Teknologi Budi Daya ikan Nilem
Teknologi budi daya nilem tidak berkembang terlalu pesat seperti jenis ikan lainnya. Pasalnya, ikan ini mudah memijah secara alami di kolam budi daya, sehingga tidak diperlukan upaya khusus dalam kegiatan pemijahannya. Pemeliharaan nilem umumnya dilakukan secara tradisional di kolam-kolam budi daya di daerah dataran tinggi. Belum ada pembudidaya yang memelihara nilem di sawah atau di KJA.
Dalam pembudidayaan dan perkembangbiakannya, nilem menyukai perairan yang airnya bersih, jernih, dan mengalir perlahan. Khusus di Jawa Barat, pembenihan dilakukan dengan tiga cara, yaitu ala Tarogong, ala Galunggung, dan ala Nagrek. Teknik pemijahannya dilakukan secara massal, yaitu ke dalam kolam seluas 300 m2 dimasukkan induk sebanyak 100 pasang. Induk ini akan memijah secara alami, terutama jika kolam pemijahannya banyak ditumbuhi tanaman air.Telur yang telah menetas menjadi larva akan berkembang dan tumbuh dengan baik jika di kolam pemijahan tersedia pakan alami berupa plankton.
Sementara itu, pembesaran nilem dapat. dilakukan di kolam khusus pembesaran yang telah diberi pupuk organik (pupuk kandang) Untuk menumbuhkan pakan alami. Benih yang digunakan untuk pembesaran berukuran 3-5 cm. selama pembesaran benih nilem diberi pakan buatan berupa dedak halus atau hancuran pelet. Para pembudidaya nilem di jawa Barat biasa melakukan pembesaran nilem dengan sistem longyam atau balong hayam, pemeliharaan ikan bersama ayam). Setelah dipelihara selama 4 bulan, ukuran nilem sudah mencapai 30 ekor per kg dan siap dipanen serta dipasarkan sebagai ikan konsumsi.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008
Nilem (Osteochilus hasselti)
NILEM
Nilem (Osteochilus hasselti) banyak dipelihara terutama oleh peternak di Sumatera (khususnya Sumatera Barat) dan di daerah Priangan jawa Barat). Di habitat aslinya,ikan ini banyak ditemukan hidup liar di perairan umum terutama di sungai-sungai yang berarus sedang dan berair jernih. Selain itu, juga bisa ditemui hidup di rawa-rawa. Nilem terkenal memiliki rasa daging dan telur sangat gurih. Di daerah Sumatera, ikan ini sering diolah dengan cara dipanggang atau dipangek berikut telurnya.
Klasifikasi
Phyllum: Cordata
Kelas: Pisces
Ordo: Ostariphysii
Famili: Cyprinidae
Genus: osteochilus,
Species: osteochilus hasselti,
Nama Asing: nilem carp, silver shrakminnow
Nama Lokal: nilem atau wader jawa), ikan pawas atau palau (Sumatera), payau atau pujan (Kalimantan)
b. Ciri MorUogi
Bentuk tubuh nilem memanjang dan pipih. Terdapat dua pasang sungut di kepalanya. Warna perut kemerahan dan warna punggungnya cokelat kehijauan.Warna sirip ekor, dubur, dan perut kemerahan. Ukuran tubuh ikan dewasa maksimum mencapai panjang 35 cm.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, Agromedia Pustaka, 2008
Nilem (Osteochilus hasselti) banyak dipelihara terutama oleh peternak di Sumatera (khususnya Sumatera Barat) dan di daerah Priangan jawa Barat). Di habitat aslinya,ikan ini banyak ditemukan hidup liar di perairan umum terutama di sungai-sungai yang berarus sedang dan berair jernih. Selain itu, juga bisa ditemui hidup di rawa-rawa. Nilem terkenal memiliki rasa daging dan telur sangat gurih. Di daerah Sumatera, ikan ini sering diolah dengan cara dipanggang atau dipangek berikut telurnya.
