen oval shape, and when viewed from below the surface of the stomach looks flat when viewed from above looked more sharp and triangular.
7. Comparison of body length and width of approximately 2: 1 or 3: 1.


Biological properties
Biological properties of dragonfly larvae obtained from field observation results show the following:
1. dragonfly larva spends its life in the water since the eggs hatch into larvae to reach a length of 2 cm. After that metamorphosed into nymphs and then would break away from the leather (carapace) to the child dragonfly. After this period of his life was turned into land.

2. dragonfly larvae breathe in water using internal gills.
3. Dragonfly larvae and nymphs are able to live out of water when placed in the ground for hours.
4. Have the ability to swim a rapid tool-driven pool located at the tip of its tail.
5. Likes to hide in the roots or aquatic plants and moss in the bottom mud bath or pool.
6. Can also be attached with the grip of his legs in the pool wall or the timber upright while spying the approaching fish.
7. Seeds preyed upon by fish as fast as lightning with his hands.
8. Having the nature of killing each other (cannibalism).
9. Pranced like to lift the stomach.


source: KhairulAmri and ToguanSihombing, PT.GramediaPustakaUtama, 2008

Kini - kini (Larva Capung) - Predator benih Ikan

Tanpa kita sadari, sebagian serangga air sebenarnya merupakan predator benih ikan yang tidak kalah berbahayanya. Meskipun berukuran kecil, serangga air umumnya memiliki populasi yang besar di kolam benih atau kolam pendederan, sehingga menimbulkan ancaman kerugian yang tidak kecil bagi usaha pembenihan dan pendederan ikan. Terutama jika pembenih ikan tidak menyadari kehadiran serangga air ini di kolamnya.

Umumnya, serangga air yang menjadi predator benih ikan adalah yang salah satu fase hidupnya (biasanya fase larva) di dalam air—selanjutnya setelah post larva (serangga muda) dan kemudian menjadi dewasa hidup di darat. Pada fase dewasa, serangga tersebut bukan lagi predator langsung benih ikan, Beberapa jenis serangga air yang menjadi predator benih mematikan adalah ucrit; kini-kini; notonecta dan lintah.



1. KINI-KINI (LARVA CAPUNG)
Capung atau papatong (Sunda), kinjeng atau coblang (Jawa) pada fase larva merupakan predator benih ikan yang sangat ganas. Larva capung menjadi momok usaha pembenihan ikan di beberapa daerah sentra perikanan budidaya. Larva capung memiliki nama lokal yang sangat beragam, misalnya di Sumatera Barat disebut: sipasin, anak sipatuang; di

Sumatera Utara disebut anakni siri-siri. Sementara di Jawa Barat populer disebut kini-kini. Nama umumnya adalah dragonfly larvae.

Capung ini termasuk kelas Insekta dari ordo Odonata dan subordo Epiprocta. Ada banyak suku dari capung ini, yaitu Austropetaliidae Cordulegastridae; Corduliidae; Gomphidae; Libellulidae; Macromiidae; dan Neopetaliidae. Secara umum masyarakat kita mengelompokkannya ke dalam dua kelompok besar yaitu capung (sibar-sibar) dan capung jarum.


Sistematika lengkapnya adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Odonata
Sub ordo: Epiprocta
Famili: Aeshnidea
Genus: Anisoptera (capung); Zygoptera (capung jarum)


Capung dan capung jarum dapat dibedakan dengan mudah. Capung umumnya bertubuh relatif besar dan hinggap dengan sayap terbuka atau terbentang ke samping. Sedangkan capung jarum umumnya bertubuh kecil (meskipun ada beberapa jenis yang agak besar), memiliki abdomen (badan) yang kurus ramping mirip jarum, dan hinggap dengan sayap-sayap tertutup, tegak menyatu di atas punggungnya. Kedua jenis serangga ini hidup dekat air, tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak-anaknya.


Capung dan capung jarum menyebar luas, di hutan, kebun, sawah, sungai dan danau, hingga ke pekarangan rumah. Ditemukan mulai dari tepi pantai hingga ketinggian lebih dari 3.000 m dpl (dari permukaan laut).

Kehidupan capung tidak pernah jauh dari air. Insekta ini berkembang biak dengan bertelur. Telurnya diletakkan pada tetumbuhan yang berada di air. Ada jenis capung yang senang menaruh telurnya di air yang menggenang, namun ada pula jenis capung yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah terjadi perkawinan, telur hasil perkawinan akan kelihatan keesokan harinya di permukaan air kolam. Bentuknya seperti telur kodok yang dibaluti lendir panjang lendir antara 1 - 3 cm.

Telurnya tidak begitu kentara namun jika dipegang terasa licin di tangan. Dalam waktu 2 hari biasanya telur sudah menetas. Setelah menetas, larva meninggalkan cangkang berlendirnya yang berada di permukaan air dan hidup melayang-layang dalam air.

