Microsporidiasis (Cotton Shrimp Disease)

Microsporidiasis (Cotton Shrimp Disease)

Cause: The Microsporidia of the genera Thelohania, Nosema and Peistophora

Bio - Ecology Pathogens
• Named as cotton shrimp disease and / or shrimp milk.
• Having more than 8 spores in each capsule
• Virtually all penaeid shrimp species was reported the least susceptible to infection one type of parasite microsporidia group, although there are indications of specific local

• low pathogenicity, prevalence rates in a population generally not more than 5% and the resulting mortality was also relatively low


Clinical symptoms:
• Parts of the body of infected shrimp white milk and more soft
• white spores spread on the meat / muscle (internal parasites)
• Shrimp weak, easy to stress, decreased appetite, making it easy prey to predators sluggish, and easily die after handling (handling)

Diagnosis:
• Visual observation of behavior and clinical symptoms are quite clear
• Microscopic observation to see the morphology of microsporidia by making preparations for review of target organ infection. The observation that more clear on the characteristics of spores required specific staining.

Control:
• disinfection, drying of pond bottom and water sources that are free of microsporidia
• Shrimp are infected immediately destroyed, in order to reduce the potential for horizontal transmission
• To cut the parasite's life cycle, avoiding the feeding of trash fish infected with microsporidia
• No chemicals are effective for preventing and / or treat diseases microsporidiasis.

source : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dirjen. Perikanan Budidaya, 2010

Ikan Gabus Bahan Dasar Pempek Sudah Dapat Dibudidayakan

Ikan Gabus Bahan Dasar Pempek Sudah Dapat Dibudidayakan PDF Print E-mail

Siapa yang tidak kenal dengan Pempek. Makanan khas Sumatera Selatan yang sangat terkenal. Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Palembang, ibukota Sumatera Selatan, jika pulang tidak membawa oleh-oleh pempek. Pempek sebenarnya bahan dasarnya adalah segala jenis ikan yang kemudidan digiling halus untuk dijadikan adonan. Bahan dasarnya yang sering digunakan adalah ikan belida. Namun dengan semakin menipisnya stok belida di pasaran maka sekarang para pembuat pempek beralih ke ikan gabus. Pertimbangannya karena ikan gabus masih dapat ditemui di pasaran, dagingnya putih bersih dan rasanya enak. Jadi tidaklah salah kalau kemudian ikan gabus menjadi pengganti ikan belida sebagai bahan dasar dalam pembuatan pempek.

Ikan gabus sendiri adalah ikan asli dari perairan Indonesia yang sering terdapat di sungai, rawa-rawa, waduk dan perairan lainnya yang airnya relatif tenang. Ikan gabus sebetulny sangat meresahkan para pembudidaya ikan karena ia termasuk dalam kategori ikan predator atau pemakan ikan lainnya. Namun seiring dengan semakin banyaknya permintaan akan ikan gabus maka mulai banyak dikembangkan oleh para pembudidaya terutama didaerah kalimantan yang notabene perairannya sangat cocok untuk budidaya ikan gabus ini.

Secara morfologi ikan gabus adalah ikan air tawar yang cukup besar, tenang tapi lincah dan memiliki pertumbuhan yang dapat mencapai panjang 1 m. Kepalanya besar gepeng menyerupai ular dan memiliki sisik-sisik besar di atas kepala dengan tubuh bulatgilig memanjang. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya dan mempunyai 4-5 sisik diantara gurat sisi dan bagian jari-jari sirip punggung bagian depan. Sisi atas tubuh dari kepala hingga ke ekor– berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar, tajam dan tidak ada gigi bentuk taring pada vomer dan palatine. Ikan gabus memiliki bentuk ekor Diphycercal.