Klasifikasi
Phyllum: Cordata
Kelas: Pisces
Ordo: Ostariphysii
Famili: Cyprinidae
Genus: osteochilus,
Species: osteochilus hasselti,
Nama Asing: nilem carp, silver shrakminnow
Nama Lokal: nilem atau wader jawa), ikan pawas atau palau (Sumatera), payau atau pujan (Kalimantan)
b. Ciri MorUogi
Bentuk tubuh nilem memanjang dan pipih. Terdapat dua pasang sungut di kepalanya. Warna perut kemerahan dan warna punggungnya cokelat kehijauan.Warna sirip ekor, dubur, dan perut kemerahan. Ukuran tubuh ikan dewasa maksimum mencapai panjang 35 cm.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, Agromedia Pustaka, 2008
Nila TA, Nila Nirwana, Nila Gesit
Nila TA
Nila TA tergolong jenis nila baru, sehingga belum banyak dikenal secara luas oleh masyarakat. Selain belum tersebar ke berbagai daerah, informasi. tentang nila TA juga masih sedikit. Bentuk tubuhnya sangat mirip dengan nila Gift. Hanya saja, jumlah garis-garis vertikal di tubuh dan garis-garis di ujung sirip punggung nilaTA lebih sedikit dibandingkan dengan nila Gift. Selain itu, di bagian tepi sirip punggung dan ekor nila TA yang berkelamin jantan terdapat garis tepi berwarna merah.
Nila Nirwana
Nila nirwana (nila ras wanayasa) merupakan jenis ikan nila hasil pemuliaan genetik. Pemuliaan berlangsung selama 3 tahun (2003-2006) di Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, Purwakarta bekerjasama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Nila Nirwana dirilis pada 15 Desember 2006 oleh Dirjen Budi Daya melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Nila nirwana merupakan hasil seleksi famili dari ikan nila gift (genetic improvement farm tilapia) dan nila get (genetically enchanted tilapia) dari Filipina. Untuk menghasilkan nila nirwana, dilakukan seleksi menggunakan metode `seleksi famili' terhadap 18 famili nila gift dan 24 famili nila get. seleksi ini dilakukan secara ketat terhadap benih-benih yang dihasilkan dari jenis ikan nila gift dan nila get. Proses seleksi dimulai dari pencarian bakal induk yang baik, lalu dipijahkan.
Benih-benih yang dihasilkan selanjutnya diseleksi secara ketat terkait
performa kesempurnaan tubuh dan pertumbuhannya. Dari 500 ekor benih yang dihasilkan oleh setiap pasang famili yang diseleksi, diperolch 10 pasang yang layak dijadikan great grand parent stock (GGPS). GGPS yang dinamakan nila nirwana. Dari GGPS ini diperoleh induk dasar atau grand parent stock (GPS) yang akan menghasilkan induk sebar atau parent stock (PS). PS ini merupakan induk akhir yang menghasilkan benih sebar untuk kebutuhan para pembudidaya.
Keunggulan nila nirwana terletak pada kecepatan pertumbuhannya. pertumbuhan bobot nila nirwana meningkat sekitar 45% pada generasi ke-3 (F3) dibandingkan dengan generasi awalnya. Pemeliharaan sejak larva hingga berbobot di atas 650 gram per- dapat dicapai hanya dalam waktu 6 bulan (waktu ini lebih cepat dibandingkan dengan jenis nila lainnya). Selain itu, bentuk tubuh nila nirwana relatif lebih lebar dengan panjang kepala yang lebih pendek. Hal ini menjadikannya memiliki truktur daging yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis nila lainnya.
Nilla Gesit
Nila gesit (genetically supermale Indonesia tilapia) merupakan jenis nila hasil pemuliaan yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Tawar (BBPBAT–DKP) Sukabumi bekerjasama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Ikan nila gesit adalah ikan nila jantan dengan kromosom sex YY yang dibuat dengan metode rekayasa kromosom sex ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Pemuliaan memerlukan waktu sekitar 6 tahun di kolam percobaan IPB, darmaga (2001-2004) dan di BBPBAT (2002-2006).