Untuk menjamin kelangsungan hidup telur dan anakannya, capung meletakkan telur-telurnya di air yang dianggapnya aman dan tidak tercemar racun yang mematikan. Selain itu, mereka sepertinya punya insting untuk meletakkan telurnya di lokasi yang banyak tersedia makanan. Sehingga tidak heran bila telur-telur capung banyak ditemukan di areal persawahan yang banyak serangga airnya dan juga perkolaman yang banyak benih ikannya.

Setelah menetas, larva (tempayak) dan nimfa (post larva) capung (yang disebut kini-kini) hidup dan berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis, dan akhirnya keluar dari air sebagai capung dewasa. Sebagian besar siklus hidup capung adalah di dalam air.

Menjelang metamorfosis, kini-kini dengan panjang total 2 - 3 cm mulai memanjat tonggak-tonggak kayu atau pematang kolam yang tak jauh dari permukaan air. Metamorfosis didahului terbukanya kulit atau cangkang di sekitar pangkal sayap atau tengkuknya.

Selanjutnya kepala muncul secara perlahan-lahan. Seterusnya badan dan bagian ekor akan menyusul sehingga seluruh tubuhnya keluar, termasuk kaki dan sayapnya.


Ciri morfologis
Meski menjadi momok usaha pembenihan ikan, namun sampai saat ini belum banyak literatur yang membahas secara mendetail kehidupan kini-kini serta sepak terjangnya dalam memangsa benih ikan. Ciri-dri morfologis kini-kini pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Badannya beruas-ruas dan memiliki 3 pasang kaki beruas-ruas.
2. Memiliki satu pasang mata dan satu pasang antena di kepala.
3. Warna badan kecokelatan dan hitam.
4. Memiliki dua pasang sayap yang tumbuh Setelah ukuran tubuh mencapai 1,5 cm.
5. Memiliki rahang seperti gayung atau sabit bergerigi yang berfungsi sebagai tangan untuk memotong mangsa.

6. Bentuk perut oval dan jika dilihat dari bawah permukaan perut terlihat lebih rata, jika dilihat dari atas tampak lebih tajam dan berbentuk segitiga.
7. Perbandingan ukuran panjang dan lebar tubuh kira-kira 2 : 1 atau 3 : 1.


Sifat biologis
Sifat biologis kini-kini yang diperoleh dari hasil pengamatan lapangan menunjukkan sebagai berikut :
1. Kini-kini menghabiskan masa hidupnya di dalam air sejak dari telur, menetas menjadi larva (kini-kini) hingga mencapai panjang 2 cm. Setelah itu bermetamorfosa menjadi nimfa dan selanjutnya akan melepaskan diri dari kulit (karapas) menjadi anak capung. Setelah periode ini masa hidupnya pun beralih ke darat.

2. Kini-kini bernafas di dalam air menggunakan insang internal.
3. Kini-kini dan nimfa mampu hidup di luar air apabila ditaruh di darat berjam-jam lamanya.
4. Memiliki kemampuan berenang yang tergolong cepat yang digerakkan oleh alat renang yang berada di bagian ujung ekornya.
5. Suka bersembunyi pada akar atau tanaman air serta lumpur berlumut di dasar bak atau kolam.
6. Dapat juga menempel dengan cengkeraman kakinya pada dinding kolam atau kayu-kayu tegak sambil mengintai benih ikan yang mendekatinya.
7. Memangsa benih ikan dengan cara menyergap secepat kilat dengan tangannya.
8. Memiliki sifat membunuh sesamanya (kanibal).
9. Suka berjingkrak-jingkrak dengan mengangkat bagian perutnya.


Jenis Kini-kini
Secara umum dari pengamatan di lapangan menunjukkan ada beberapa jenis capung yang kini-kininya menjadi ancaman serius bagi benih ikan.

- Jenis 1. Jenis ini tergolong paling banyak ditemukan. Berasal dari induk-induk capung yang beraneka warna seperti kuning, merah, cokelat dan biru. Larva capung ini memiliki mata dengan posisi tepat di kiri-kanan bagian atas kepalanya. Bentuk kepalanya mirip segitiga meruncing ke bawah jika dilihat dari depan. Warna dominan tubuhnya agak kuning-kecokelatan. Pembeda lainnya adalah rahang yang dapat berfungsi sebagai tangan untuk menangkap dan memotong mangsa. Bentuknya mirip gayung air.