Ikan gabus memiliki banyak nama lain, yaitu aruan, haruan, kocolan, bogo, bayong, bogo, licingan, kutuk, dan lain-lain. Secara taksonomi ikan gabus masuk dalam famili chanidae. Berikut lengkapnya :

  • Kerajaan : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Kelas : Actinopterygii
  • Ordo : Perciformes
  • Famili : Channidae
  • Genus : Channa
  • Spesies : C. striata

Perbedaan antara ikan gabus jantan dan betina dapat dililhat dari bentuk tubuhnya. Selengkap dapat dilihat pada tabel berikut :

Teknik budidaya ikan gabus sendiri tidaklah sulit. Balai Besar Budidaya Air tawar Mandiangin, Kalimantan Selatan telah berhasil membudidayakan ikan gabus yang disana dikenal dengan nama ikan haruan. Pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan induk jantan yang sudah berbobot 1 kg dan induk betina. Pemijahan dilakukan di bak beton dengan ukuran 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m kemudidan keringkan air selama 3 – 4 hari. Setelah dikeringkan 3 – 4 hari masukkan air setinggi 50 cm dan biarkan airnya mengalir selama waktu pemijahan. Masukkan enceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak untuk merangsang pemijahan. Kemudian masukkan induk jantan dan betina sebanyak masing-masing 30 ekor dan biarkan terjadi pemijahan. Lakukan pengontrolan setiap hari untuk mengetahui apakah telah terjadi pemijahan atau belum. Pemijahan telah terjadi jika ada telur yang mengapung di permukaan. Ambil telur menggunakan skupnet halus. Penetasan telur dilakukan di akuarium dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm. Keringkan air dalam bak beton selama 2 hari kemudian isi air setinggi 40 cm. Pasang duah buah aerasi dan selalu hidupkan selama pemijahan. Pasang juga pemanas air hingga bersuhu 28 derajat celcius. Telur dimasukkan dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm. Telur akan menetas selama 24 jam. Larva mulai diberi pakan berupa nauplii artemia ketika telah berumur 2 hari dengan frekuensi 3 kali sehari. Setelah umur 5 hari diberikan pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari. Penyiponan dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kualitas air. Pendederan dilakukan di kolam tanah denga ukuran 200 m2. Keringkan kolam selama 4 – 5 hari. Buat kemalir dengan ukuran lebar 40 cm dan tinggi 10 cm. Ratakan dasar kolam dan diberi kotoran ayam. Isi air setinggi 40 cm dan biarkan selama 5 hari. Kemudian tebarkan larva sebanyak 4000 ekor pada pagi hari. Untuk mengetahui lebih lengkapnya tentang cara budidaya ikan gabus dapat berkonsultasi dengan Balai Besar Budidaya Air Tawar Mandiangin Kalimantan Selatan yang alamat kontaknya dapat dilihat di halaman ”UPT” pada website ini.

Pengembangan budidaya ikan gabus ini sangat menjanjikan karena selain untuk memenuhi permintaan warung-warung makan dan konsumsi rumah tangga, ikan ini sekarang sudah mulai dijadikan bahan dasar dalam pembuatan pempek palembang yang sangat terkenal itu dikarenakan ikan belida yang selama ini menjadi bahan dasar pembuatan pempek sudah mulai berkurang. Permintaan ikan gabus akan meningkat dengan telah tersedia pasar untuk menjual ikan gabus ini.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Myxosporidiasis (Penyakit Gembil)

Myxosporidiasis (Penyakit Gembil)

Penyebab : Myxosporea dari genera Myxobolus, Myxosoma, Thelohanellus, dan Henneguya


Bio — Ekologi Patogen :
• Myxosporea berbentuk seperti buah pir atau biji semangka
(kwaci), terbungkus dalam kista yang berisi ribuan spora.
• Memiliki vakuola yang disebut vakuola iodinophilous yang menjadi pembeda dua genera Myxosporea, yaitu Myxosoma (tanpa vakuola iodinophilous) dan Myxobolus (dengan vakuola iodinophilous).
• Spora yang dimakan oleh inang dan masuk ke dalam usus akan pecah mengeluarkan sporoplasma, dan bergerak secara amoeboid masuk dalam sirkulasi darah dan terbawa ke organ target infeksi,