Pemuliaan ikan nila untuk menghasilkan nila gesit ini diarahkan untuk memproduksi benih ikan nila monosex jantan (nila pejantan saja). Ini didasari pemikiran bahwa untuk jenis ikan nila, ikan yang berkelamin jantan tumbuh lebih cepat sekitar 50% dibandingkan dengan yang berkelamin betina. Dengan penyediaan benih monosex jantan, diharapkan terjadi peningkatan produktivitas ikan secara nyata.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008
Nila TA tergolong jenis nila baru, sehingga belum banyak dikenal secara luas oleh masyarakat. Selain belum tersebar ke berbagai daerah, informasi. tentang nila TA juga masih sedikit. Bentuk tubuhnya sangat mirip dengan nila Gift. Hanya saja, jumlah garis-garis vertikal di tubuh dan garis-garis di ujung sirip punggung nilaTA lebih sedikit dibandingkan dengan nila Gift. Selain itu, di bagian tepi sirip punggung dan ekor nila TA yang berkelamin jantan terdapat garis tepi berwarna merah.
Nila Nirwana
Nila nirwana (nila ras wanayasa) merupakan jenis ikan nila hasil pemuliaan genetik. Pemuliaan berlangsung selama 3 tahun (2003-2006) di Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, Purwakarta bekerjasama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Nila Nirwana dirilis pada 15 Desember 2006 oleh Dirjen Budi Daya melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Nila nirwana merupakan hasil seleksi famili dari ikan nila gift (genetic improvement farm tilapia) dan nila get (genetically enchanted tilapia) dari Filipina. Untuk menghasilkan nila nirwana, dilakukan seleksi menggunakan metode `seleksi famili' terhadap 18 famili nila gift dan 24 famili nila get. seleksi ini dilakukan secara ketat terhadap benih-benih yang dihasilkan dari jenis ikan nila gift dan nila get. Proses seleksi dimulai dari pencarian bakal induk yang baik, lalu dipijahkan.
Benih-benih yang dihasilkan selanjutnya diseleksi secara ketat terkait
performa kesempurnaan tubuh dan pertumbuhannya. Dari 500 ekor benih yang dihasilkan oleh setiap pasang famili yang diseleksi, diperolch 10 pasang yang layak dijadikan great grand parent stock (GGPS). GGPS yang dinamakan nila nirwana. Dari GGPS ini diperoleh induk dasar atau grand parent stock (GPS) yang akan menghasilkan induk sebar atau parent stock (PS). PS ini merupakan induk akhir yang menghasilkan benih sebar untuk kebutuhan para pembudidaya.
Keunggulan nila nirwana terletak pada kecepatan pertumbuhannya. pertumbuhan bobot nila nirwana meningkat sekitar 45% pada generasi ke-3 (F3) dibandingkan dengan generasi awalnya. Pemeliharaan sejak larva hingga berbobot di atas 650 gram per- dapat dicapai hanya dalam waktu 6 bulan (waktu ini lebih cepat dibandingkan dengan jenis nila lainnya). Selain itu, bentuk tubuh nila nirwana relatif lebih lebar dengan panjang kepala yang lebih pendek. Hal ini menjadikannya memiliki truktur daging yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis nila lainnya.
Nilla Gesit
Nila gesit (genetically supermale Indonesia tilapia) merupakan jenis nila hasil pemuliaan yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Tawar (BBPBAT–DKP) Sukabumi bekerjasama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Ikan nila gesit adalah ikan nila jantan dengan kromosom sex YY yang dibuat dengan metode rekayasa kromosom sex ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Pemuliaan memerlukan waktu sekitar 6 tahun di kolam percobaan IPB, darmaga (2001-2004) dan di BBPBAT (2002-2006).
