CLERET GOMBEL SI CICAK TERBANG

Di desaku dulu ketika masih rimbun oleh pepohonan selain terdengar kicauan berbagai jenis burung juga sering dijumpai si cicak terbang alias Cleret Gombel. Reptile ini dikenal dengan nama ilmiah Draco volans Linnaeus, 1758. Nama lokalnya di antaranya adalah cekibar (Betawi), hap-hap (Sunda), dan celeret gombel atau klarap (Jawa). Dalam bahasa Inggris disebut gliding lizards atau flying dragon.

Hewan ini menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau, Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur. Disebut Cicak terbang karena ukurannya hanya sedikit lebih besar daripada cicak, walaupun kalau kita amati lebih mirip dengan Bunglon karena kulitnya terlihat kasar dan bergaris-garis hanya saja postur tubuhnya lebih kecil dibanding dengan Bunglon.

Reptil ini kelihatan aktif berburu serangga maupun mencari pasangannya ketika bersamaan matahari mulai beranjak naik yaitu sekitar jam 10.00 pagi. Kantong dagu (seperti gombel/kain) yang berwarna kuning atau biru cerah sering sesekali terlihat memanjang ke depan (Celeret). Mungkin kebiasaan unik menarik dan menjulurkan kantong dagu dengan gerakan cepat yang istilah Jawanya Celeret/Cleret inilah yang kemudian jadi nama unik hewan ini, selain disebut sebagai si Cicak Terbang. Walaupun kalau kita amati sebetulnya reptil ini tidak betul-betul terbang melainkan meluncur layaknya gantole dari pohon ke pohon. Cleret Gombel yang akan meluncur pindah ke pohon lain biasanya dia akan memanjat ke dahan-dahan yang lebih tinggi kemudian melompat sambil mengembangkan sayap yang berupa kulit di sekitar perut dan dada.

Klasifikasi ilmiah

Filum: Chordates
Upafilum:Vertebrata
Kelas:Reptilia
Ordo:Squamata
Upaordo:Sauria
Superfamili:Acrodonta
Famili:Agamidae
Upafamili:Draconinae

Genus:Draco
Spesies:D. volans
Nama binomial Draco volans


Cleret Gombel ini belum termasuk reptile yang dilindungi, akan tetapi di desa-desa perbatasan dengan kota Yogyakarta sudah sulit menemukan Cicak Terbang ini. Berbeda dengan Cicak yang masih dapat bertahan hidup dengan merayapi tembok-tembok rumah, sedangkan Cicak Terbang hanya menyukai pepohonan tinggi yang saat ini di desa-desa pun juga jarang ditemui.

Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama. Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan moncong.

Ciri-ciri

Kadal yang berukuran agak kecil, panjang total hingga 200 mm. Patagium (‘sayap’) berupa perpanjangan enam pasang tulang rusuk yang diliputi kulit. Sisi atas patagium dengan warna kuning hingga jingga, berbercak hitam. Sisi bawah abu-abu kekuningan, dengan totol-totol hitam.

Kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkerinyut seperti kakek-kakek; dengan kantung dagu berwarna kuning (jantan) atau biru cerah (betina), dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher. Rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mata khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol. Binatang ini memiliki ekor sekitar 1½ kali panjang tubuh; berbelang-belang di ujung, dengan sisik-sisik yang berlunas kuat menjadikannya nampak bersegi-segi.