• Inang umumnya jenis-jenis ikan dari kelompok cyprinidae, labirinth dan salmonidae. Di Indonesia, jenis ikan yang sering terinfeksi myxosporea antara lain benih ikan mas, tawes, sepat. gurame dan tambakan.
• Prevalensi serangan bervariasi dari rendah sampai sedang dengan mortalitas berpola kronis

Gejala Klinis :
• Menginfeksi jaringan ikat tapis insang, tulang kartilag, otot/daging, dan beberapa organ dalam ikan (terutama benih).
• Terlihat benjolan putih seperti tumor berbentuk bulat-lonjong menyerupai butiran padi pada insang ikan
• Pada infeksi berat. tutup insang (operkulum) tidak dapat
menutup sempurna. sirip ekor bengkok dan berwarna gelap
• Bengkak-bengkak/gembil di bagian tubuh (kanan/kiri), struktur tulang yang tidak normal
• Berenang tidak normal. berdiam di dasar dan akhirnya mati.

Diagnosa :
• Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang cukup jelas
• Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi myxosporidia melalui pembuatan preparat ulas dari organ target infeksi. Pengamatan yang lebih jelas terhadap karakteristik spora diperlukan pewarnaan yang spesifik.


Pengendalian :
• Persiapan kolam (pengeringan dan desinfeksi kolam) untuk memutus siklus hidup parasit.
• Ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan
• Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi parasit
• Pengendapan yang dilengkapi dengan filtrasi fisik (batu, ijuk, kerikil dan pasir)
• Belum ada bahan kimia yang efektif untuk mengobati penyakit ini.

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dirjen. Perikanan Budidaya,2010

Arwana si Ikan Naga (Dragon Fish)

Arwana si Ikan Naga (Dragon Fish) PDF Print E-mail

Ikan arwana termasuk salah satu primadona ikan hias. Ikan ini bagi sebagian orang terutama orang tionghoa dianggap sebagai pembawa hoki atau keberuntungan bagi yang memilikinya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika ikan ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi di pasar ikan hias. Harganya bisa mencapai jutaan bergantung pada keelokan dan keindahan warnanya. Semakin indah dan elok maka semakin mahal harganya.

Ikan arwana masuk dalam kategori satwa langka yang dilindungi di Indonesia. Arwana juga digolongkan dalam kategori ikan primitive dan diyakini sebagai ikan purbakala yang telah berevolusi selama lebih dari 10 juta tahun yang lalu. Fosil-fosil yang ditemukan dan mirip dengan ikan arwana ditemukan diberbagai tempat dan diduga berumur berkisar antara 10 – 60 juta tahun yang lalu. Hal ini membuktikan bahwa ikan arwana berumur panjang dan tidak punah dengan perubahan zaman ke zaman.

Ikan arwana memiliki banyak nama lain antara lain ikan naga, siluk, barramundi, kayangan, peyang dan lain-lain. Secara taksononomi ikan arwana masuk dalam kategori famili ikan “karuhun” yaitu Osteoglasidae atau famili ikan lidah bertulang (bony-tongue) dikarenakan bagian dasar mulutnya berupa tulang yang digunakan sebagai gigi.

Berikut Klasifikasi Ilmiah Ikan Arwana :

  • Kerajaan : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Kelas : Actinopterygii
  • Ordo : Osteoglossiformes
  • Famili : Osteoglossidae
  • Genus : Scleropages

Ikan arwana termasuk golongan karnivora bersifat predator, memiliki tubuh yang memanjang, ramping dan “stream line”. Letak sirip dubur berada jauh di belakang badan. Bentuk tubuh dengan penampilan yang cantik, unik dan memiliki warna yang sangat mengagumkan. Variasi warna tubuhnya mulai dari warna hijau, perak dan merah. Sisiknya besar dengan susunan yang harmonis menambah keindahan ikan tersebut. Sungut yang berfungsi sebagai sensor getaran untuk mengetahui posisi mangsanya terletak di bagian mulutnya yang berjumlah dua buah. Sungut tersebut merupakan salah satu kriteria penilaian tentang keindahan seekor ikan arwana. Bentuk mulut arowana mengarah ke atas. Ukuran mulutnya lebar dan rahangnya cukup kokoh. Giginya berjumlah 15-17 buah.