-Jenis 2. Jenis kedua ini tergolong sering ditemukan saat pengeringan dan panen benih ikan dalam kolam. Namun jenis yang ditemui tidak sebanyak jumlah jenis pertama. Berasal dari induk yang memiliki mata dengan posisi di bagian depan kiri-kanan kepala dan bentuknya menyerupai tanduk yang baru menyembul. Posisi matanya berbeda sekali dibandingkan dengan jenis pertama. Warna dominan tubuhnya agak kuning-kecokelatan. Pembeda dengan jenis pertama adalah ukuran tubuhnya lebih besar serta kaki-kakinya lebih panjang. Selain itu, memiliki rahang kuat yang berfungsi sebagai tangan dan pemotong mangsa dengan bentuk mirip sabit bergerigi.

- Jenis 3. Kini-kini jenis ketiga ini tergolong jarang ditemukan. Merupakan larva dari capung berwarna belang hijau-kehitaman. Larva capung ini memiliki mata yang relatif kecil. Posisinya di tepi kiri-kanan kepalanya. Bentuk badannya lebih kecil dan lebih keras dibanding dengan jenis pertama dan kedua. Selain itu, memiliki warna badan dominan hitam dan posisi kaki tidak mengangkang, tetapi melipat seukuran badannya. Bila dibanding dengan jenis pertama dan kedua, jenis ketiga ini tidak memiliki rahang untuk menangkap dan memotong mangsanya, sehingga efeknya bagi hasil produksi benih tidak terlalu merugikan

- Jenis 4. Kini-kini jenis ini tergolong jarang ditemukan. Merupakan larva dari capung yang badannya lebih kecil dan ukurannya 0,25 kali ukuran tubuh capung jenis pertama, kedua dan ketiga. Memiliki mata yang tergolong besar jika dibandingkan dengan besar kepalanya. Bentuk badannya kecil memanjang dengan perbandingan panjang total dan lebar total badannya adalah 13 : 1. Warna badannya cokelat kekuning-kuningan.

Kebiasaan Memangsa
Kini-kini yang berukuran besar dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Kini-kini memangsa benih ikan dengan jalan mengisap darah benih ikan.
Sebagai pernangsa, kini-kini dilengkapi alat khusus berupa rahang yang kuat dan besar serta "tangan" yang digunakan untuk memotong mangsanya. Mangsa dipotong agar mudah dimakan dengan cepat. Pergerakan kini-kini sangat cepat karena dilengkapi tangan dan kaki serta alat bantu renang yang terdapat di bagian ekornya. Selain itu, kini-kini bisa juga melakukan penyamaran dengan bersembunyi di dasar kolam maupun di dinding bak atau pematang dengan jalan menempel pada tanaman air atau benda lain seperti ranting kayu/tanaman air yang ada kolam.

Kini-kini mulai memangsa benih ikan sejak ukuran panjang badannya 5 mm. Kini-kini menjadi lebih ganas jika ukuran panjang total badannya sudah mencapai 1,5 - 2,0 cm hingga menjelang masa metamorfosis menjadi anak capung. Keganasannya ini dipengaruhi oleh daya renangnya, daya cengkeramannya dan ukuran tubuhnya yang semakin besar sehingga mampu melumpuhkan benih ikan dalam jumlah lebih banyak.

Benih yang lebih mudah dimangsa adalah larva ikan yang masih berusia muda di bawah 1 bulan. Dari pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa benih ikan mas merupakan mangsa favorit kini-kini. Benih ikan nila jarang dimangsa kini-kini karena memiliki duri dan sisik yang keras serta pergerakan yang lincah.

Umumnya ikan-ikan yang memiliki pertumbuhan lambat seperti benih qurami atau benih ikan yang tidak dipelihra dengan baik,tidak dibarengi dengan pemberian pakan intensif (sehingga pertumbuhannya lambat), menjadi mangsa empuk kini-kini. Selain itu, besar kecilnya kolam juga memberi andil. Kolam yang lebih sempit memudahkan kini-kini untuk melakukan pemangsaan. Kini-kini bahkan masih memangsa benih ikan yang ditampung di baskom saat panen. Jika saat panen di antara benih terdapat kini-kini, predator ini harus segera ditangkap dan dimusnahkan.

Indikator Keberadaan Kini-kini
Jika banyak capung beterbangan di sekitar kolam, dipastikan terdapat kini-kini di kolam itu. Makin banyak capung beterbangan di lokasi, makin banyak pula populasi kini-kini.

Masa pergantian kulit (molting) kini-kini mirip proses perkembangan jenis udang-udangan. Pada saat ini kondisinya sangat lemah dan tubuhnya lunak. Kondisi seperti ini merupakan masa bahaya baginya dari serangan musuh. Alat pemangsanya pun tidak berfungsi. Saat berganti kulit ini ia akan mengalami pertambahan besar yang cepat, seakan-akan ia mengembang dan hari demi hari kulitnya akan mengeras. Begitu selanjutnya hingga ia mengalami pergantian kulit beberapa kali. Sisa kulit atau karapasnya itu biasanya terapung di permukaan kolam. Ini bisa menjadi indikator bahwa di kolam terdapat kini-kini.