Pemuliaan ikan nila untuk menghasilkan nila gesit ini diarahkan untuk memproduksi benih ikan nila monosex jantan (nila pejantan saja). Ini didasari pemikiran bahwa untuk jenis ikan nila, ikan yang berkelamin jantan tumbuh lebih cepat sekitar 50% dibandingkan dengan yang berkelamin betina. Dengan penyediaan benih monosex jantan, diharapkan terjadi peningkatan produktivitas ikan secara nyata.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008
Nila Nifi
Nila Nifi
Nila nifi dikenal juga sebagai nila merah atau nirah. Ada juga yang nyebutnya sebagai mujarah (mujair merah) atau kakap merapi. Warna tubuhnya kemerahan atau kuning agak putih. Pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan nila lokal. Ciri khasnya adalah keturunan yang dihasilkan dominan berkelamin jantan.
Semula ada yang menduga nila merah adalah nila biasa yang mangalami penyimpangan genetika warna tubuh sehingga menjadi albino . Namun dugaan itu ternyata keliru, nila merah adalah varietas tersendiri. Ikan ini kemungkinan merupakan hasil persilangan antara Orechromis mossambicus (mujair) atau Oreochromis niloticus (nila) dengan (Oreochromis honorum, Oreochromis aureus, atau Oreochromis zilii. Dalam perkembangannya nila merah disebut juga dengan nila hibrida. Penamaan ini untuk membedakannya dengan nila lokal, karena nila merah memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat.
Nila merah didatangkan setelah nila lokal. Pertama Kali masuk ke Indonesia pada awal tahun 1981, diimpor oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Setelah itu, nila merah cepat menyebar ke seluruh pelosok tanah air karena penampilannya yang menarik perhatian, baik warna tubuh maupun bentuk tubuhnya yang indah. Di negara lain, ikan ini sangat digemari oleh masyarakat jepang dan Singapura karena ukuran dan berat badannya mirip ikan laut sea bream (sejenis kakap merah), terutama yang berukuran 500 gram per-ekor
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008
Nila nifi dikenal juga sebagai nila merah atau nirah. Ada juga yang nyebutnya sebagai mujarah (mujair merah) atau kakap merapi. Warna tubuhnya kemerahan atau kuning agak putih. Pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan nila lokal. Ciri khasnya adalah keturunan yang dihasilkan dominan berkelamin jantan.
Semula ada yang menduga nila merah adalah nila biasa yang mangalami penyimpangan genetika warna tubuh sehingga menjadi albino . Namun dugaan itu ternyata keliru, nila merah adalah varietas tersendiri. Ikan ini kemungkinan merupakan hasil persilangan antara Orechromis mossambicus (mujair) atau Oreochromis niloticus (nila) dengan (Oreochromis honorum, Oreochromis aureus, atau Oreochromis zilii. Dalam perkembangannya nila merah disebut juga dengan nila hibrida. Penamaan ini untuk membedakannya dengan nila lokal, karena nila merah memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat.
Nila merah didatangkan setelah nila lokal. Pertama Kali masuk ke Indonesia pada awal tahun 1981, diimpor oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Setelah itu, nila merah cepat menyebar ke seluruh pelosok tanah air karena penampilannya yang menarik perhatian, baik warna tubuh maupun bentuk tubuhnya yang indah. Di negara lain, ikan ini sangat digemari oleh masyarakat jepang dan Singapura karena ukuran dan berat badannya mirip ikan laut sea bream (sejenis kakap merah), terutama yang berukuran 500 gram per-ekor
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008
perbedaan Nila Biasa (nila lokal) dengan Nila GIFT
Jenis - jenis Nila
Ada banyak jenis nila. Sebagian besar banyak ditemukan di perairan timur Afrika dan sebagian lain tersebar di berbagai negara. Dari berbagai jenis nila yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan nila yang produktif dan banyak dibudidayakan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis nila tersebut adalah nila lokal, nila gift, dan nila merah. Jenis lain yang tergolong nila varietas baru adalah nilaTA. Berikut ini pemaparan lengkap berbagai jenis nila.