Ikan arwana merupakan salah satu ikan hias dengan ukuran besar. Panjang arwana dewasa sangat bervariasi, antara 30-80cm. Dalam akuarium ikan arwana mencapai panjang 60 cm, sementara di alam ikan arwana dapat berkembang sampai mencapai panjang 90 cm. Untuk jenis tertentu seperti ikan arwana yang berasal dari amerika selatan dapat mencapai ukuran hingga 270 cm. Untuk itulah, tidak semua orang senang memeliharanya karena membutuhkan tempat yang sangat besar berbeda dengan beberapa ikan hias lain yang berukuran mini.

Ikan arwana termasuk ikan dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Ikan arwana termasuk dalam kategori sebagai predator karena itu dapat memakan ikan-ikan yang lebih kecil darinya dan memiliki tubuh memanjang, lunak & tidak berduri. Makanan yang sering diberikan untuk arwana antara lain adalah serangga, jangkrik, udang tawar, kodok, kelabang, kadal, belalang, ulat dan cicak. Ikan arwana pada dasarnya bukan ikan pemilih dalam hal makanan. Ikan ini memakan segala jenis pakan untuk ikan karnivora tapi dalam keadaan tertentu hanya menyukai salah satu jenis pakan saja.

Membedakan ikan arwana jantan dan betina memang agak sulit dilakukan tapi masih mungkin dibedakan secara visual dengan melihat bentuk mulut, bentuk pipi dan bentuk tubuhnya. Secara detail dapat dilihat pada tabel berikut :

Menurut Allen et. al. (2000 dalam [2]), arowana hidup di sungai dengan dasar berbatu-batu, danau, rawa dan perairan umum yang berarus sedang atau lambat. Mampu hidup di perairan yang sedikit asam (pH 4-6). Pada fase perkembangbiakan, arowana mempunyai kebiasaan menjaga anaknya dalam mulut (mouth breeder). Fekunditas ikan ini berkisar antara 20-60 butir telur yang erat kaitan dengan umur ikan. Pengeraman telur dan mengasuh anak berlangsung antara 1-2 bulan. Anakan arowana mempunyai kuning telur yang akan diserap sebagai makanan dalam waktu 1 bulan sampai ukuran 6-7 cm, setelah itu dilepas induknya karena dianggap sudah dapat mencari mangsa sendiri. Arowana dewasa dikenal hidup menyendiri dan agresif menyerang untuk berkelahi. Arowana aktif berenang di permukaan air pada malam hari untuk mencari mangsa, sedangkan pada siang hari cenderung tinggal di dasar perairan.

Habitat ikan arwana sendiri, pada tepian sungai yang ditumbuhi pepohonan yang memiliki akar dasar sungai tetapi dedaunannya rimbun. Karena itu, ikan ini banyak ditemui di Kalimantan Barat, tepatnya banyak dijumpai di Kabupaten Kapuas Hulu Kecamatan Slimbau, di daerah banjiran yang banyak hutan rawang dan dasar tanahnya berkapur dan dapat juga di jumpai di Sumatera Selatan di daerah rawa banjiran yang dasar tanahnya bergambut.

Jenis-jenis ikan arwana antara lain adalah arwana merah dengan 4 varietasnya (Merah darah, merah cabai, merah orange, dan merah emas), arwana golden, arwana hijau, arwana banjar dan arwana jardini. Jenis arwana yang saat ini berkembang di Indonesia ada empat jenis, yaitu Arwana Super Red, Arwana Golden, Arwana Jardini/Arwana Perak.