Pengendalian
Kehadiran kini-kini di kolam benih ikan dapat dikendalikan sedini mungkin. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis, biologis maupun kimiawi. Pengendalian secara mekanis antara lain dengan mengendalikan perkembangbiakan induk, telur serta larva capung. Pengendalian biologis menekankan pada upaya pemeliharaan benih yang tahan atau bisa terhindar dari serangan kini-kini. Sementara pengendalian secara kimiawi umumnya dilakukan dengan pomberantasan menggunakan insektisida.

1, Pengendalian secara mekanis
Keberadaan capung di sekitar areal perkolaman umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor ketersediaan makanan bagi capung dewasa dan kedua, faktor air sebagai media untuk peletakan telur dan membesarkan larva. Selain itu, tanaman semak dan perdu memudahkan capung untuk hinggap.
Untuk mengendalikannya, jagalah kebersihan pematang atau tanggul kolam baik dari rerumputan/semak maupun perdu. Usahakan rumput/semak di tanggul tidak terlalu tinggi. Kolam atau bak pemeliharaan benih yang berukuran kecil (< 50 ml) dapat ditutup dengan kain waring/jaring sehingga capung tidak bisa meletakkan telurnya ke dalam bak. Jika di dalam kolam ditemukan telur capung, langsung ciduk menggunakan seser atau serokan halus. Telur yang berhasil disero dibuang ke tanah dengan care mengempas-empaskan seser agar lendir yang menempel terlepas

Jika populasi kini-kini di kolam cukup banyak, lakukan perburuan. Memburu kini-kini lebih efektif jika dilakukan pada malam hari karena saat itu kini-kini lebih aktif, dan keberadaan manusia tidak mudah diketahui. Perburuan dilakukan memakai senter yang terang, baskom penampung yang diisi sedikit air dan seser halus sebagai penangkap. Untuk lebih mudahnya, gunakan senter yang ditaruh di kepala. Larva capung pada malam hari biasanya sering berada di sekitar dasar kolam atau tebing pematang dan jelas terlihat apabila air kolam tidak keruh, atau pada kolam beton.

2. Pengendalian secara biologis
Pengendalian secara biologis pada dasarnya memanfaatkan kelemahan kini-kini dan juga kelebihan benih ikan jenis tertentu.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa populasi kini-kini hanya sedikit di kolam pemeliharaan benih ikan yang memiliki pertumbuhan relatif cepat, gerakan berenang aktif, suka memakan ape saja (omnivore) seperti ikan mas dan nila atau pe-
makan hewan-hewan renik (karnivora) seperti lele dumbo. Hal ini kemungkinan karena populasi kini-kini terdesak oleh populasi benih ikan di mana ukuran benih ikan lebih cepat besar dibanding kini-kini sehingga sulit untuk dimangsa. Sebaliknya, banyak ditemukan kini-kini pada kolam pemeliharaan benih gurami yang pertumbuhannya lambat, pemakan tumbuhan (herbivore), serta gerakan berenangnya kurang aktif.

Ukuran benih gurami rata-rata kalah besar dibanding kini-kini, sehingga wajar bila benih gurami mudah dimangsa. Apalagi pada malam hari (saat kini-kini aktif mencari makan), benih gurami sangat jinak berenang di sekitar permukaan air, sehingga mudah dimangsa. Selain itu, meski perlu pengamatan lebih jauh, ada kecenderungan bahwa benih yang berwarna terang lebih disenangi kini-kini dibanding yang berwarna gelap.
Semakin besar ukuran benih ikan, semakin bebas benih itu dari gangguan kini-kini. Namun terbatasnya tempat dan biaya, membuat larva ikan harus segera ditebarkan ke kolam. Semakin cepat larva ikan ditebarkan ke kolam, semakin kecil ukurannya. sehingga menjadi mangsa yang mudah disantap kini-kini. Untuk itu ada baiknya benih yang ditebar di kolam adalah benih yang berukuran lebih besar. Benih yang masih kecil sebaiknya dipelihara lebih lama di dalam wadah tertutup (bak beton permanen, bak fiberglass atau akuarium) dengan pemberian pakan yang berkualitas seperti kutu air, cacing sutera dan artemia, sehingga pertumbuhannya cepat dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat.

Untuk benih gurami yang pertumbuhannya lambat akan lebih aman ditebar dengan sistem mutasi/pindah dari kolam yang satu ke kolam lainnya setiap 15 hari. Kelihatannya lebih merepotkan tetapi relatif menjadi lebih amen.