I. Nila Biasa (Lokal)
Nila biasa merupakan jenis nila yang pertama Kali didatangkan dari Taiwan ke Indonesia. Setelah melalui serangkaian uji coba nila ini disebarluaskan ke masyarakat dan dalam waktu singkat sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air.
Begitu akrabnya masyarakat kita dengan nila jenis ini, tidak mengherankan jika ada yang menyebutnya dengan nama nila lokal. jenis nila inilah yang pertama kali disebut sebagai "nila" dan namanya ditetapkan oleh Direktur jenderal Perikanan pada tahun 1972 julukan sebagai nila biasa atau lokal ditujukan untuk membedakannya dengan jenis nila merah dan nila gift yang merupakan pendatang baru.
Nila lokal memiliki warna tubuh abu-abu atau hitam, terutama di tubuh bagian atas.Tubuh bagian bawah (perut dan dada) berwarna agak putih kehitaman atau kekuningan. AwaInya, nila lokal memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik, tetapi akhir-akhir ini kualitasnya menurun akibat keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam mengendalikan potensi genetisnya Akibatnya, kualitas genetis keturunannya pun ikut menurun. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan laju pertumbuhan dan ukuran tubuh. Malah tidak jarang terjadi perkawinan silang antara nila dan mujair sehingga keturunan berikutnya memiliki kualitas genetis yang tidak menguntungkan.
2. Nila Gift
Nila gift (genetic improvement of farmed tilopias) merupakan hasil persilangan dan seleksi jenis-jenis nila dari Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal, dan Kenya. jenis ini dikembangkan pertama kali oleh International Center for Living Aquatic Research Management (ICLARM) di Filipina pada tahun 1987. Program tersebut dibiayai oleh Asian Development Bank (ADB) dan United Nations Development Programme (UNDP).
Nila gift didatangkan ke Indonesia pada tahun 1994 melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) yang merupakan salah satu anggota. International Network for Genetic in Aquaculture (INCA). Nila gift yang pertama kali didatangkan ke Indonesia tersebut merupakan generasi keempat. Setelah itu, didatangkan lagi nila gift berikutnya yang berasal dari generasi keenam pada tahun 1997.
Sepintas, sosok nila Gift dan nila lokal agak sulit dibedakan, terutama ketika masih dalam stadium benih. Perbedaannya hanya bisa diketahui dari bentuk proporsi dan warna tubuh. Tubuh nila gift lebih pendek
dengan perbandingan panjang dan tinggi 2 : I, sedangkan perbandingan panjang dan tinggi tubuh nila lokal 2,5 : 1. Dari segi tinggi dan lebar tubuh, nila gift tampak lebih tebal dengan perbandingan 4 : 1 dan nila local tampak lebih tipis dengan perbandingan 3: 1. Sementara itu, ukuran kepala nila gift relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran kepala nila lokal. Namun ukuran mata nila gift cukup besar jika dibandingkan dengan
ukuran mata nila lokal. Ciri lain yang membedakan antara nila gift dan nila lokal adalah warna tubuh. Warna tubuh nila gift hitam keputihan dan bagian bawah tutup insangnya berwarna putih, sedangkan nila lokal
berwarna putih. Sementara kehitaman dan ada yang berwarna kuning.
jika dibandingkan dengan nila lokal, nila gift memiliki beberapa
Berat komparatif sebagai berikut.
- Jumlah telurnya lebih banyak 20-30%
- Berat benihnya mencapai 17,5 gram dan pertumbuhannya lebih cepat 300-400%.
- Pertumbuhan saat pembesaran lebih cepat 100-200% dengan konversi pakan rendah, yaitu berkisar 0,8-1,2.