Saat ini ikan arwana sudah dapat dibudidayakan. Walaupun dalam membudidayakannya harus sangat hati-hati. Keadaan air yang tidak baik sedikit saja dapat menyebabkan ikan arwana mati. Ketersediaan oksigen juga perlu diperhatikan karena dapat juga menyebabkan kematian karena itu aerator harus selalu berfungsi dengan baik dan selalu sediakan aki sebagai cadangan jika listrik padam. Diketahui bahwa perkembangan budidaya ikan hias arwana sangat menjanjikan. Beberapa daerah yang sudah dapat membudidayakan ikan arwana antara lain, daerah kalimantan barat, jawa barat seperti bandung dan cianjur dan sumatera. Beberapa pusat penelitian perikanan telah melakukan penelitian terhadap ikan ini yaitu Balai Besar Air Tawat Jambi dan Pusat Riset di Bogor.

Perdagangan ikan hias pun sangat menjanjikan termasuk di dalamnya ikan hias arwana. Tujuan perdagangan ikan hias arwana terutama ke negara singapura, taiwan, jepang, hongkong dan korea. Jika di lihat dari daerah tujuannya memang dapat disimpulkan bahwa yang membeli adalah negara yang ada etnis tionghoanya, yang mereka masih mempercayai bahwa ikan arwana sebagai pembawa keberuntungan.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id


Budidaya Ikan Arwana

Budidaya Ikan Arwana PDF Print E-mail

Teknik budidaya ikan arwana sendiri sebenarnya tidaklah sulit hanya saja memang dibutuhkan ketelitian dan ketekunan yang tinggi karena ikan arwana harus selalu dijaga kondisi air, oksigen dan pakannya. Ikan ini dapat dikembangbiakkan di wadah budidaya seperti akuarium atau kolam.

Kualitas air yang selalu terjaga baik menjadi tuntutan dalam budidaya ikan ini. PH air untuk budidaya arwana sebenarnya sangat lebar tapi lebih disarankan untuk memudahkan pemeliharaannya PH airnya disesuaikan dengan kondisi air pada kondisi sebenarnya di alam yaitu PH 6,8 – 7,5 dan suhu 27 – 29 C. Sedangkan penggantian air untuk menjaga kualitas air, dilakukan sebanyak 30 – 34 % dari total volume dengan air deklorinisasi. Penggantian air perlu dilakukan apalagi jika kondisi setelah hujan karena air hujan dapat mengakibatkan perubahan mendadak pada kualitas air.

Pemberian pakan pada arwana sebaiknya diberikan pakan bervariasi yang mengandung protein sangat tinggi. Pakan untuk induk arwana dapat diberikan berupa ikan/udang rucah ditambah dengan pellet dengan kadar protein 32 %. Pemberian pakan ini dilakukan setiap hari dengan ketentuan 2% dari berat total tubuhnya.

Kematangan gonad akan terjadi pada saat umur ikan arwana berumur 4 tahun dan sudah mencapai panjang 45 – 60 cm. Pemijahan akan terjadi sepanjang tahun. Puncak pemijahan akan terjadi antara bulan Juli dan bulan Desember. Ketika telah terjadi pemijahan maka induk jantan akan menjaga telur tersebut di dalam mulutnya selama 2 bulan. Untuk melepaskan telur yang ada dalam mulut induk jantan arwana, tarik secara perlahan dan hati-hati bagian bawah mulut arwana kemudian tekan ringan bagian tubuhnya. Larva dikumpulkan untuk kemudian diinkubasi.

Masa inkubasi dengan cara ini lebih pendek dibandingkan dengan masa inkubasi normal yang dapat mencapai 8 minggu. Inkubasi dilakukan di dalam akuarium berukuran 45x45x90 cm dengan temperatur air 27 – 29 derajat celcius dan kadar oksigen terlarut 5 ppm. Untuk mencegah adanya infeksi pada saat penanganan larva dapat digunakan larutan Acriflavine 2 ppm. Selama periode inkubasi ini larva tidak perlu diberi pakan. Pakan larva sendiri didapat dari kuning telur yang akan habis pada minggu ke delapan. Setelah itu, larva harus diberi pakan hidup pertama untuk mencegah larva saling makan. Pada saat ini larva sudah dapat berenang bebas.