3. Pengendalian secara kimiawi
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida (racun se- -
rangga) merupakan cara terakhir untuk memberantas kini kini. Penyemprotan pertama dilakukan sebelum benih ditebar dan penyemprotan susulan dilakukan setelah benih ditebar. Penyemprotan susulan ini sifatnya optional (hanya dilakukan jika populasi kini-kini sangat banyak) dan dilakukan secara hati-hati. Sebab, pada saat penyemprotan susulan kolam telah berisi benih ikan. Dilemanya, dosis penyemprotan terlalu rendah tidak akan mematikan kini-kini. Sebaliknya, jika dosis dinaikkan, benih ikan ikut mati. Ada yang menyarankan, penyemprotan susulan tidak dilakukan. Sebagai gantinya, dilakukan pemberantasan secara mekanis yakni dengan menangkapi kini-kini menggunakan tangan/serer dan kemudian memusnahkannya. Meski lebih merepot namun lebih aman bagi kelangsungan hidup benih ikan.


Jenis insektisida yang sering digunakan pembenih adalah Ripcord 50 EC dengan dosis 4 cc untuk 1 m3 air kolam. Kondisi air kolam dibiarkan tergenang agar daya racun tidak berkurang. Dosis ini adalah untuk penyemprotan pertama sebelum larva ikan ditebarkan. Penyemprotan dilakukan menjelang Siang hari pada saat terik matahari jangan menyemprot pada saat hujan karena akan sia-sia. Pada saat penyemprotan, aliran air masuk dan air keluar ditutup. Insektisida yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam tangki handsprayer lalu diencerkan dengan air. Selanjut nya disemprotkan secara merata ke permukaan kolam. Jika tidak ada handsprayer, dapat juga menggunakan baskom dan larutan insektisida dengan cara dipercik-percikkan secara merata ke seluruh permukaan kolam.
sumber : Khairul Amri dan Toguan Sihombing, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008

RI Siap Pasok Pangan Dunia

RI Siap Pasok Pangan Dunia
Oleh Nurdian Akhmad


Indonesia berpotensi besar menjadi negara pemasok pangan dunia, karena didukung oleh kondisi alam beriklim tropis dan lahan pertanian yang luas. Beberapa komoditas pangan RI yang sudah merajai pasar dunia adalah minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan kopi. Sedangkan komoditas lain yang berpotensi menguasai pasar global adalah jagung, beras, gula, teh, serta produk perikanan.

RI kini juga menjadi incaran investor asing di sektor pangan menyusul tren penyusutan lahan pertanian di negara-negara maju. Demikian dikemukakan Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Utama Kajo. analis perdagangan beras Tito Pranolo, serta pengamat ekonomi Fadhil Hasan dalam acara Roundtable Beras di kantor Kadin, Jakarta, Rabu (12/5).

Utama Kajo menjelaskan, Kadin bahkan selangkah lebih maju dibandingkan pemerintah dalam pengembangan tanaman pangan karena telah mengadopsi Program Pasok Dunia (Feed The World) dalam lima tahun ke depan. "Untuk itu, kami berharap pemerintah juga serius mengembangkan industri pangan dalam negeri," ujar dia.

Kajo menyayangkan pemerintah saat ini yang lebih memfokuskan perhatian pada masalah politik ketimbang ekonomi khususnya sektor riil. Meski demikian, pelaku usaha siap mewujudkan swasembada pangan termasuk program Feed The World pada 2014. "Masalah kita bukan hanya soal kualitas bibit, ekspor, serta lahan, tapi juga tata ruang yang tidak beres-beres," kata dia.

Kajo mencontohkan target ekspor produk perikanan pada 2014 naik 350% yang dicanangkan Menteri Perikanan Fadel Muhammad. Namun, target itu tidak dibarengi dengan penuntasan masalah-masalah investasi perikanan. "Kami nggak butuh insentif, tapi keseriusan pemerintah. Masak untuk investasi udang saja, kita dipersulit oleh aturan tata ruang dan lahan," ucap dia

Kajo berharap paling tidak pada 2011, beberapa komoditas pangan ekspor RI sudah menguasai pasar global, selain tiga komoditas yang sudah eksis saat ini. "Paling tidak produk perikanan, teh, dan jagung bisa menguasai pasar ekspor," ujar dia.

Sementara itu, Sutarto menyatakan, untuk komoditas pangan, Indonesia sudah mengekspor beras organik dan volumenya meningkat tiap tahun. Namun, untuk ekspor beras umummasih belum bisa karena surplus produksi beras masih relatif tipis. Tapi saya yakin kalau food estate di Merauke Papua beroperasi, paling tidak ada tambahan dua juta hektare lahan pertanian. Artinya surplus bisa semakin besar, sehingga memungkinkan untuk ekspor," kata dia.

Menurut Sutarto, Indonesia tahun lalu surplus beras 4 juta ton. Sedangkan tahun 2010 ini, surplus beras berdasarkan angka ramalan (aram) I Badan Pusat Statistik (BPS) meningkat 0,88%. Surplus tersebut hanya cukup untuk cadangan beras nasional.