- tahan terhadap lingkungan yang kurang baik dan memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15%0, sehingga bisa dipelihara di perairan payau.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008
Ada banyak jenis nila. Sebagian besar banyak ditemukan di perairan timur Afrika dan sebagian lain tersebar di berbagai negara. Dari berbagai jenis nila yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan nila yang produktif dan banyak dibudidayakan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis nila tersebut adalah nila lokal, nila gift, dan nila merah. Jenis lain yang tergolong nila varietas baru adalah nilaTA. Berikut ini pemaparan lengkap berbagai jenis nila.
I. Nila Biasa (Lokal)
Nila biasa merupakan jenis nila yang pertama Kali didatangkan dari Taiwan ke Indonesia. Setelah melalui serangkaian uji coba nila ini disebarluaskan ke masyarakat dan dalam waktu singkat sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air.
Begitu akrabnya masyarakat kita dengan nila jenis ini, tidak mengherankan jika ada yang menyebutnya dengan nama nila lokal. jenis nila inilah yang pertama kali disebut sebagai "nila" dan namanya ditetapkan oleh Direktur jenderal Perikanan pada tahun 1972 julukan sebagai nila biasa atau lokal ditujukan untuk membedakannya dengan jenis nila merah dan nila gift yang merupakan pendatang baru.
Nila lokal memiliki warna tubuh abu-abu atau hitam, terutama di tubuh bagian atas.Tubuh bagian bawah (perut dan dada) berwarna agak putih kehitaman atau kekuningan. AwaInya, nila lokal memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik, tetapi akhir-akhir ini kualitasnya menurun akibat keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam mengendalikan potensi genetisnya Akibatnya, kualitas genetis keturunannya pun ikut menurun. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan laju pertumbuhan dan ukuran tubuh. Malah tidak jarang terjadi perkawinan silang antara nila dan mujair sehingga keturunan berikutnya memiliki kualitas genetis yang tidak menguntungkan.
2. Nila Gift
Nila gift (genetic improvement of farmed tilopias) merupakan hasil persilangan dan seleksi jenis-jenis nila dari Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal, dan Kenya. jenis ini dikembangkan pertama kali oleh International Center for Living Aquatic Research Management (ICLARM) di Filipina pada tahun 1987. Program tersebut dibiayai oleh Asian Development Bank (ADB) dan United Nations Development Programme (UNDP).
Nila gift didatangkan ke Indonesia pada tahun 1994 melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) yang merupakan salah satu anggota. International Network for Genetic in Aquaculture (INCA). Nila gift yang pertama kali didatangkan ke Indonesia tersebut merupakan generasi keempat. Setelah itu, didatangkan lagi nila gift berikutnya yang berasal dari generasi keenam pada tahun 1997.
Sepintas, sosok nila Gift dan nila lokal agak sulit dibedakan, terutama ketika masih dalam stadium benih. Perbedaannya hanya bisa diketahui dari bentuk proporsi dan warna tubuh. Tubuh nila gift lebih pendek
dengan perbandingan panjang dan tinggi 2 : I, sedangkan perbandingan panjang dan tinggi tubuh nila lokal 2,5 : 1. Dari segi tinggi dan lebar tubuh, nila gift tampak lebih tebal dengan perbandingan 4 : 1 dan nila local tampak lebih tipis dengan perbandingan 3: 1. Sementara itu, ukuran kepala nila gift relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran kepala nila lokal. Namun ukuran mata nila gift cukup besar jika dibandingkan dengan
ukuran mata nila lokal. Ciri lain yang membedakan antara nila gift dan nila lokal adalah warna tubuh. Warna tubuh nila gift hitam keputihan dan bagian bawah tutup insangnya berwarna putih, sedangkan nila lokal
berwarna putih. Sementara kehitaman dan ada yang berwarna kuning.
jika dibandingkan dengan nila lokal, nila gift memiliki beberapa
Berat komparatif sebagai berikut.
- Jumlah telurnya lebih banyak 20-30%
- Berat benihnya mencapai 17,5 gram dan pertumbuhannya lebih cepat 300-400%.
- Pertumbuhan saat pembesaran lebih cepat 100-200% dengan konversi pakan rendah, yaitu berkisar 0,8-1,2.