Pakan hidup yang diberikan bisa berupa cacing darah atau anakan ikan yang ukurannya sesuai dengan ukuran mulut ikan arwana tersebut. Ketika larva telah mencapai ukuran 10 – 12 cm diberikan pakan berupa udang air tawar kecil untuk mengimbangi kecepatan tumbuhnya.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id



Perkembangan Perekayasaan Pemuliaan Induk Udang Windu di BBPBAP - Jepara

Perkembangan Perekayasaan Pemuliaan Induk Udang Windu di BBPBAP - Jepara

Kegiatan produksi calon induk udang windu merupakan rangkaian proses domestikasi dan pemuliaan untuk menghasilkan induk unggul. Program domestikasi adalah langkah atraktif yang harus ditempuh untuk menghasilkan benih unggul yang berasal dari induk unggul setelah perbaikan system budidaya tidak mampu menjadi solusi dalam mengatasi masalah penyakit. Meski lambat dimulai dibandingkan dengan vaname, proses domestikasi telah menghasilkan beberapa acuan baik dari sisi genetic engineering maupun pola seleksi konvensional untuk membuat sebuah broodstock center udang windu. Pada saat sekarang program seleksi telah mengasilkan generasi ke – 4, dengan masing – masing masa pemeliharaan selama 18 bulan untuk setiap generasi. Perbaikan kualitas utamanya kemampuan bereproduksi menjadi target perekayasaan untuk tahun – tahun mendatang. Perekayasan akan lebih difokuskan pada perbaikan nutrisi maupun kesesuaian media pemeliharaan termasuk penerapan biosekuriti yang lebih sempurna. Tujuan akhir dari proses domestikasi adalah induk bebas penyakit yang dapat mengasilkan benih yang dapat tumbuh cepat. Guna mengakselerasi pencapaian hasil telah terbentuk sebuah jaringan yang beranggotakan beberapa UPT Pusat DJPB (BBPBAP Jepara, BBAP Takalar, BBAP Ujung bate) yang didukung oleh Balai Riset Perikanan Budidaya (Gondol, Maros). Balai riset akan lebih banyak mendukung pada porsi engineering genetic termasuk mendapatkan gen marker untuk sifat tumbuh cepat serta trans genik untuk sifat WSSV resisten. Pada akhirnya hasil dari kegiaatan seleksi konvensional dan genetic engineering akan dipadukan untuk mendapatkan sebuah produk dengan kategori unggul.

Strategi pemuliaan


Calon induk windu F-4 yang dihasilkan saat ini berasal dari seleksi induvidu yang dimulai dari generasi I, II dan III. Populasi dasar yang digunakan adalah populasi yang berasal dari beberapa daerah penangkapan dengan keragaman genetik lebih tinggi. Dari beberapa populasi itulah, kemudian di”blending” untuk mendapatkan populasi dasar. Sejumlah proses termasuk kegiatan koleksi induk, karakterisasi dan inventarisasi sumber daya genetik dan koleksi kandidat terpilih dipertimbangkan untuk mendapatkan populasi dasar. Setidaknya terdapat lima sistem seleksi yang disepakati yakni seleksi individu, famili, super Health, Survivor dan Hibridisasi, namun baru seleksi individu yang dilaksanakan karena ketersediaan fasilitas yang masih dalam pembenahan.