"Surplus beras kita masih rentan dengan perubahan iklim, karena lahan pertanian kita sebagian adalah lahan yang tidak dijamin oleh sistem irigasi. Jadi ketika ada gangguan elnino bisa berpengaruh ke produksi beras," ucap dia.

Untuk jagung, kata Sutarto, Indo-nesia juga punya potensi bersaing di pasar dunia karena produktivitas tanaman tersebut yang cukup tinggi. "Kalau cuma memasok jagung ke negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Jepang, saya yakin itu bisa dilakukan," ujar dia.

Fadhil Hasan menilai. Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar memungkinkan untuk menjadi salah satu pemasok produk pangan dunia. "Masalahnya, lahan pertanian yang saat ini menyusut Jadi foodestateitu cukup bagus untuk mendukung program swasembada pangan," kata dia.

Namun, kata Fadhil, program food estate atau budi daya tanaman pangan berskala luas itu juga terganjal oleh lemahnya koordinasi di tingkat pemerintah. "Ada persepsi yang berbeda di instansi pemerintah. Misalnya Kementerian Kehutanan dan sejumlah LSM tidak mendukung program itu," kata dia.

Diincar Asing

Kajo mengakui, masalah ketahanan pangan kini menjadi isu masyarakat global terkait perubahan iklim. Kondisi itu dibarengi oleh penyusutan lahan pertanian di negara-negara industri maju.

"Lahan pertanian di Korea, Jepang, dan Tiongkok sudah berkurang luar biasa karena alih fungsi lahan. Mereka akhirnya mencari lahan pertanian di negara lain termasuk Indonesia," kata dia.

Namun, Kajo juga menyayangkan proyek food estate yang sampai kini tidak ada perkembangan karena masalah kepastian lahan. "IkBm kita cukup baik, tanah kita cukup banyak. Itu sangat menarik investor asing," ujar dia.

Tito Pranolo mengakui, banyak negara saat ini mulai mengekspansi lahan kebutuhan pangannya ke luar negeri untuk mengantisipasi kebutuhan pangan pokok di negaranya masing-masing.

Hal semacam ini telah dilakukan oleh Tiongkok, Korsel, Mesir, Libya dan lainnya. Investor Tiongkok misalnya telah banyak membeli maupun menyewa lahan di Kazakhstan. Sementara India sudah menggarap lahan di Uruguay dan Paraguay, dan negara seperti Libya serta Mesir menggarap lahan di Ukrania.

"Untuk Indonesia, kunci satu-satunya menarik investor di sektor pertanian adalah dengan public private partnership (PPP). Pemerintah harus le,bih fokus pada infrastruktur pertanian," ucap dia.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krishnamurti sebelumnya juga menyatakan, Indonesia bisa menjadi salah satu pemasok pangan dunia. Salah satu faktor yang membuat Indonesia tak bisa memasok pangan ke seluruh dunia karena larangan ekspor yang digembar-gemborkan media massa. "Ekspor pangan sedikit saja dipermasalahkan. Kalau di pangan, yang impornya paling besar itu terigu," kata Bayu.

Impor terigu disebutnya menjadi penyumbang defisit terbesar di neraca perdagangan Indonesia, yakni mencapai 5 juta ton per tahun. Untuk mengurangi ketergantungan pada terigu impor, pemerintah telah mengembangkan terigu alternatif seperti dari umbi-umbian.


Sumber : Investor Daily 14 mei 2010, hal. 21

Lampung Timur budi daya Kerapu

Lampung Timur budi daya Kerapu


Kabupaten Lampung Timur membuka investasi budi daya ikan kerapu untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat setiap tahun. "Selama ini pasokan ikan kerapu masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, yang tentu saja belum mencukupi permintaan pasar," kata Kepala Kantor Penanaman Modal Lampung Timur Mulyanda, Kamis.

Dia menjelaskan, potensi perikanan di kabupaten tersebut masih cukup besar, karena dari total lahan perikanan seluas 22.548,05 hektare, yang dimanfaatkan baru 15.909,29 hektare. "Lampung Timur memiliki potensi untuk pengembangan perikanan darat atau air tawar, perikanan perairan umum di wilayah Pantai Timur Sumatra. Potensi pertambakan rakyat yang belum tergarap seluruhnya."

Dia mengatakan pendapatan masyarakat dan devisa negara akan naik jika investasi budi daya ikan kerapu dikembangkan secara maksimal. Apalagi jenis ikan kerapu itu memiliki pangsa pasar yang luas, baik domestik maupun ekspor, (antara)


Sumber : Bisnis Indonesia 14 Mei 20110,hal.i7

EELS - Eerie Or Interesting ? Fresh Water

EELS - Eerie Or Interesting ? Fresh Water
by: Alex Royal


Next to sharks, eels have to be the most feared and misunderstood fish. Eels invoke thoughts of terror and wanton destruction. This may be because eels are similar to snakes, which also get little love and sympathy. Or perhaps this is another result of Hollywood's simplistic portrayal of this fascinating group of animals. In either case, the fear is unwarranted and one can successfully and safely keep eels in a home aquarium with a little planning and research.