- tahan terhadap lingkungan yang kurang baik dan memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15%0, sehingga bisa dipelihara di perairan payau.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008
Kebiasaan Makan dan Laju Pertumbuhan ikan Nila
Kebiasaan Makan dan Laju Pertumbuhan ikan Nila
Nila tergolong ikan pemakan segala (omnivora) sehingga bisa mengonsumsi pakan berupa hewan atau tumbuhan. Karena itu, ikan ini sangat mudah dibudidayakan. Ketika masih benih, pakan yang disukainya adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp.,
Atau Daphnia sp. Selain itu benih nila juga memakan alga atau lumut yang menempel di bebatuan yang ada di habitat hidupnya. Ketika dibudidayakan, nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan ini bisa diberi berbagai pakan tambahan seperti pelet.
Laju pertumbuhan tubuh nila yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan dan interaksinya. Sebagai contoh,
Curah hujan yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman air dan secara tidak langsung akan memengaruhi pertumbuhan nila yang dipelihara . Berdasarkan hasil penelitian, diketahui laju pertumbuhan nila lebih cepat jika dipelihara di kolam yang airnya dangkal dibandingkan dengan kolam yang airnya dalam. Penyebabnya adalah pertumbuhan tanaman air sangat cepat di perairan yang dangkal, sehingga nila mendapatkan pasokan pakan yang cukup.
Selain itu, laju pertumbuhan nila di kolam yang dipupuk dengan pupuk organik misalnya kotoran ternak juga. lebih cepat dibandingkan dengan nila yang dipelihara di kolam yang dipupuk dengan pupuk anorganik (pupuk buatan).
perlu diketahui juga, laju pertumbuhan nila jantan lebih cepat 40% dibandingkan dengan laju nila betina.Terlebih lagi jika dipelihara secara kelamin tunggal (monosex). jika sudah mencapai ukuran 200 gram, pertumbuhan nila menjadi semakin lambat. Namun, hal ini hanya terjadi pada nila betina, sedangkan nila jantan akan tetap tumbuh pesat.
Sumber : Khairul Amri, S.pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008
Nila tergolong ikan pemakan segala (omnivora) sehingga bisa mengonsumsi pakan berupa hewan atau tumbuhan. Karena itu, ikan ini sangat mudah dibudidayakan. Ketika masih benih, pakan yang disukainya adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp.,
Atau Daphnia sp. Selain itu benih nila juga memakan alga atau lumut yang menempel di bebatuan yang ada di habitat hidupnya. Ketika dibudidayakan, nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan ini bisa diberi berbagai pakan tambahan seperti pelet.
Laju pertumbuhan tubuh nila yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan dan interaksinya. Sebagai contoh,
Curah hujan yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman air dan secara tidak langsung akan memengaruhi pertumbuhan nila yang dipelihara . Berdasarkan hasil penelitian, diketahui laju pertumbuhan nila lebih cepat jika dipelihara di kolam yang airnya dangkal dibandingkan dengan kolam yang airnya dalam. Penyebabnya adalah pertumbuhan tanaman air sangat cepat di perairan yang dangkal, sehingga nila mendapatkan pasokan pakan yang cukup.
Selain itu, laju pertumbuhan nila di kolam yang dipupuk dengan pupuk organik misalnya kotoran ternak juga. lebih cepat dibandingkan dengan nila yang dipelihara di kolam yang dipupuk dengan pupuk anorganik (pupuk buatan).
perlu diketahui juga, laju pertumbuhan nila jantan lebih cepat 40% dibandingkan dengan laju nila betina.Terlebih lagi jika dipelihara secara kelamin tunggal (monosex). jika sudah mencapai ukuran 200 gram, pertumbuhan nila menjadi semakin lambat. Namun, hal ini hanya terjadi pada nila betina, sedangkan nila jantan akan tetap tumbuh pesat.