Hasil Kegiatan

Pembesaran calon induk dari generasi pertama hingga ke 4 dilakukan di tambak dengan sistem berpindah. Secara keseluruhan lingkungan tambak yang digunakan dengan penerapan “farm level biosecurity” mampu mendukung sistem pemeliharaan terututama dalam hal mengeleminasi peluang masuknya organisme pathogen. Dari sisi pertumbuhan calon induk, sistem yang digunakan dapat mendorong tingkat pertumbuhan dengan rata – rata ADG sekitar 0.3 pada setiap generasi. Kualitas induk yang dihasilkan lewat proses domestikasi masih lebih rendah dari induk alam bila dibandingkan dengan tolok ukur respon terhadap ablasi, fekunditas serta daya tetas telurnya. Respon terhadap ablasi lebih lambat, terlihat dari jumlah hari yang dibutuhkan untuk matang gonad setelah ablasi. Fekunditas rata-rata per ekor induk berkisar 300.000 butir untuk ukuran induk 150 gram pada setiap generasi.


Gambar 1. Penampilan induk windu hasil domestikasi

Tidak adanya perbedaan fekunditas lebih disebabkan oleh penggunaan calon induk dengan berat tubuh sepadan. Daya tetas telur pada generasi ke dua dan ke tiga jauh lebih tingi dibandingkan dengan generasi pertama. Belum diketahui secara pasti apakah terdapat pengaruh generasi atau efek dari pengelolaan pakan ataupun lingkungan yang lebih baik.


Gambar 1. Daya tetas telur windu hasil domestikasi pada setiap generasi.

Terlihat hal yang berbeda cukup nyata pada hasil pemeliharaan larva hingga stadia PL-12. Peningkatan kelangsungan hidup larva dari telur yang dihasilkan terjadi pada setiap generasi. Pada penggunaan induk generasi I kelangsungan hidup larva tercatat hanya sekitar 10 %, dan meningkat menjadi 25% dan 55% pada penggunaan induk generasi ke dua dan tiga. Pengaruh seleksi juga terlihat dari pertumbuhan benih yang dhasilkan bila dibandingkan dengan benih non-seleksi.


(a) (b)

Gambar 2. Kelangsungan hidup larva dari induk hasil domestikasi yang terlihat meningkat setiap generasi (a); Perbandingan pertumbuhan benih dari induk non seleksi (NS) dan induk hasil domestikasi serta seleksi (S) pada 3 bulam pertama masa pemeliharaan di tambak (b).

Sumber : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau - Jepara

Microsporidiasis (Cotton Shrimp Disease)

Microsporidiasis (Cotton Shrimp Disease)

Penyebab : Microsporidia dari genera Thelohania, Nosema dan Peistophora

Bio — Ekologi Patogen
• Disebut sebagai penyakit udang kapas dan/atau udang susu.
• Memiliki lebih dari 8 spora dalam tiap kapsul
• Hampir semua jenis udang penaeid dilaporkan paling sedikit rentan terhadap infeksi salah satu jenis dari parasit golongan microsporidia, meskipun ada indikasi lokal spesifik

• Patogenisitas rendah, tingkat prevalensi dalam satu populasi umumnya tidak lebih dari 5% dan mortalitas yang diakibatkannya juga relatif rendah


Gejala klinis :
• Bagian tubuh udang yang terinfeksi berwarna putih susu dan lebih lunak
• Spora yang berwarna putih menyebar di bagian daging/otot (internal parasite)
• Udang lemah, mudah stress, nafsu makan menurun, lamban sehingga mudah dimangsa predator, serta mudah mati setelah penanganan (handling)

Diagnosa :
• Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang cukup jelas
• Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi microsporidia melalui pembuatan preparat ulas dari organ target infeksi. Pengamatan yang lebih jelas terhadap karakteristik spora diperlukan pewarnaan yang spesifik.

Pengendalian :
• Desinfeksi, pengeringan dasar tambak dan sumber air yang bebas dari microsporidia
• Udang yang terinfeksi segera dimusnahkan, untuk mengurangi potensi penularan secara horizontal
• Untuk memotong siklus hidup parasit, hindari pemberian pakan berupa ikan rucah yang terinfeksi microsporidia
• Tidak ada bahan kimia yang efektif untuk mencegah dan/atau mengobati penyakit microsporidiasis.

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dirjen. Perikanan Budidaya, 2010