While many people associate eels with saltwater aquariums, there are also freshwater eels, which means customers on both sides of the hobby can enjoy owning an eel.

Freshwater Eels

Almost all freshwater eels belongs to the fish family called Anguillidae and are in the genus Anguilla. There are 15 to 20 Anguilla species including the American eel (Anguilla rostrata). Many of these ells are important sources of food and are commercially grown on farms, especially in Europe.

Few of the Anguilla species are available in the aquarium hobby, however. Probably the most common freshwater eels in the hobby are from the genus Mastacembelidae which are not true eels but classified as spiny eels.The fire and the tire track eels are well-known members of this family available to hobbyists.

The fire eel (Mastacembelus erythrotaenia) comes from South Asia (Thailand through Indochina). The fire eels dark gray to dull black and has red and yellow horizontal stripes that extend from the head to the tail and look a bit like the fire flames painted on a hot rod. This coloration is how the eel got its common name.

The fire eel can reach a length of almost 40 inches in the wild, but aquarium specimens are usually much shorter but still large. This fish needs a large tank with a 55-gallon minimum tank size. Water should be a neutral pH and around 76 degrees Fahrenheit.

As with most freshwater eels, the fire eel prefers to dig and hide in the aquarium substrate. The tank should have a soft sand bottom substrate and flat to rounded rocks without sharp edges under which the eels can hide. Lava rock is not a good choice for an aquarium containing eels.

The fire eel is nocturnal, but can be trained to come out during the day to feed. In fact, a trait common to most eels, freshwater and saltwater, is that they can be trained to eat right from the aquarist's hand. However, eels have poor eyesight and it is not unusual for them to literally bite the hand that feeds them. This is not an aggressive behavior, but the result of poor aim on the part of the eel. Good choices for feed include beef heart, worms and cut fish and shrimp.

Another common freshwater eel is the tire track eel (Mastacembelus armatus). This eel grows large and, in many cases, is mean and aggressive. The common name comes from the color pattern on the sides of the fish that resembles the track of a fire. But this fish may run over any fish that gets in its way.

Most aquarium specimens start at about 6 to 10 inches, but they quickly double or triple in size. Chances are they will start looking at tank mates as swimming morsels of food rather than neighbors. This fish will need lot of room-an aquarium at least 75 gallons-and large tank mates.

They don't seem particular about water quality other than the normal values for nitrogenous waste, neutral pH and water temperature in the mid 70s Fahrenheit. Feeding is easy as they will eat most anything such as beef heart, bloodworms, insects, frozen food and cut seafood.

We hope that this guide was of help to you and your hobby.

THANK YOU...

About The Author
Alex has been involved in the pet industry for over 20 years. Starting in a partnership of a full line pet store, until he opened his own store and expended it to 3 locations. His involvement and sponsorship of various pet clubs as well as donations to a variety of rescue organizations, has helped a number of pets and their owners to enjoy a long lasting relationship. As the result, his extensive experience and knowledge of animals and pet supplies is shared through these articles.

The author invites you to visit:
http://www.e-petsbyroyal.com

Alat Pengangkutan Ikan Gurame


Alat Pengangkutan Ikan Gurame


Alat pengangkutan ikan gurame ini adalah berupa kompan plastik yang bagian sisinya dibuka. wadah pengangkutan ikan ini digunakan untuk mengangkut ikan gurame ukuran 5 - 12 cm. 

pengangkutan ikan gurame dengan menggunakan kompan plastik ini sangat praktis dan mudah dioperasionalkan. Bila digunakan untuk pengangkutan, wadah ini biasanya tidak menggunakan 1 atau 2 buah tetapi banyak bisa 10 - 20 buah. 

Kampar Bangun Industri Pengolahan Patin

Kampar Bangun Industri Pengolahan Patin



Pemerintah Kabupaten Kampar. Riau, bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera membangun sentra pengolahan ikan patin berskala besar di daerah itu. Pengembangan industri perikanan berlabel minapolitan tersebut menyinerjikan usaha produksi yang dimulai dari hulu hingga hilir.

"Pengembangan minapolitan itu melibatkan tiga pihak dan KKP bertindak sebagai fasilitator. Investasinya bisa mencapai Rp 145 miliar," kata Direktur Usaha dan Investasi KKP Viktor Nikijuluw kepada Investor Dailyfa Jakarta, Selasa (11/5).Viktor mengatakan, KKP bersama Pemda Provinsi Riau dan Pemda Kabupaten Kampar berniat menjadikan industri pengolahan ikan patin terbesar Tanah Air berada di Kampar. Daerah itu, lanjut Viktor, diketahui sebagai produsen ikan patin terbesar Indonesia saat ini dan telah menjadi eksportir ke AS, Eropa, Timur Tengah, serta beberapa pasar di Asia.