Sumber : Khairul Amri, S.pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008
Perkembangbiakan ikan nila
Perkembangbiakan ikan nila
Secara alami, nila memijah sepanjang tahun di perairan di daerah tropic. Frekuensi pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Di alamnya nila dapat memijah 6-7 kali dalam setahun. Ikan ini mencapai stadium dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot sekitar 250 gram. Masa pemijahan produktif adalah ketika induk berumur 1,5-2 tahun dengan bobot di atas 500 gram per ekor. Seekor nila betina dengan berat sekitar 800 gram menghasilkan larva sebanyak 1.200-1.500 ekor setiap Kali memijah.
Sebelum memijah, nila jantan selalu membuat sarang berupa Iekukan berbentuk bulat di dasar perairan yang diameternya sama dengan ukurannya. Sarang ini merupakan daerah teritorial nila jantan yang nantinya digunakan sebagai lokasi pemijahan dan pembuahan telur. Pada masa birahi, warna nila jantan akan berubah menjadi cerah dan sifatnya menjadi sangat agresif menjaga daerah teritorialnya.
Proses pemijahan nila berlangsung sangat cepat. Dalam waktu 50-60 detik sepasang nila yang memijah mampu menghasilkan 20-40 butir telur yang telah dibuahi. Pemijahan akan terjadi beberapa kali dengan pasangan yang sama atau berbeda selama 20-60 menit. Telur nila berdiameter 2,8 mm, berwarna abu-abu atau kadang-kadang kuning, tidak lengket, dan tenggelam di dasar perairan. Telur-telur yang telah dibuahi dierami di dalam mulut induk betina dan akan menetas dalam waktu 4-5 hari. Telur yang sudah menetas disebut larva, panjangnya 4-5 mm. Larva yang baru menetas diasuh oleh induk betina hingga umur 11 hari (ukuran 8 mm). Benih-benih yang sudah tidak diasuh oleh induknya akan berenang secara bergerombol di bagian perairan yang dangkal atau di pinggir kolam.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P.Agromedia Pustaka,2008
Secara alami, nila memijah sepanjang tahun di perairan di daerah tropic. Frekuensi pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Di alamnya nila dapat memijah 6-7 kali dalam setahun. Ikan ini mencapai stadium dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot sekitar 250 gram. Masa pemijahan produktif adalah ketika induk berumur 1,5-2 tahun dengan bobot di atas 500 gram per ekor. Seekor nila betina dengan berat sekitar 800 gram menghasilkan larva sebanyak 1.200-1.500 ekor setiap Kali memijah.
Sebelum memijah, nila jantan selalu membuat sarang berupa Iekukan berbentuk bulat di dasar perairan yang diameternya sama dengan ukurannya. Sarang ini merupakan daerah teritorial nila jantan yang nantinya digunakan sebagai lokasi pemijahan dan pembuahan telur. Pada masa birahi, warna nila jantan akan berubah menjadi cerah dan sifatnya menjadi sangat agresif menjaga daerah teritorialnya.
Proses pemijahan nila berlangsung sangat cepat. Dalam waktu 50-60 detik sepasang nila yang memijah mampu menghasilkan 20-40 butir telur yang telah dibuahi. Pemijahan akan terjadi beberapa kali dengan pasangan yang sama atau berbeda selama 20-60 menit. Telur nila berdiameter 2,8 mm, berwarna abu-abu atau kadang-kadang kuning, tidak lengket, dan tenggelam di dasar perairan. Telur-telur yang telah dibuahi dierami di dalam mulut induk betina dan akan menetas dalam waktu 4-5 hari. Telur yang sudah menetas disebut larva, panjangnya 4-5 mm. Larva yang baru menetas diasuh oleh induk betina hingga umur 11 hari (ukuran 8 mm). Benih-benih yang sudah tidak diasuh oleh induknya akan berenang secara bergerombol di bagian perairan yang dangkal atau di pinggir kolam.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P.Agromedia Pustaka,2008
Langganan:
Postingan (Atom)