Topografi Kampar juga mendukung karena memiliki banyak sungai, waduk, dan kol?m. Itu sebabnya, melalui pengem-bangan sentra minapolitan, ikan yang dapat dikembangkan di kawasan tersebut tak lagi hanya ikan patin namun juga ikan-ikan lainnya seperti ikan mas, jelawat, nilai, dan baung.Kini, volume produksi ikan secara keseluruhan di Kampar mencapai 60 ton per hari, dan 30 ton (50%) di antaranya adalah ikan patin. Seluruh produsen adalah pembudidaya skala kecil, bukan korporasi. Selain itu, ekspor patin masih dalam bentuk mentah dan belum diolah. Dengan demikian, lanjut Viktor, melalui konsep minapolitan pihak swasta akan dilibatkan dalam pengembangan industri perikanan tersebut

Bupati Kampar Burhanuddin Husin belum lama ini berharap semua pihak mendukung daerahnya menjadi sentra industri ikan patin berskala nasional."Daerah Kampar sangat potensial untuk dibangun pabrik pengolahan ikan patin. Sayang, kalau ikan patin baru bisa diekspor dalam bentuk mentah. Yang paling mudah adalah bisa membangun perusahaan pembekuan fillet patin," kata Burhanuddin.

Bentuk Konsorsium

Sejalan dengan konsep pengembangan sentra minapolitan, Pemda Provinsi Riau, Pemda Kabupaten Kampar dan satu pihak swasta pada tahun 2008 telah membentuk konsorsium berbendera PT (Perseroan Terbatas) Kamparicom. Komposisi kepemilikan di PT Kamparicom meliputi, Pemda Propinsi Riau 24% saham melalui PT Sarana Pembangunan, Pemda Kampar 38%, dan swasta PT Bonecom Budidaya Kampar 38%.

Menurut Viktor, konsorsium PT Kamparicom merencanakan investasi pabrik pengolahan dengan nilai Rp 145 miliar. Pabrik akan dibangun- dalam tiga tahap, yaitu tahap-1 yang diperkirakan akan menghasilkan 30 ton Silet patin per hari, tahap-2 menghasilkan 80 ton fi/letpatin per hari, dan tahap-3 menghasilkan 180 ton fil/etpa-tin per hari. Sementara itu, di sisi hulu yakni produksi PT Kamparicom ber-niat menaikan volume produksi menjadi 1.200 ton per hari.

"Produksi akan ditingkatkan sekian kali lipat melalui konsorsium Kapa-ricom. Waduk, kolam, sungai serta kerambah akan dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa fasilitas pabrik akan dibantu dari KKP yang bertindak sebagai fasilitator," kata Viktor.Konsorsium juga segera membangun lima unit cold storage, masing-masing berkapasitas 20 ton di daerah produsen (pembudidaya). Pembangunan unit pertama bisa diawali pada tahun 2010 melalui dana APBNP-Dit-jen P2HP Cold-storage ini berfungsi agar panen bisa dilakukan tepat waktu, mengurangi biaya produksi sekaligus mendapatkan harga pasar yang wajar.

Pakan dan Harga

Viktor memastikan, produksi industri patin di Kampar dalam jangka panjang selain bisa memenuhi pasar ekspor, namun juga pasar lokal. Di pasar lokal, lanjut Viktor, pasokan ikan patin dari sentra Kampar dipastikan bisa mensubstitusi impor patin yangselama ini menguasai Indonesia yakni dari Thailand dan Vietnam."Industri patin dari Kampar bisa segera mengisi kebutuhan supermarket Tanah Air yang selama ini masih dipasok dari Thailand dan Vietnam." Viktor.

Bupati Kampar Burhanuddin Husin menambahkan, harga ikan patin kini tergolong wajar di kisaran Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram. Selain itu. pakan ikan patin masih bisa dipasok dari industri rumah tangga yang selama ini sudah berjalan baik. Selain diimpor, 50% pakan patin Kampar dipasok dari desa Koto Mesjid dengan harga Rp 3.500 per kg.Bahan utama pakan adalah ikan asin yang diperoleh dari daerah Bagan Siapi-api, dan dedak (bekatul) yang diperoleh dari daerah sekitar. Sentra minapolitan ikan patin Kampar meliputi Sentra Kampung Patin Desa Koto Masjid. PLTA Koto Panjang Desa Ranah, Kecamatan AirTiris, dan Kampung Ikan Jelawat. Sejumlah sentra itu akan bernaung di bawah konsorsium PT Kamparicom milik pemda dan swasta setempat. Qjr)


Sumber : Investor Daily 12 Mei 2010,hal.30